Saya sedang senang sekali dengan lagu “50 Tahun Lagi” – yang dibawakan oleh Warna.

Yang membuat lagu ini bercokol di hati saya adalah karena istimewanya saat saya mendengar lagu ini pertama kali.

Beberapa bulan kemarin, Ibu saya mengadakan perayaan sederhana memperingati ulang tahunnya yang juga adalah ulang tahun kelompok remaja Gereja yang didirikannya.

Di salah satu mata acaranya, pasangan-pasangan suami istri yang bertemu di kelompok ini saat mereka remaja, dan yang saat ini sudah berumur lebih dari 40 tahun, menari berpasangan di atas panggung mengikuti lagu ini.

Seperti kalian bisa bayangkan, mereka-mereka yang udah menikah 15 tahunan dengan 2-3 anak, meliuk-liukkan badan-badan pasca kehamilan dengan hentakan-hentakan irama yang harusnya cocok untuk anak-anak remaja.

Pemandangannya cukup berantakan.

Ada pasangan yang semangat tapi salah, ada pasangan yang menari dan tertawa lebih banyak tertawanya, ada pasangan yang sering sekali lupa dan mereka hanya bergoyang-goyang seenaknya.

Namun yang menyentuh hati saya: di depan saya ini adalah pasangan-pasangan suami istri yang hidup dengan ‘cinta’ yang sesungguhnya.

Bukan cinta yang dibuat untuk video klip, dengan make up dan lighting, diedit dengan seksama, dinyanyikan dan ditarikan oleh mereka yang cukup sempurna sehingga bisa tampil di layar kaca.

Saya sangat mengenal mereka-mereka yang menari, dan mereka-mereka adalah pasangan-pasangan yang mengalami kas rumah yang kosong, suami yang dipecat dan istri yang keguguran.

Mereka yang membesarkan anak-anak yang sulit, mereka yang merawat penyakit kronis yang diderita pasangannya.

Mereka yang sering mengalami perkelahian dengan keluarga mertua, ketidak-cocokan dengan ipar-ipar, dan mereka yang sering dirundung kebosanan atas rutinitas berumah-tangga.

Mereka yang bukan materi kontestan Mister L-Men dan Miss Universe, menari dan tertawa dan berusaha sebaik mungkin untuk tidak mengecewakan para penontonnya, sesekali mencuri pandang mata pasangannya, sambil bergoyang dan menyanyikan:

“Sekarang atau lima puluh tahun lagi, ku masih akan tetap mencintaimu. Tak ada bedanya rasa cintaku, masih sama seperti pertama bertemu.”

That’s what caught my heart.

Mudah mengucapkan kata-kata ini ketika sedang terlilit cinta dan dimabuk kepayang di saat-saat pacaran dan awal-awal pernikahan.

Namun mereka-mereka yang di panggung itu tahu arti komitmen dan pengorbanan, cinta yang sehakikinya, dan tangis serta tawa yang sesungguhnya.

Saya akhirnya sangat suka dengan lagu ini karena saya tahu, bahwa mereka-mereka ini yang sulit berucap gombal, menggunakan lagu ini untuk berbicara dengan pasangannya bahwa:

“Sekarang atau lima puluh tahun lagi, ku masih akan tetap di sini. Mengurus kamu. Mendidik anak-anak kita. Berhemat bersama ketika duit sedang susah, tertawa bersama ketika kita sedang berlibur ke luar negeri.

Sekarang atau lima puluh tahun lagi, aku masih akan menungguimu berdandan dan aku akan masih mencoba mengerti off-side itu artinya apa.

Sekarang atau lima puluh tahun lagi, aku masih akan terbaring di sebelah kamu di ranjang tua kita. Jika kamu bangun kamu masih bisa memeluk aku dan kita akan masih berdoa pagi bersama.

Sekarang atau lima puluh tahun lagi, jika kamu sakit aku tidak akan kemana-mana. Aku akan merawat kamu. Aku akan menyuapi kamu makan dan aku akan bersihkan kotoran kamu.

Jika anak-anak sudah menikah dan meninggalkan kita, sekarang atau lima puluh tahun lagi, kita akan berdua, bersama-sama berjalan tertatih perlahan, menggenggam tangan yang kugegenggam erat saat kita pacaran sambil berlarian dulu.

Baik sekarang, baik lima puluh tahun lagi, aku masih akan tetap mencintaimu.”

Karena cinta yang sesungguhnya baru akan teruji oleh waktu dan cobaan, hanya mereka yang sudah diuji oleh waktu dan cobaan, yang sesungguhnya pantas mengucapkan lirik lagu ini.

Karena yang lebih indah dari cinta adalah komitmen, karena hanya dengan komitmen kita bisa menunggu lima puluh tahun lagi, ketika cinta yang sesungguhnya itu akhirnya tiba.

Terima kasih kakak-kakak yang sudah menari di hari itu. Saya tidak akan pernah lupa 🙂

Edward

PS: Saya juga ternyata berkesempatan menari berpasangan dengan Francy istri saya di pernikahan kawan kami Evy minggu lalu 🙂 Sekarang atau lima puluh tahun lagi Francy 🙂

Menikmati tulisan ini? Dengan berlangganan, kamu akan dapat notifikasi jika ada tulisan-tulisan baru.

3 thoughts on “50 Tahun Lagi

  1. Thank you my love.
    For me:
    Marriage couple should work on how to spark the love on their eyes,
    fill the home with smiles and laughters,
    respect and support each other,
    and if he/she has to criticize, try to criticize with love in order to make his/her spouse to be a better person.

    There’s none perfect husband or wife out there.
    All you have to do is to work on your marriage life to be as perfect as you want it to be.

    Love you too Edward

  2. What a verrry touching thought. love reading it.
    Happy anniversary ko.Edward Suhadi and Francy! you both are such an inspiration.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *