folder Filed in IM+ESP
Surat Buat Mereka Yang Ragu
Edward Suhadi comment 0 Comments

Due to the nature of this post, I am writing it with the Indonesian language.

Saya dengar bahwa Indonesia Mengajar sedang membuka pendaftaran untuk Angkatan III mereka.

Mungkin teman-teman sudah membaca semua cerita tentang kepergian saya, Henry dan Handry dari Edward Suhadi Productions yang pergi ke tiga pelosok desa di Indonesia untuk bertemu sebagian Pengajar Muda Angkatan I.

Dari waktu saya yang sebentar itu, berada di lini depan dari gerakan ini, melihat dan mencium langsung hal-hal yang yang sedang dikerjakan oleh sepuluh pemuda dan pemudi di Halmahera Selatan, saya mempunyai sebuah saran untuk teman-teman yang berminat untuk bergabung:

Pergi.

Isi formulirnya dan jangan ragu lagi.

Jikalau semua syarat yang mereka berikan kamu penuhi dan jikalau saat ini kepergianmu bukan alasan untuk melepas tanggung-jawabmu, kamu harus pergi.

Dengan mata saya sendiri saya melihat anak-anak yang tadinya tidak bisa membaca, sekarang sudah bisa menulis dan berhitung.

Saya melihat bagaimana anak-anak yang tadinya tidak perduli akan pendidikan, berlomba-lomba mengacungkan jarinya untuk menjawab soal.

Saya melihat mata-mata berbinar saat mereka melihat Pengajar Muda mengajarkan mereka tentang nilai-nilai kehidupan. Takwa. Kejujuran. Kerja keras.

Saya melihat kepala-kepala terisi angan ketika anak-anak diajar untuk bermimpi. Melihat hati yang bergetar ketika mereka diajar untuk berkata, “Saya tida’ bodoh. Saya bisa. Saya mampu.”

Saya melihat Pengajar-Pengajar Muda yang belajar untuk hidup setahun penuh dengan komitmen: “Mereka anak-anak saya. Mereka harus bisa.”

Saya melihat kasur keras, udara panas, nyamuk dan kamar tidur yang lembab tidak bisa mengalahkan senyum seorang anak yang dengan benar menjawab berapa tujuh kali dua belas.

Saya melihat desa-desa yang kembali hidup, karena ada pemuda-pemuda yang membawa begitu banyak perubahan begitu mereka menjejakkan kaki di pulau itu.

Saya melihat pejuang-pejuang. Baik sebagai pejuang martabatnya sendiri untuk bisa memenuhi janjinya selama setahun, maupun pejuang bangsa, yang hatinya membara untuk perubahan bagi Indonesia.

Mereka tidak jalan-jalan ke Australia atau Eropa, melainkan ke Toro Subang dan Pelita. Dengan papan tulis dan bahan fotokopian, tekun mengajar setiap pagi, setiap sore, setiap malam.

Kalian tidak akan menyesal. Percaya saya. Jikalau saya tidak punya komitmen apa-apa saat ini, mungkin saya, seperti Anda, akan cukup gila untuk memberikan setahun hidup saya untuk bangsa ini.

Tapi budi itu seperti energi. Mereka tidak akan bisa punah. Apa yang kalian tabur, itu juga yang akan kalian tuai. Dengan mengajar kalian sendiri akan belajar.

Belajar lebih cinta bangsa ini.

Belajar untuk hidup bukan hanya untuk diri sendiri.

Belajar menempuh jalan yang tidak pasti.

Belajar diam.

Belajar mengerti.

Belajar mengambil keputusan.

Belajar memimpin.

Belajar jujur, terutama pada diri sendiri.

Belajar berserah.

Belajar menjadi orang yang bukan hanya berbicara, tapi melepas sepatunya, menggulung celana dan lengan bajunya dan mulai bekerja.

Setelah setahun, kalian pulang bukan saja sudah menabur begitu banyak benih di sana, tapi kalian juga pulang membawa benih-benih yang siap tumbuh di kehidupan kalian.

Pak Anies mengatakannya dengan baik sekali di suratnya:

Kesempatan untuk setahun mengajar, seumur hidup menginspirasi anak bangsa. Setahun menempa diri, seumur hidup memancarkan gelora kepemimpinan.

Pergi. Isi formulir itu.

Pengajar Muda Adi Nugroho berjalan ke tempat les sore sambil ditemani murid-muridnya di desa Bibinoi, Halmahera Selatan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment