7years

Saya dan Francy menikah 14 April 2007. Hari ini genap tujuh tahun kami menjadi suami-istri. Anak? Belum ada 🙂

Pada awalnya, sama seperti sebagian besar pasangan muda: kami memutuskan untuk belum memikirkan memiliki anak. “Satu atau dua tahun dulu puas-puasin jalan-jalan, baru punya anak.”

Kebablasan? Mungkin juga.

Kebablasan atau tidak, saya bersyukur kami tidak terlalu cepat memiliki anak, karena kami jadi memiliki waktu dan kesempatan untuk berpikir. We’ll have kids for the right reasons, not because everyone is having kids. Banyak teman-teman kami tidak mempunyai kesempatan itu.

Ijinkan saya meminta teman-teman untuk berpikiran terbuka sejenak, membaca sampai tulisan ini sampai selesai dan tidak tersinggung dengan gagasan-gagasan berikut:

Saya suka sekali quote Elizabeth Gilbert, di bukunya Eat, Pray, Love di halaman-halaman awal: “Having children is like having a tatoo on your forehead: you have to know why you’re going to do it.”

Kenapa saya suka kutipan ini? Karena menurut saya pilihan-pilihan hidup harus dipilih karena suatu alasan yang sudah dipikirkan, bukan hanya karena semua orang yang kita kenal melakukannya. Seumur hidup saya, saya melatih diri untuk melihat ke arah yang kebalikan dari kemana kerumunan pergi. Saya dan Francy sudah biasa berbeda dari kebanyakan orang, sehingga pertanyaan-pertanyaan kerabat, “Kamu kapan?” itu sudah sangat tidak mempan untuk memurungkan kami 🙂

Dalam hati kecil saya saya hanya bertanya, ‘Apakah teman-teman yang hamil ini benar sudah tahu alasan mereka memiliki anak?” Buat banyak teman yang saya tahu, mereka sangat siap dan siap dan tahu betul alasan mereka memilih untuk menggendong bayi. Tapi sayangnya buat lebih banyak lagi teman saya, mereka mempunyai anak hanya karena alasan tadi: semua orang juga sudah mempunyai anak.

Bukankah banyak dari kita mau mempunyai anak karena ‘kita’ yang mau bahagia? Walaupun sebegitu besarnya cinta kita kepada anak kita, bukankah alasan kita mengandung dia adalah karena ‘kita’ yang menginginkannya, dan bukan keinginan anak tersebut?

Saya sering berpikir, di luar sakitnya kata-kata tajam yang mengiris hati, teriakan anak muda yang frustasi dalam pertengkaran dengan orang tuanya “Aku ga pernah minta dilahirkan!” – mempunyai kebenaran di dalamnya?

Inilah sebabnya menurut saya bahwa alasan terbaik untuk memiliki anak adalah bukan karena kita mau punya ‘mainan’ – seperti banyak disebut tante-tante kita. Atau juga karena semua tetangga sudah punya mainan, masa kita ga ada mainan? Semua sudah pakai iPhone, masa aku masih pake merk cina?

Jikalau kita mau mempunyai anak karena kita mau ada yang bisa diajak main setiap kita pulang kerja, ada anak yang bisa kita pakai-pakaikan baju, ada teman ketika kita kesepian, supaya kita ada mainan, hm…

Buat kami, alasan terbaik untuk mempunyai anak, adalah karena kita mau meneruskan legacy kita, meneruskan warisan kita untuk dunia ini kepada anak-anak kita, sehingga dunia ini bisa menjadi lebih baik dengan hadirnya mereka.

Memiliki anak adalah sebuah tanggung jawab yang amat sangat besar: Kita di sini bukan beli mainan pelipur lara.

Kita melahirkan seorang manusia ke dunia, dan sebaiknya kita membesarkan dia dengan mengetahui persis kenapa dia dilahirkan dan apa kebaikan yang akan dia bawa di dunia ini.

Bolehkah kita lihat bahwa tindakan memiliki anak namun tidak mempersiapkannya dengan sebaik yang kita bisa adalah sebuah tindakan yang amat egois? Setelah lucu-lucu nanti kamu silahkan hidup susah selama 70 tahun dan rugikan dunia dengan kehadiranmu? Pernahkan kita berpikir sejauh itu untuk si kecil lucu yang ada di pelukan kita ini?

Saya juga mau menambahkan satu hal lagi: Mereka yang tidak punya anak tidak selalu tidak bahagia. Kami sudah menikah selama tujuh tahun dan pengalaman kami sejauh ini luar-luar-luar biasa. One of the best rides that people could have in their lifetime. Kami sampai di puncak-puncak tertinggi dan laut-laut terdalam. Kami sampai di hotel-hotel termewah dan pelosok-pelosok paling sederhana. Kami bertemu ratusan sosok yang menginspirasi dan membakar hati kami. Kami menulis ribuan cerita buat anak cucu kami nanti. Satu gudang besar penuh dengan pengalaman-pengalaman yang saya rasa tidak bisa kami alami dengan hadirnya seorang anak. Apakah kami selama ini sungguh bahagia? Sungguh. Betul. Kami tidak mau tukarkan tujuh tahun ini dengan apapun juga.

Benar bahwa mungkin naluri menikah dan mempunyai anak akan selalu mengetuk pintu hati, I cannot argue with that. Hanya saja sampai saat itu tiba, banyak orang betul-betul bahagia dengan cara-cara mereka sendiri. Hormati itu. Dan saya yakin buat mereka yang pada akhirnya hidup sendiri dan tidak memiliki anak pun, banyak dari mereka bisa mempunyai bahagia mereka sendiri.

Mungkin banyak yang akan berkata: “Kamu ini repot bener Ward. Pokoknya punya anak itu bahagia yang tak tergantikan, lebih dari semua perasaan yang kamu pernah punya.”

Saya tidak pernah ragu sedikitpun akan hal itu. Saya yakin bahwa nanti ketika si kecil hadir, saya juga akan berbaring di sebelah dia dan melihat dia tidur dan posting foto Instagram 1000 kali sehari dan lebih memilih di rumah bersama dia daripada berkeliling dunia. Saya tidak pernah ragu bahwa saya dan Francy akan luar-biasa bahagia. Di sini kami hanya ingin menambahkan kebahagiaan kami dengan arti dan tanggung-jawab.

Ketika waktunya tiba nanti, saya dan Francy akan mempunyai anak tidak untuk menjadi mainan untuk diri kita sendiri, tetapi untuk mempunyai seseorang yang akan meneruskan hal-hal baik apa yang kita sudah pelajari dan dapatkan selama kita hidup di dunia ini, dan seseorang yang berguna dan menjadi inspirasi untuk dunia dan orang-orang di sekitarnya.

Semoga tulisan ini bisa menambahkan wawasan buat teman-teman semua. Find happiness that is also unselfish and meaningful.

Happy anniversary Francy. Tujuh tahun petualangan. Mungkin saatnya petualangan babak baru.

Tahun ini? *senyum penuh arti*

Menikmati tulisan ini? Dengan berlangganan, kamu akan dapat notifikasi jika ada tulisan-tulisan baru.

121 thoughts on “Menikah Tujuh Tahun Tanpa Anak

  1. Semoga aja ntar pas beneran mau punya anak, dikasi.. Kan lucu udah keren2 punya teori menakjubkan soal tanggungjawab gini ternyata ga dapet anak buat prakteknya..

        1. Gampang dong. Mencurahkan cinta kasih tidak perlu kepada anak hasil bikinan sendiri. Gw sih udah fleksibel dan bebas, ga terkungkung pola pikir org Asia yg rata-rata masih kolot.

  2. kebahagiaan yang bertanggung jawab …
    tulisan yang menginspirasi. terima kasih 🙂
    saya pun sudah menikah 3 tahun dan belum dikarunia anak.
    dan saya yakin bahwa jika tidak dipaksakan, maka segala sesuatunya akan hadir di waktu yang tepat, bukan tepat menurut kita, tapi tepat menurutNya …

  3. thank you kak for the insightful writing 🙂
    kalau ‘kasus’ saya adalah tentang menikah, I don’t want to get married ‘just because’ many people do. makanya sekarang tetep nyante aja, kuping udah tebel ditanyain “kapan?” :)))
    happy anniversary!

    1. sama banget Mba..di kasus saya adalah menikah..dan saya pun udah kebel. banyak kok yg sudah menikah dan ternyata hidupnya jg ngeluh muluk 🙂

  4. Sebagai anak yg dilahirkan dari orang tua yg tidak siap memiliki anak sehingga saya di-abuse mentally & physically seumur hidup, saya terharu banget membaca tulisan ini. Karena semua hal yg tertulis disini adalah benar-sebenar benarnya. Punya anak itu bukan mainan yg bisa dibanting, diperlakukan seenaknya dan dibuang hanya karena sudah bosan atau frustasi dengan pasangan hidup atau saat stress di pekerjaan. Efek scar seumur hidup yg saya miliki adalah jadi tidak ingin punya anak juga karena merasa toh tidak pernah dicintai sebagai anak juga.
    Oleh karenanya saya sangat highly respect dengan orang yg menunda punya anak atau bahkan bisa bahagia dengan tidak memiliki anak. Toh kebahagiaan itu sumbernya dari pikiran kita sendiri kok. Jangan pernah menjadikan orang/hal lain sebagai sumber kebahagiaan kita, termasuk seorang anak.
    What a wonderful writing 🙂

  5. Tulisan yg menginspirasi kak,,saya sekarang sedang mengalami dilema soal anak terutama karena tekanan sosial di sekitar kami. Memang dari awalnya saya sudah menginginkan memiliki anak tanpa pernah menunda,tapi ternyata tidak semudah itu 🙂 saya memiliki masalah dengan hormon…but everything happens for the reason,,dan saya mencoba menguatkan hati untuk percaya bahwa ada rahasia Tuhan yang lebih indah kenapa hingga saat ini kami belum diberi kepercayaan memiliki anak di tahun ketiga pernikahan kami. Terimakasih sudah membagi cerita yg membantu meringankan hati saya…

  6. this is so beautiful ko, and so true indeed. Setuju dengan semua hal tersebut. buat apa bikin seorang manusia living a miserable 70 years of life, karena orang tuanya ga siap, dan ga ada sesuatu yang bisa diajarkan ke manusia itu

  7. Ya semua ada perspektif masing2, tetapi saya termasuk yang ga setuju dengan teori diatas. dan Anak absolute bukan mainan..saya yakin orang tua yg bener ga akan merasa
    seperti itu. mereka adalah malaikat kecil yang membuat kita menjadi orang tua sebenarnya,karena kalau ga punya anak bearti ga bisa dipanggil orang tua kan? hehehe

    Punya anak memang akan memasukan kita ke dalam fase paling tersulit dalam kehidupan rumah tangga..disana diperlukan pemikiran,kasih, waktu, tenaga, dan biaya…ga segampang yang orang pikir. tetapi alasan langsung punya anak setelah menikah juga sangat beralasan buat saya pribadi :

    1. Ada rekan kantor saya berumur 50 – 60++ masih sibuk bekerja dan kuliahin anaknya…, saya akan menjadi orang tua yg berumur 50++ yg sibuk keliling dunia.yang dimana anak saya sudah mandiri…,
    then, it happen juga oleh beberapa teman Ibu saya..yang dimana rencanannya hanya keliling dunia…dan anak2nya sudah sukses..bahkan dibayarkan oleh anaknya.
    ini pilihan hidup orang menikah yg berencana punya anak..mau capek sekarang?? apa nanti pas tua aja capeknya…

    2. Saya punya paman yang sempat dying..karena kecelakaan di kamar mandi dan kena benturan keras di otak, kebetulan beliau merrid terlambat..umur 40++, sekarang sudah meninggal, sekarang beliau meninggalkan istri dan 1 orang putri masih SMP. apa tugas paman saya terhadap anaknya sudah tuntas? jikalaupun saya harus menghadap kepada yg diatas, saya punya perspective bahwa tugas saya sudah selesai

    1. Agree. I had my first when I was 25 and my second when I was 27. I am happy with my choice. Since I know that it takes a WHOLE LOT of energy caring for young children. I am glad to have them when I did. Masih muda aja kerasa bgt capenya apa lg nanti udah tua. I am not judging the people who choose to wait or maybe don’t even have kids. I believe that God knows what is best for us and everything that happens is for our good.

    2. yeah right, usia memang tidak bisa di tunda dan waktu terus berjalan dan Anak itu anugrah, tapi hargai pilihan dan pendapat orang dalam perencanaan hidupnya.

  8. setujuuuu… tp hati2 jangan kelamaan, karena kata orang smakin tua punya anak smakin sulit dan kualitasnya udh ga sebagus wkt muda. Tp sy yakin ko Edward pasti optimis dan berpegng teguh pd Tuhan, sehingga tidak takut dan gentar.

  9. Aaaaah senang sekali membaca tulisan ini. Sama, sampai sekarang juga belum mendapatkan jawaban meyakinkan mengapa harus memiliki anak. Apa karena yang lain udah punya anak? Apakah untuk pembuktian? Kami hidup berdua bahagia, saya rasa bahagianya akan sama dengan ketika kami kelak (jika siap) punya anak.

    Urusan pendapat orang lain, biarkan saja. Karena kami yg menjalani, kami yg berbahagia, bukan mereka.

  10. Edward-Francy, pasangan yang berhasil adalah pasangan yang bahagia. Terlepas kalian dikaruniai anak/tidak, kalian telah berhasil 🙂 berhasil menebar manfaat, berhasil menjadi diri kalian masing2 yang terbaik, dan berhasil membuat kebaikan di dunia. So proud of you both. 🙂 yang paling penting adalah kekuatan pasangan. And God knows the right time to give you another challenges and responsibilities. Keep loving each other,,

  11. Setuju. Saya dan suami menikah sudah 6 tahun. Kami memutuskan untuk tidak punya anak. Buat apa? Legacy? Belum tentu, kalau anaknya selalu hidup. Kalau anaknya mati duluan? Buat saya dan suami, jika legacy yang kami cari, kami lebih baik mengajar. Maka ketika tersurat dalam kitab-kitab beragama bahwa manusia diciptakan berpasang-pasangan, bagi kami itu sudah cukup. Memang rejeki dan rencana manusia hanya Tuhan yang tahu, tapi kami juga menghormati betapa Tuhan menciptakan manusia lengkap dengan otak yang memiliki sensitivitas untuk berpikir. Maka kami pun berpikir. Tossss untuk Edward dan Francy! Hidup untuk manusia yang manusia bukan budak mitos 🙂

    1. Kenapa anda dilahirkan yah??? kasihan orang tua anda melahirkan anak yang selfish dengan dunianya sendiri.
      mudah-mudahan memang pasangan seperti anda tidak layak dapat keturunan, karena kasihan malaikat yg telah dititipkan kepada anda…orang tuanya terlalu selfish pada dirinya sendiri.

      1. Kenapa selfish ya bila I gin tidak punya anak? Apakah keinginan punya anak itu selfless? Pastinya tidak. Setiap orang memiliki dream yang berbeda. For some, children make them happy, for others, it might be something different, but it doesn’t mean they’re selfish

        1. Ya bahasanya memang ada konotasi negative..tapi bisa dipahami artinya sendiri dalam wiki

          http://id.wikipedia.org/wiki/Egoisme

          secara overall adalah tipe orang yg porsi banyak memikirkan diri sendiri. itu ga salah, tapi memang dipandang konotasi negative oleh masyarakat.

          jadi memang pasangan yang mau menjadi orang tua harus memiliki syarat sebagai orang yang altruisme ( unconditionally love)

          1. Emang altruisme cuma bisa ke anak ya? Sempit banget tu pikiran. Bukannya altruisme jg bisa ke orang tua? Ke kerabat? Ke ponakan? Ke murid? Ke masyarakat terdekat?Jawabannya tergantung sesinis apa tu pikiran, dan sepicik apa lo. Lo dirugiin apa sih sama org yg blom mau punya anak? Lo takut ada pergeseran kultur? Di dunia ini jg banyak orang tua yang selfish! Cuma mikirin karir sampe jarang di rumah, poligami, selingkuh, domestic violence ke anak. Jadi punya anak ga jaminan pasti selfless. Punya pandangan lain sih wajar aja, tp yang netral, ga usa menilai scr keras dan provokatif, kyk penilaian lo valid aja. Pendapat lo aja korelasinya aneh gt. Bangsa indo tu uda terlalu byk menganut shame-oriented daripada guilt-oriented. Lebih takut apa kata orang, sampe rela munafik demi diterima scr sosial. Hal yg saya salut dari penulis, dia apa adanya!

          2. Otak lo ga nyampe..yang gua maksud selfish = memikirkan diri sendiri, dan di wiki altruisme adalah orang yg berdedikasi kepada orang lain. jadi memang pasangan menikah yang terlalu banyak mikirin diri sendiri ..takut ini..takut itu..segala macam alasan ujung2nya adalah ga ga mau repot punya anak
            gua hanya mengingatkan kepada komen yang paling atas…kalau tipenya masih selfish dengan berbagai macam kepentingan sendiri, lebih baik memang agree 100% tidak perlu punya anak. karena itu bakal menjadikan tipe orang tua seperti yang lo ngemeng tuh : “Cuma mikirin karir sampe jarang di rumah, poligami, selingkuh, domestic violence ke anak”

          3. Otak ga nyampe? Ini buat lo kali!?
            Coba lo ngomong apa kaca deh… ga heran cuma punya otak segini…

          4. What? Lo ngomong: ‘Otak lo ga nyampe?’ Lo ngomong sama KACA?! Curcol lo?! Semua orang juga uda tau definisi selfish sama altruisme, kecuali lo ngeyakinin diri lo sendiri barusan? Pake referensi WIKI pula, referensi paper SMA bgt c lo! Siapa juga yang punya konklusi ‘ga mau repot punya anak’, pertimbangan tiap orang tu beda2, jangka waktu juga ada yang panjang ada yang pendek, yang jelas ga mikirin diri sendiri, tapi mikirin anak juga ke depannya, jangan sampe baby blues, jangan sampe anak putus sekolah. Ngerti silogisme dasar ga si lo? Belajar argumen yang bener dulu d. Ampas banget komentar lo! Tipe2 orang kayak lo tu yang kehidupan sosialnya cuma orangtua dan anak, and ga yakin bhw altruisme tu juga bisa dtg dari teman dan masyarakat sekitar. Lonely man!

          5. bro tampaknya si jali ini haters terlihat dari gaya bicara nya. dari gaya bicara nya juga terlihat belum dewasa dan merasa pendapat dia paling benar.
            kalau dia memutuskan punya anak daripada ga punya anak biarin aja bro. dia mau ngatain orang yg ga punya anak itu selfish biarin aja bro.
            dia juga belum tentu lebih sukses, lebih bahagia hidupnya dari orang yg ga punya anak.
            di social media aja dia ngomong nya kayak gini gimana ntar ngomong ama anaknya yah.

          6. Gue kasih referensi SMA karena dari komen u ga nyampe..dibanding gue cari referensi yg berat..kasian nak…tar lo mabok…anyway, bahasa u ga usah banci2 centil de ” Curcol..Curcol”…anka SMA ya lo see

      2. @Si Jali, kenapa lo dilahirkan ya? Kenapa lo berpikiran sempit? Emang lo pantes memberi penilaian seperti itu? Gw penasaran lo besarin anak lo seperti apa? Kasihan!

        1. Ya gua dilahirkan karena memang orang tua gua mencintai gua apa adanya dan tanpa syarat. mereka ga pernah berfikir gua adalah beban mereka di dunia ini.
          Yang pasti gua bakal besaran anak gua ga sesempit pikiran lo, cuma mikir hidup buat enaknya lo doang. gua akan ajari ke anak gua gimana seberapa besar cinta gua ke mereka Unconditionally love, ..jelas terjawab kan namanya penasaran lo?

          dan satu lagi gua ga nge judge jelek??? balik lagi pikiran lo cetek, gua hanya menjelaskan tipe sifat orang

          1. Halah, lo tuh cuma orang takut kesepian dan takut apa kata orang… cuma ikut2an… MAINSTREAM banget sih pikiran lo!

            Ga salah lo ngambil reference Wiki? Ga ada sumber lebih valid? Mau argumen cuma punya pendidikan SD/SMP ya susah, coba baca yang lain dulu baru belajar komen…

          2. Tenang saudara – saudara.. menurut ane semuanye bener aje. selama bisa dipertanggung jawabin dah.
            jali emang blak blak kan, jadi bikin gemez…tapi ada benernya..dari beberapa postingannya. @Jali asal ngomong lebih maniz dikit jadi maksud ente bisa dipahami ..jangan dibahas selfie selfie an dah…

          3. Btul om Jokowi, nih orang pada aneh….gua hanya ga sependapat..dengan quote paling atas yg posting
            ” memutuskan untuk tidak punya anak. Buat apa? Legacy? Belum tentu, kalau anaknya selalu hidup. Kalau anaknya mati duluan?”
            ya emang urusan mereka mau gemana2nye..cuma boleh dong gue komen, 1. apa sempet kepikiran ga..apa orang tuanya itung2an dulu sebelom ngelahirin dia??? ya kalo bisa kita ga boleh gitu…no good. ya emang lebih baik jangan punya anak deh..kasian anaknya tar..blom nongol aja gw udah diitung2…kalo mati duluan rugi…dan mereka ga tau BUAT APA?

          4. Gue pake wiki, biar orang se basic lo bisa ngerti dan faham..egois itu suatu pernyataan sikap dimana orang mementingkan diri sendiri…bukan egois dalam semua hal

            yg ikutan mainstream tu lo…gua berani untuk beda pendapat..bearti siapa yg mainstream?? ya u nak belajar arti kalimat juga yah..apa perlu gue cariin wikinya?

          5. Lo aja yang ke-GR-an dicintain tanpa syarat. Padahal mereka pingin lo pergi dari rumah. Masih nebeng ortu lo ya?? Ato masih nebeng mertua??

          6. Ya dong….kalo orang tua gw mengaharap balas budi / pengorbanan ke mereka. gua akan menjadi orang seperti lo, yang ga pernah bersyukur sama orang tua u

          7. Diliat dari kata2 lo kayany lo takut banget atas oenilaian orang, kliatan banget lo hanya nururtin apa kata orang supaya lo punya anak abis nikah tanpa perencanaan, hanya mengikuti apa kata orang dan inilah yang salah di masyarakat kita.

            mikir enaknya doank, jangan salah lo… coba mikir dulu kalo mau ngomong, dari semua reply yg lo respon udah liat kalo cara berpikir lo hanyalah tipe pekerja dengan karir mentok atau orang yg ga punya kegiatan apa2.

            ama satu lagi, kawaban lo diatas tuh jawaban template yg selalu gw denger dari orang yang punya pikiran sempit.

            udah ah capek omong ama orang pikiran sempit. susah tar dia bingung sendiri.

          8. Haha..lo yg cetek…gua bukan takut atas penilaian orang, tapi tipe orang kayak lo yg ga survive dalam perdebatan dan mempertahankan pendapat lo sendiri. terlalu dibawa arus.. apa yang aman buat lo, ya mengikuti arus…gua orang berani diffrent , berani berbeda..bukan tipe cengen kayak lo
            kalo lo bilang karir gue mentok..ga salah lo?? tipe kayak u yg cocok jadi kacung gua….hmmm..yes bos…..yes …sir…

      3. kalau kamu merasa diri kamu lebih hebat dan tidak lebih selfish dari orang2 yang memilih untuk tidak punya anak tidak sepantasnya juga kamu mengutuk ato nyumpahin orang laen tidak layak dapat keturunan. apa pantes kata2 ini dilontarkan dari mulut orang tua. justru saya kasihan ama anak2 kamu nanti dari kecil udah diajarin ngutuk / nyumpahin orang.

      4. Sok suci dan tukang menghakimi. Who are you to say siapa yang boleh dilahirkan dan siapa yang layak punya keturunan? Emang loe Tuhan?

      5. Iya apanya yg selfish ya ….
        Semua orang punya alasan memilih jalan hidup…
        Kadang tidak punya anak juga Karena alasan misal kesehatan ya ……Yang bahaya adalah mempunyai anak tapi akhirnya jadi penjahat, perampok, pembunuh DLL Karena orang Tua gak siap punya anak sehingga tidak mendidik anaknya dengan baik

  12. kak Edward, i couldn’t agree more with your writing. the reason i don’t wanna have kids is i wish i were not born. bunch of thanks for your inspiring blog! 🙂

  13. jalan tengahnya bisa adopsi anak. Tapi membaca tulisan ini seperti membaca masa depan dan pemikiran barat. Yang edward lawan adalah kultur dan kebenaran tradisional tentang arti anak.

  14. buat legacy kadang2 bikin saya berpikir, kalo si anak suata saat dewasa dan ngga berbagi philosophy yg sama dengan ortunya, apa cinta kasih kalian akan berhenti? Itu saja yg jadi pikiran saya waktu anda bilang, alasannya adalah untuk meneruskan legacy, memperbaik dunia dengan keberadaan mereka.

  15. Cun, kalo menurut gw sih 7 taon ga punya anak terlalu lama dan gw aminin kalo eloe and francy ingin merealisasikan tahun ini :-). Jangan sampai anak masih kecil, karena faktor umur tidak dapat menemani mereka bermain. Mungkin eloe bisa kurus karena jaga anak hehehe…. Kurus buat sehat ya cun bukan buat ganteng, percuma soalnya hehehe… Tapi gw suka tulisan eloe bahwa punya anak itu harus direncanakan supaya berkualitas dan berguna bagi keluarga dan dunia ini. Jadi pesan gw cuma satu, kalo bisa taon ini kenapa harus taon depan? Waktu berjalan terus cun :-). Dan… Kalo francy hamil, jangan takut gemuk, sikat aja semua makanan yg sehat2 ya, supaya anak eloe bisa lebih jenius dibanding babe and emaknye…

    Happy anniversary edward and francy…

    God bless both of you…

  16. Semua orang pasti punya perspektif masing2. Dari mata dokter, seharusnya untuk kehamilan pertama bagi wanita yang sehat adalah sebelum berumur 35 tahun. Tapi yah… miracle does happen… “sometimes”. Mungkin umur 50 juga bisa dengan sehat melahirkan anak pertama. Saya setuju dengan komen2 dibawah… kita jiga harus memikirkan umur produktif kita…

  17. Buat yang berencana punya anak..ada link bagus…mengenai arti kesempurnaan seorang ayah dan ibu
    https://www.facebook.com/photo.php?v=10151959014259035&set=vb.705344034&type=2&theater

    perspective masing-masing…kan???? dalam video tersebut saya melihat suatu hal yang indah…dari yang namanya pasangan suami istri. untuk perspective lain bagi yang pencinta diri sendiri adalah ..ngapain harus sakit2an dan serepot itu sih???

    it’s up to you dalam penilaian…ini referensi saja

  18. Hai Mas Edward..Salam kenal! Ijin urun rembug sedikit, yah..Sebab, tulisanmu sangat menarik bahkan cenderung kontroversial sehingga saya jadi ‘gatal’ ikutan torehkan komentar di kolom ini. Kenapa kontroversial? Karena dirimu sudah menyadari topik ini akan ditanggapi dengan pro dan kontra, bahkan akan ada yang bersifat tendensius. Makanya dirimu di awal tulisan katakan, “saya meminta teman-teman untuk berpikiran terbuka sejenak, membaca sampai tulisan ini sampai selesai dan tidak tersinggung dengan gagasan-gagasan berikut..” Nah, kali ini saya hanya mau berpendapat singkat saja-tapi tetap dengan pikiran yang terbuka-seperti kalimat pembuka saya tadi. Sebab, rencananya saya akan buat tulisan yang cukup panjang untuk ‘menjawab’ ide tulisanmu ini di blog pribadi saya (www.podaku.blogspot.com). Jadi, yang mau saya garis bawahi adalah keputusan memiliki anak BUKAN sebuah pilihan! Kenapa? Karena itu adalah ANUGERAH dan BELAS KASIH Tuhan (yang Maha Agung) bagi manusia yang diciptakan dan juga dikasihi-Nya. Nah, pertanyaan reflektifnya adalah, kira-kira, layakkah manusia menolak ANUGERAH dan BELAS KASIH Tuhan tersebut atas dasar ‘kebebasan’ MEMILIH yang dimiliki manusia??? Segitu saja dulu, yah..Makasih, loh..Salam hangat untuk MAs Edward dan istri 🙂 -PO-

    1. Rasanya tetap pilihan, kok.. Seseorang pun bisa memilih antara menerima anugrah untuk diselamatkan atau untuk tidak diselamatkan, yang merupakan hal paling dasar dalam hidup … apalagi untuk memilih untuk memiliki atau untuk tidak memiliki anak.

    2. Skip.. Ini mah jualan blog doang, apa ga cukup dibahas lewat kolom komen aja? Dan jgn bawa2 tuhan lah, ditulisan ini kan ga ada soal tuhan. Dari ayat “beranak cuculah..” aja kan dah gak sesuai kalau patokannya kitab suci 🙂

  19. Ngomong gini karena ga bisa punya anak. Coba dikasih anak. Ngmgnya pasti beda. Dengan lu bikin blog ini cuma menunjukan lu pengen bgt punya anak tapi ga bisa. Sekarang lu mencari pembenaran deh. Good luck ya

    1. mungkin, yang anda katakan benar. dia cuma cari pembenaran.

      tapi kesampingkan kemungkinan benar itu, konten yang beliau tulis sangat logis, masuk akal, dan relevan.
      pernahkah anda berpikir, kenapa anda harus punya anak? patut anda refleksikan sendiri.

      1. tapi gue setuju sama toniho… dia cuma melakukan pembenaran, supaya ga terlalu sedih dengan keadaan yang dia alami sekarang

    2. I found this comment more honest, direct and sums it all 🙂

      Buat yg setuju dgn tulisan ini, dan memutuskan untuk menunda punya anak. Mind this, if you can decide to hold ur pregnancy after your marriage, why would the baby come to you a second you decide “ok I want my baby now..”

      Sudah banyak saya dengar kasus dimana mereka yg menunda akhirnya menyesal dan keluar duit banyak utk berobat demi kehadiran si kecil.

      Dari kata2 indah si penulis “Buat kami, alasan terbaik utk mempunyai anak adalah utk meneruskan legacy kami…” adalah kontradiktif.. You have wasted 7 years to make sure ur kid learn your value and inherited your legacy. Umur berapa saat dia masuk tk? Dan umur berapakah anda saat dia di pelaminan nanti? Saat dia mempunyai baby nanti, apakah dia bisa berkenalan dgn grands nya? Atau kalau mau lebih realistis, seberapa lamakah anak2 anda akan mengenal ortu dari fotografer andal ini? Think abouf it 🙂

    3. setujuh……
      tp menghibur diri ga ada salahnya sih…..hahaha…
      kompensasi 7 tahun ga pny anak ya hepi 7 tahun, ambil hikmahnya…..
      tp cuma sementara bro…saat tua lu bakal ngerasa sepi, ga ada yg urusin juga, minimal perhatiin dah…… mungut anak uda gede uda ga mungkin cm bakal nyusahin
      just 5 cent opinion…hehe

  20. sangat setuju dengan tulisan ini bro, SAYA ADALAH KORBAN ketidaksiapan orang tua untuk punya anak. sering sekali di masa kecil saya berteriak di tengah pertengkaran mereka “aku ngga minta dilahirkan!”, “kenapa aku harus dilahirkan di keluarga ini?”, rumah? lebih pantas disebut nereka.

    orang tua, bukan panutan buat saya. satu2nya hal positif yang bisa saya ambil dari mereka adalah untuk tidak menjadi orang tua seperti mereka di masa depan. saya tau apa itu arti keburukan, karena mereka menunjukkannya pada saya. tapi saya bisa memilih, untuk tidak menjadi seperti mereka di masa depan. saya tetap berterima kasih kepada mereka, karena mungkin jika tanpa kedurhakaan mereka, saya tidak akan bisa menjadi orang yang berpikiran terbuka dan logis seperti sekarang ini.

    sebut saya durhaka? no problem. karena anda memang tidak mengalami kehidupan saya, saya juga tidak mengalami kehidupan anda. setidaknya anak durhaka ini tidak akan menjadi ayah yang durhaka pada anaknya di masa depan.

      1. Yup belom tentu dengan menunggu bisa menjadi ortu yg lebih baik. Menjadi ortu baik atau gak yah itu tergantung pribadi masing2. Semua org bisa berencana tapi apa yg terjadi blm tentu sesuai rencana. Dan menurut saya juga gak ada salahnya org punya anak karena menginginkannya atau lihat teman sdh punya anak jd mau juga. Asalkan setelah diberi anak mereka menjadi ortu yg bertanggung jawab.

    1. Brother…ane prihatin dengan nasip yg ente jalanin, semoga bisa tegar jalaninnya, dan pesen ane jangan pernah dendam diterusin kebawah ye kalo ente punya bocah,

  21. Memiliki anak itu adalah HAK dan sekaligus KEWAJIBAN manusia.
    Saya rasa Anda telah melakukan hak Anda dengan benar dan baik melalui pilihan yang Anda buat dan lakukan.
    Saya doakan Anda kelak dapat juga menjalankan kewajiban ini dengan baik.

      1. hahahahaa betul
        bikin anak hak,next menghidupinya adalah tanggung jawab
        eh dimana2 kewajiban dulu baru hak.. kok ini kebalik yak??wkwkwk

    1. kewajiban gimane? karena umat manusia udah punah jadi wajib bikin anak???? udah kebanyakan orang di dunia ini keles!

  22. saya menghargai semua keputusan, entah itu punya anak/tidak punya anak, dua-duanya bagus.

    yang saya bingung, kalau sudah jalan nikah 7 tahun terus mau punya anak sih ngaco, jangan diajarken ke orang-orang. kenapa?

    pertama :
    duit anda udah abis buat jalan2. (kecuali kalo duit anda tidak ada nomor serinya, ini tidak perlu dibaca bos!) cuma buat orang lain yang mau mengambil langkah sama tapi dengan duit pas-pasan mohon dipikir sendiri, jalan-jalan 7 tahun terus punya anak dengan punya anak langsung lalu jalan-jalan 7 tahun rugian mana.

    kalau saya sih lebih milih yang kedua, duit saya pakai untuk pendidikan anak, kuliah anak yang bagus, sukur2 bisa sekolahin luar negri, trus kalau anak dah gedean dikit jalan-jalan deh ama anaknya, lebih indahan kelaut terdalam dan kehotel termewah bertiga.

    kedua :
    kalau duit anda tidak bisa habis, umur anda yang habis bos, namanya anak pasti butuh orang tua (kecuali anak durhaka seperti yang dikomen-komen lain), entah itu jalan dialtar perkawinan, atau wisuda, atau kelahiran cucu, si anak pasti mengharapkan ada orang tua disisinya.

    kenapa gak sekalian aja keliling dunia atau ke mars sekalian lalu tunggu umur anda 50 tahun lalu punya anak? (sarcasm mode: on)

    lucu juga anda, anak kok disamain tato dimuka, iya bos, memang bener anak butuh tanggung jawab, cuma terlalu negatif juga kalo disamain dengan tato. kalo iya memang sama dengan tato, yang punya anak didunia cuma Mike Tyson.
    anak itu yang membuat sebuah keluarga lengkap. tanpa kitab-kitab agama, naluri kita sebagai makhluk hidup adalah memiliki keturunan, sampai binatang terbodoh yang otaknya sekecil apapun mengerti. saya tidak bilang tidak punya anak salah lho ya, itu pilihan logis dikehidupan saat ini karena dua hal :
    1. hidup yang serba susah sehingga kita takut anak kita tidak bahagia,
    2. mending duitnya buat gua hura-hura

    lucu juga komennya yang berharap tidak dilahirkan.
    anda cuma kurang sukses atau tidak bisa bangkit dari kegagalan atau kurang bersyukur dalam hidup atau tidak bisa memaafkan.

    banyak konglomerat yang lahir amat miskin atau dari keluarga broken home, bahkan yatim piatu, semuanya menghargai hidup, bahkan ada yg reconcile kembali dengan orang tuanya.

    “I see now that the circumstances of one’s birth are irrelevant; it is what you do with the gift of life that determines who you are”. – Mewtwo

    1. oh iya om, saran aja ni, sapa ngerti tahun depan anda punya anak, trus anak anda dah gede, dan anda sudah tidak bisa keluar negri lagi (bukannya doain ya om, tapi kan namanya roda berputar, wong sugih kayak apa aja bisa bangkrut) foto-fotonya anda keluar negri diumpetin ya om, nanti kalo anaknya liat malah komplain ” YA PAPA… AKU KOK GA DIAJAK”

      wkwkwkwkkwkkawkWAKwkakKWAKkwkaKWKAKwk

      1. Velhavn why are you bashing the writer about how they spend THEIR money now? The writer is talking about human’s choice of either having or not having children. It’s not your business on how they spend their money. They want to travel and see the world before settling down? What’s wrong with that? Do you know their life? Are you one of their family? Don’t judge the book by the cover. I think you didn’t get the message when he chose the word “tattoo”, I agree with him since “tattoo” is permanent and you REALLY need to think it thoroughly because it’s going to be part of your life. Same thing with having children. Think it thoroughly, see if you CAN provide your children mentally and physically. IMO having children because of peer pressure is not right and it can effect on how the parents raise their children, that’s how I see it when the writer wrote how the children said “I wish we never be born”. So like you said in the beginning of YOUR comment that you respect one’s choice so keep your word.

        1. tadi nulis panjang-panjang, cuman saya delete lagi, karena sepertinya percuma,

          1, saya tidak tahu penulis, penulis kasih saran, dan saya juga kasih saran.
          2. saya cuma kasih pandangan kalau punya anak kepala tiga banyak ruginya, meningkatkan resiko down syndrome, perencanaan keuangan tidak lebih baik, ketika anak belum dewasa kita sudah keburu tua, tapi kalau menurut anda baik, aku rapopo dan tidak membantah lagi.
          3.punya tato dimuka, adalah hal yang amat sangat sangat bodoh, sehingga kalau orang mau tato dimuka perlu alasan yang jelas, apakah punya anak hal yang bodoh?
          4. betul, punya anak perlu tanggung jawab,
          saya cuma bilang. kalau ada orang tua tidak bertanggung jawab terhadap anaknya memang salah orang tuanya, tetapi kalau ada orang yang tidak bersyukur dilahirkan adalah salah orangnya,
          dilihat dari sisi agama, agama manapun jelas neraka hukumnya, mau ditaruh dikolong jembatan, panti asuhan, orang tua berantakan hidup tetaplah anugrah yang diberikan oleh Tuhan, kok tidak bersyukur, ntar diambil lagi lho sama yang diatas.

          masih panjang juga ternyata. dah ah ini terakhir, saya jarang liat blog, cuman kebetulan ada yang post ini kesaya dan saya gatel komen. orangnya disini pinter2 semua,

          1. oh iya mbak, biar ga salah nangkep, saya setuju lho, mo punya anak atau ndak punya anak,
            saya cuma ga setuju kalo punya anak telat.

          2. Well I don’t feel like I want waste my time talking to a wall. I’ll keep it simple:

            The author only wanted to give his side of the perspective to have kids for the right reasons, not because everyone is having kids/family pressure. Can you have respect for his opinion? Or are you too close minded to understand. BTW you don’t know their age and there’s nothing wrong having kids in their 30s. In fact, most people in their 30s feel more psychologically ready for parenthood, more established financially and most importantly a solid marriage foundation. All of that are the basic necessities that any children need to grow up in.

    2. mau punya anak ropopo, ndak punya anak ropopo, yang penting sah jangan kumpul kebo.
      ane setuju pendapat diatas. tapi jangan dicritain ke temen temen , tar kasian loh kalo papi mami nya yg nungguin cucu

    3. Mungkin pesan yang anda dapet berbeda dengan saya, kalo saya nangkepnya simaksudnya penulis itu agar memikirkan waktu yang matang buat punya anak, misalnya dengan membuat ikatan suami istri lebih lekat lagi agar nanti kompak ngurus anaknya (yang mana penulis melakukan couple bonding dengan jalan jalan). Lah kalo emang kalian pas nikah langsung siap punya anak mah hajar aja, gausah anggep orang yang lama punya anak setelah nikah itu salah, dan cepet punya anak setelah nikah juga salah, itu pilihan.

      1. saya setuju om, kalo alasannya couple bonding,

        misalnya kalau masih sering berantem, ada nggak cocok yang nggak bisa diterima masing-masing, masa ya mau punya anak. musti akur dulu.

        tapi sepertinya tidak, wong dia bilang mau puas2in jalan-jalan terus kebablasan,

        saya bukan tidak setuju punya anak / tidak punya anak, saya hanya tidak setuju punya anak disaat kita sudah tua, kasihan anaknya, meningkatkan resiko down syndrome, perencanaan keuangan tidak lebih baik, ketika anak belum dewasa kita sudah keburu tua, tapi kalau menurut anda baik, aku rapopo dan tidak membantah lagi.

  23. Hidup itu setengah pilihan, sisanya yaaa Tuhan yg atur..kalau emg memutuskan utk punya anak tp blm dikasih brarti emg blum saatnya atau mungkin Tuhan ada rencana lain. Manusia lahir itu dgn tugas2 yg berbeda, dan tujuan utama manusia dilahirkan bukan utk melahirkan anak. Kalo emg gt, knp pula pastor, suster, bhikkhu gk bole merid dll. Gk berarti pasangan yg punya anak pasti bahagia, dan sebaliknya yg gk punya anak pasti gk bahagia. Kita gk bisa judge org, as long as u r happy, so what ?!
    Thx bro. Be happy 🙂

  24. Saya sih setuju dengan pemikiran itu.
    Punya anak itu adalah pilihan setiap pasangan.
    Tp rasanya tidak perlu membuat pembenaran dan seakan2 mereka yg punya anak karena dipaksa orang tua adalah salah.
    Dengan menyalahkan keadaan tersebut, anda tidak akan menjadi lebih benar karena memilih tidak punya anak terlebih dahulu. Dan mereka yg memiliki anak karena paksaan orang tua juga ga akan jadi lebih salah.

    Orang orang tua itu “memaksa” anak mereka untuk segera memiliki momongan, selain mereka ingin punya “mainan” mereka juga tahu kok bahwa kesempatan punya anak itu tidak selamanya ada. Mereka ingin supaya kesempatan itu tidak disia siakan. Mereka juga tahu ketika menyia nyiakan kesempatan itu, mungkin akan ada penyesalan ketika kesempatan itu sudah hilang.

    Saya rasa, “pemaksaan” yg mereka lakukan harusnya ditanggapi dengan terima kasih.

    Tinggal pilihan sih menurut saya.
    Ketika anda memutuskan menikah, apakah anda mempersiapkan diri anda untuk membangun keluarga, mempersiapkan anak2 saudara untuk mengisi dunia…? Atau anda hanya mempersiapkan diri untuk mencari pembenaran karena penyesalan yg anda buat?

  25. In my opinion.. Org2 yg takut pny anak itu org2 yg egois, yg cm ingin menyenangkan diri sendiri, yg takut repot, yg takut ‘me time’ nya terenggut.. Benar atau tidak silahkan tanya pd diri sendiri.. ¯_(ツ)_/¯
    Pny anak bkn masalah siap ato ga, semua itu proses, seperti halnya kita lahir di dunia ini, apa kita siap dan sudah dipersiapkan?? Tidak.. Semua butuh proses dan dorongan..
    Bottom line : jd intinya bkn siap atau tidak, tp mau atau tidak??? berani pny anak, hrs berani bertanggung jawab.. Sy sangat setuju jika anda memilih untuk menyenangkan diri sendiri, menyibukkan diri sendiri, apalagi org2 yg sibuk bekerja, sebaiknya jgn pny anak.. Anak2 yg patut dikasihani adalah anak2 yg lahir dr org tua seperti mereka.. Jd inti permasalahannya bkn pny anak di waktu yg tepat.. Tapi siapkah anda melepas keegoisan anda??? Maukah anda berkorban demi anak anda?? Pny anak repot loh.. Bukannya nakut2in, tp pny anak butuh biaya n pengorbanan yg besar tanpa mengharapkan imbalan..
    Satu lg yg harus diingatkan.. Jgn pernah berpikir mempunyai anak untuk investasi masa dpn anda dan jgn pernah menuntut mereka untuk balas budi… Anak tdk minta dilahirkan!!! Benar!! Jd anda jgn memberikan tanggung jawab yg bkn pilihan mereka, anda yg memilih pny anak, bkn anak yg memilih dilahirkan… Jika anda sudah menjadi org tua yg benar, jgn takut dan tdk perlu menuntut, dgn sendirinya anak akan balas budi pd org tuanya..

    Lah jd klo gt untungnya pny anak apa donk, koq kesannya menakutkan????? Try to find out by yourself… I’m a mom from 2 kids, and they make my life complete

    1. @felicious. Picik bgt ya pikiran lo. Egois / tidaknya seseorang ga ditentukan dari mau punya anak/tidak and m pretty sure just because u have kids ur still going to be a selfish person. Mother theresa doesnt have kids at all and can anybody say that she’s a selfish person? Lol. Ni pemikiran paling kocak sedunia. Some of ur points malahan bener2 ga nyambung. Dont be upset just because u find other ppl who choose not to have kids are happy despite what u believe. Everybody is different. Ga bs dipukul rata ya. We dont judge people like u about why not having any is better than having one. So people like u should not judge as well. Peace out.

    2. Si felicious ini lagaknya seperti dia supermom paling mahir sedunia. Hahahahaha!!! Biasa aja woyyyyyyy!!! Lawan bicara loe sama sama orang dewasa. Gue setuju banget sama comment diatas gue. Ga usa nge judge orang. Emang siape lo ngaku ngaku loe ga egois mentang mentang udah punya anak???

    3. “…… bukan siap atau tidak tapi mau atau tidak……..”
      “…… anak2 yang patut dikasihani adalah anak2 yang lahir dari orang tua seperti ini……”

      Saya ajak anda berfikir dengan baik sebelum anda memalukan diri anda sendiri selanjutnya.
      1. Argument yang invalid. Anak adalah titipan yang diatas. Anak adalah hadiah dari yang diatas. Mereka bukan hak kita akan tetapi hak yang diatas DIA mau menghadiahi ke siapa. Saya kenal banyak pasangan2 yang menurut saya akan menjadi orang tua yang hebat dengan pandangan yg luas dan tidak picik seperti anda akan tetapi mereka belum bisa memiliki meskipun sudah mengusahakan berbagai banyak cara. Belum juga kita bicarakan perempuan2 baik yang sudah mengusahakan pelbagai banyak cara tapi selalu keguguran. Apa yang anda argumentasikan membuat anda menjadi seorang perempuan yang picik, tidak mempunyai empathy dan egois sekali.

      2. Saya pun banyak kenal teman2 yang lahir dari orang tua “double income” mereka tidak terlantar. Mereka punya pendidikan bagus, sangat beretika, punya sopan santun, punya empathy, supel, terpelajar dan punys pemikiran yg luas. Tidak picik seperti anda. Lagian, coba anda pikir baik2. Mana ada orang tua yang kalau bisa memilih akan lebih memilih bergadang dan menginap dinkantor ketimbang pulang kerumah dan menimang2 buah hati?

      Pendek kata.
      Kalo hendak mengutarakan sesuatu lebih baik dipikir dulu 2x. Jangan memalukan seperti ini.

    4. Mba felicious jangan ngambek yaaa. Aku cuma nyaranin aja mungkin mba ada childhood trauma? Kesannya mba punya kepaitan dari dulu ya. Mungkin bapak mba menelantarkan mba? Ato ibu mba? Bagus sih mba ga kaya gitu ke anak mba. Tapi mungkin mba sebaiknya cari psychiatrist untuk cari tau kepaitan mba itu datang dari mana. Kasian kan mas edward ngomong apa. Mba balesinnya apa. Ga baik loh mba kalo mendem kepaitan. Aku saranin mba cari psychiater gitu mba.

    5. Mba Felicious yg lain ada yg gk se7 dgn pndapat anda.
      tp sya sangat setuju sekali dengan pendapat anda, mempunyai anak bearti siap melepas keegoisan diri kita,
      salam super

    6. Saya mendukung pendapat Felicious…biarkan orang2 yang berfikiran picik justru mereka2 ini…saya ngerti mbak feli tidak menjudge bahwa org egois itu salah…kita ego terhadap suatu kompetisi itu baik kok asal sehat. kita egois dengan apa yg kita mau fokus..itu juga ok, egois adalah makna dimana seseorang dalam sikap mementingkan diri sendiri.

      justru banyak orang picik dan munafik dan menjadi pahlawan kesiangan ( yang jawab posting2an gue dibawah…malas jawabin satu2..)

      si blogger sendiripun mengakui

      Semoga tulisan ini bisa menambahkan wawasan buat teman-teman semua. Find happiness that is also unselfish and meaningful.

      entah ada yg menasihati atau si penulis merasa demikian?? apa karena ada orang yg men cap demikian?
      Saya respect2 aja sama si blogger yang mau punya preparation…for their kid…some fair.

      cuman yg goblok adalah orang yg bertanya2…: ngapain gua punya anak? blom tentu punya anak bisa sayang balik ke gue? bla bla bla…ya carilah pembenaran..intinya orang seperti itu adalah selfish…

      untuk si blogger gue tekankan bukan orang yg selfish..karena mereka menunda untuk merencanakan..itu benar..sebenarnya..
      tapi yg merasa anak itu ga punya arti…gw cman mau bilang …damn u…ga pernah bersyukur lahir di dunia ini…..coba googling negara2 maju yg mengalami kesulitan atas kelahiran…karena pikiran2 sempit dan doktrin bahwa anak buat apa??? sorry fren..anak bukan alat / permainan. coba buka hati.

      balik lagi kalo yg ga setuju..ya terserah lo aja dah..namanya opini diterima sukur..kalo merasa terjustisifikasi ya koreksi diri..

    7. yaa tantee… itu urusan prinsip lahh,tantee
      di negara yg angka kelahiran kecil itu menghindari tanggung jawab (membesarkan anak) mknya angka kelahiran rendah
      tp toh mereka membuka byk kesempatan anak2 kita dsini utk menerima beasiswa,kesempatan bekerja krn rendahnya angka kelahiran itu.

      yahh prinsip boleh beda2 asal jgn mengganggu ketentraman hidup yg lain 😉

      cheers

    8. IMO punya anak pilihan lho, bukan keharusan. Kalo mereka memang masi takut atau mementingkan diri sendiri/pasangan, lebi baik menunda punya anak dulu sampai mereka mantap kan? Setidaknya mereka berpikir punya anak itu merupakan tanggung jawab yang besar. Daripada belom siap/nganggep enteng, terus pas punya anak dan merasa beban, akhirnya malah besarin anak terpaksa, dan si anak ntar ga dapet rasa sayang dan didikan dengan baik dari ortunya. Semoga kita selalu bisa melihat dari dua sisi 🙂

      1. Waduh…Malah Debat Ni Gw jg Mendukung Felicious, Itukan Pendapatnya Die (In my opinion.. ) Jgn Ribut-Ribut deh. Kata Mas Dedi K. Ngaca Dulu Deh…2X Ngaca-ngaca-ngaca dulu deh. Bukan kata die MABOK Atau Gak Konsisten Tp Membandingkan. Oke Wakakakak

    9. Sudah sombong, insensitive, ngomong asal jeplak and contradict yourself. Get off your freakin high horse, having 2 kids dont make you better than others. And only ignorant people like you are insensitive to those who are unable to have children, ga peduli seberapa penggennya mereka untuk ‘me time nya terenggut’ oleh kehadiran anak.

      Dan kalo ngomong yang konsisten, supaya ga keliatannya lagi mabok. Katanya yang ga mau punya anak itu egois but then bilang yang sibuk kerja sebaiknya jangan punya anak, dan bahwa ‘punya anak repot loh’.

      Maybe having 2 kids have made you freakin go nuts instead.

    10. saya rasa yang tidak punya anak tidak semuanya egois. justru mereka malah berpikir, mau punya anak sekarang anak gue mau kasi minum susu apaan? mau sekolah dimana, masa sekolah murah, mereka orang yang berpikiran panjang,
      apa iya kondisi seseorang yang cuma punya burung yang berfungsi dengan baik tetapi tidak sanggup menafkahi dan membahagiakan anaknya harus dipaksa punya anak?

      kalau tidak punya anak me time, tidak repot, duit terserah buat apaan dll sudah pasti, dan itu hak dari pilihan mereka.

    11. Mrs Felicious
      “Org2 yg takut pny anak itu org2 yg egois,
      yg cm ingin menyenangkan diri sendiri,
      yg takut repot, yg takut ‘me time’ nya terenggut”
      “Tapi siapkah anda melepas keegoisan anda??? Maukah anda berkorban demi anak anda??”

      IMHO apa dgn pny anak dan jd ortu itu pembuktian kita ga egois ato tdk lbh egois dr mrk yg takut pny anak?

      bawa anaknya ke bioskop nonton film yg jelas2 dikasih rate dewasa, krn ortunya pengen bgt nonton dan dgn alasan “ga egois” anaknya diajak nonton.
      anak rewel pas dibioskop pas diajak nonton film dg rate dewasa, diprotes penonton lain. diblg org itu ga pny simpati/empati dan ga tau rasanya pny anak. org yg protes itu yg egois, bkn si ortu

      “apalagi org2 yg sibuk bekerja, sebaiknya jgn pny anak..”

      saya pny ortu yg sibuk bgt kerja loh, both of them.
      demi kasih yg terbaik buat anak2nya.
      dan bnyk ortu lain yg seperti ortu saya.
      apa mrk egois krn milih kerja keras dibanding “family time”?
      apa mrk “sebaiknya” ga pny anak seperti saran anda?

      A memilih tdk menikah >> dilabelin egois
      si A menikah >> dilabelin egois kalo blm pny anak
      A pny anak >> msh ngadepin cap egois dr ASIX vs SuFor, SAHM vs Working Mom, dsb
      never ending judgement bkn? 😀

      inti pesan yg saya dapet dr blog ko Edward,
      pilihan itu hrs dtg dr diri sendiri ato sepakat sm pasangan.
      jgn ikut2an maksain standar kebahagiaan setiap org/pasangan itu sama.
      apapun pilihan kita pasti selalu ada kontranya

      Happy anniversary Ko Edward and Ci Francy!!
      wish both of u have a wonderful and blessed marriage journey

  26. Hi edward and francy.. salam kenal ya.. Saya setuju dengan pemikiran edward 🙂
    Saya sudah menikah dan baru menginjak tahun ke3..
    Sebelum merit kami juga memutuskan utk enjoy ber2 dl dan puas2in travelling.
    tp setelah lewat 2 tahun.. entah kenapa kami ber2 ragu.. dalam arti benar2 serius memikirkan apakah kamu sanggup memberikan yg terbaik utk anak kami.. dari segi full kasih sayang, perhatian dan materiil. Meski saya sering sekali merasa “ingin dan sangat ingin” memiliki anak terutama saat liat anak perempuan.. keinginan itu sulit dibendung…sehingga tanpa terasa saya sudah pernah beli 3 baju bayi perempuan yg lucu :p
    Tapi kembali lg ke pemikiran diatas. . Saya (dan suami) merasa belum siap untuk memberikan yg terbaik utk buah hati kami nanti.
    Saya hanya berdoa agar kami bisa “siap” di waktu yg tidak lama lagi
    sehingga saat buah hati kami hadir.. kami sudah “siap” untuk memberikan yg terbaik.
    Happy 7th anniversary edward and francy.
    keep pray and follow your heart because this is our beautiful life

  27. Basically, saya mengerti maksud tulisan Edward dan setuju dengan pemikirannya, hanya saja (mungkin) karena cara penulisan atau pemilihan kata yang sedikit kurang tepat jadinya rancu sehingga dapat disalah artikan.

    Tentu sah sah saja bagi siapapun untuk mengatur sendiri rencana keluarganya masing-masing. Mau punya anak langsung stelah menikah, mau menundanya satu-dua tahun, atau seperti saya, hamil duluan baru nikah. Ngga ada yang punya masalah dengan itu kan? But anyway, kalau pembenarannya adalah:

    “Alasan kita mengandung dia adalah karena ‘kita’ yang menginginkannya, dan bukan keinginan anak tersebut?” dan “Aku ngga pernah minta dilahirkan! -mempunyai kebenaran di dalamnya?”

    Terus terang tidak cukup relevan dan cenderung egois. Because:

    1. No matter how bad you want it, kalau Tuhan belum ngasih ya what can you do about it?

    2. Kalau kamu yang menginginkannya, terus suatu saat si anak berteriak “Aku ngga pernah minta dilahirkan!” well maybe the kids got the point.

    I wouldn’t judge how you live, how you spend your money, etc., but I do concern about your age, for parents-child age gap reason, and healthy reason. Kehamilan di atas usia 30 tahun (untuk wanita) cukup beresiko. (You might wanna read: http://www.investor.co.id/family/risiko-tunda-kehamilan/74956).

    Also, when you said “Di sini kami hanya ingin menambahkan kebahagiaan kami dengan arti dan tanggung-jawab,” bukan berarti yang memiliki anak secepat kilat setelah menikah, or in my case -you know-, tidak memiliki arti dan tanggung jawab lho. Siap dan tidaknya seseorang memiliki anak, sama seperti menikah, no such thing. You’ll get used to it. You’ll learn. Ngga ada teori yang menyatakan orang yang menunda kehamilan 10 tahun, misalnya, akan menjadi lebih siap dari mereka yang langsung memiliki anak setelah menikah. And vice versa.

    Anyway, happy anniversary! 🙂 Semoga tahun ini ya! *senyum penuh arti*

    xx

  28. Hahahah..blog nya seru nih… sumpeh agan Jali…rusuh banget..tapi saya akui lah…you are fighter..maju terus pantang mundur…bang jali..bang jali….hahahahaha

  29. Nice Blog..Bisa dibilang kita punya pilihan dan Tuhan yang akan menentukan. Jadi persiapkan pilihan anda (having baby now or later) itu sebelum memilih.

  30. Hidup adalah pilihan apapun hasilnya Tuhan akan memberikan jalan terakhirnya usaha yang terbaik adalah berdoa dengan tiada putusnya

  31. 15 April 2014 ulang tahun perkawinan kami yang ke-9. kami belum memiliki anak tp kami bahagia dan itu sudah sangat cukup bagi kami 🙂

  32. Halah, yang asal menghakimi org2 yg ga mo punya anak sebagai orang egois dan takut dibikin susah itu tipikal banget niatnya. Emg mrk sebenernya pengen ngeliat semua org ikut ngerasain susah jg. Bragging kesusahan dia vs kesusahan anda, bragging anak dia vs anak anda, ya gitu d. Orang Asia, kepoh.

  33. Wanita jadi komplit kalo punya anak itu memang bener… tp scr biologis doang. Gw sama sekali ga ngeliat seorg ibu itu komplit kalo dia ngebiarinin anaknya:

    1. Tidak tertib dan tidak tahu caranya antri.
    2. Keasikan ngobrol ngalor ngidul di meja makan hotel sampe ga tau kalo anaknya lg ngaduk2 sendok di toples madu, trus sendoknya diemut, trus dicelupin lagi dan org2 sekitarnya jg cuek aj. Geblek.

    Give me a break, people. Komplit darimane?? Sama absurdnya kayak budaya kolot Timur yg suggesting kalo lelaki jg komplit perannya sbg ‘pejantan’ kalo berhasil dapet anak lelaki utk nerusin garis keturunan. Segitu sempitnya kah makna hidup ini?

    Terus dulu ada jg kisah seorg ibu (pernah diulas di Jawa Pos), yg ngerasa capek ngurus keluarga, akhirnya memutuskan untuk hidup menyendiri ketika anak-anaknya sudah pentas (ga tau dia cerai ap kaga). Hidup menyendiri untuk fokus pada dirinya sendiri, mengerjakan hobi, membangkitkan impian masa lalu dan mencari arti “living to the fullest” sesungguhnya. Punya anak komplit dari mane? Kalo kita emg ga punya impian apa-apa mgkn game over bgt aj pas punya anak, tp kl punya impian sendiri, hidup ini belom komplit sampe impian itu tercapai…

    Dan lagi, kita ini, punya anak atau engga, sama-sama manusia kan. Begitu kita meninggal, kita semua jadi debu. Yg tinggal hanya nama. Tentu kita mau dihargai orang, mempunyai sesuatu untuk dikenang orang. Dicintai keluarga, dikenang masyarakat. Idealnya begitu, tp sebenernya dikenang masyarakat itu yg lebih utama. Apa jadinya kalo ketika anda meninggal, cm dikenang keluarga tp masyarakat cuma sambil lalu aj. Sementara org yg ga punya anak malah dikenang masyarakat, nah lo. Belom tentu jg kan, kalo org yg ga merit/ga pny anak itu hidup utk dirinya sendiri.

  34. Happy 7th anniversary edward and francy…

    tulisan yang menarik, Francy beruntung sekali memiliki anda.

    pada saat diawal pernikahan, saya setuju kalau memiliki anak itu pilihan, dan memang akan lebih baik bila itu di rencanakan secara psikologi, fisik, keuangan dll, karena kita mau yang terbaik untuk anak kita nantinya.

    TAPI semua kembali kepada kehendak TUHAN. yakinlah DIA punya rencana yang terbaik untuk Keluarga Anda.

    mungkin anda bisa mencoba dengan menjadi orang tua asuh untuk anak2 yang berada dari keluarga kurang mampu, berbagi kebahagiaan dengan yang kurang mampu sebagai bentuk rasa bersyukur anda atas karunia TUHAN

    Saya bantu doa semoga kalian segera memiliki anak di saat kalian siap. dan semoga kalian berusaha sebaik mungkin menerima kehadiran anak disaat kalian belum siap ^_^

    GOD Bless both of you

  35. I think yahh semua org punya pendapat masing2 and having kids I think is not something you can be 100% ready for. What ever floats your boat.

  36. Saya bantu doa semoga kalian segera memiliki anak di saat kalian siap. dan semoga kalian berusaha sebaik mungkin menerima kehadiran anak disaat kalian belum siap ^_^

    GOD Bless both of you

  37. Numpang Koment, Btw Mbk Ngak takut, dibilangin nantinya sama suami, “istri yang gak Produktif” lebih baik saya cari yang berproduktif!! Tp Klo saya liat suami mbk anteng-anteng aja Tuh Ya Ato dah pasrah ma keadaan. Ya Dah Selamat Menikmati Hidup Anda Saja Berdua. Itu adalah Privacy mbk dan suami.

  38. Kutipan Kata-Kata diatas: Saya tidak pernah ragu sedikitpun akan hal itu. Saya yakin bahwa nanti ketika si kecil hadir, saya juga akan berbaring di sebelah dia dan melihat dia tidur dan posting foto Instagram 1000 kali sehari dan lebih memilih di rumah bersama dia daripada berkeliling dunia. Saya tidak pernah ragu bahwa saya dan Francy akan luar-biasa bahagia. Iya Klo Masih Hidup dan Diberi Kesehatan Ma TUHAN Tp klo dah Tuir(TUA) ( Menopause ). Atau Bahkan Dah Maout(MATI). Emangnya masih Bisa Ngeliat anak.

  39. Saya setuju 1000% dengan anda. Walau kini saya sedang mengandung anak pertama. Yes, memiliki anak itu sebuah tanggung jawab yang besar bnget, dan bukanlah mainan. Jadi sayapun akhirnya bisa mengandung, karena saya merasa siap. Bukan karena org kebanyakan punya anak. Saya justru sedih jika saya belum siap, namun dapat tgg jawab yg besar: mendidik seorang individu agar menjadi tangguh baik fisik dan mental. Terutama di jaman seperti skg.

    Terlepas cewek ada masanya, saya percaya Tuhan akan memberikan tanggung jawab tersebut tepat pada waktunya.. happy anniversary to both of you! Wish you all the best!

  40. Cant see anything wrong with what you’re saying. Dont understand why there were some which reacted badly. Maju terus mas. Jalan menuju bahagia tidak cuma satu. Salam dr seorang ayah dr dua putri.

  41. Butuh keberanian untuk menjadi super jujur seperti Bung Edward di tulisan ini. Saya angkat topi! Perjalanan setiap manusia berbeda-beda, semoga Edward dan Francy selalu menikmati perjalanan dan petualangan yang tersaji.

  42. Just found your blog link on my timeline Twitter about you and your wife journeys to have a child. Then i read this one. I just wanna say, thanks Koh untuk pelajaran yang diberikan. Semoga Kokoh dan istri segera diberikan hasil yang terbaik, apa pun itu. Semoga kalian selalu kuat dan bahagia.

    FYI, gue baru aja menikah 2 bulan lalu. Dan udah banyak pertanyaan dari sekitar “udah ngisi belum”. Hal itu nyaris ngebuat gue tergugah untuk grasa-grusu punya baby. Bahkan, gue sampai ngambek segala ke suami ketika diskusi soal masa subur bla-bla-bla hahaha.. Padahal, di sisi lain, kasarnya gue dan suami belum benar-benar yakin apakah kami siap menjadi orang tua karena beberapa alasan yang mungkin tidak bisa ditolerir orang-orang sekitar yang taunya “punya anak setelah menikah adalah goal” atau “beranak aja, nanti juga rejekinya ada.” I believe that, Koh. Tapi, ada suara ngomong lain di hati gue, juga mungkin suami. Gue tidak mau punya anak hanya untuk unggul-unggulan menunjukkan bahwa seseorang subur/tokcer dst.

    Ngebaca tulisan lo setidaknya ngebantu gue lebih kuat. Semoga gue juga segera tidak peduli dengan omongan orang sekitar (usia gue juga nggak muda-muda amat, sih, emang. Apalagi gue masih suka konsumsi obat-obatan untuk sakit). Toh, maksud mereka pasti baik. Mungkin cara pandang aja yang beda. Doakan gue juga, ya, Koh. Jikalau memang harus segera diberi momongan atau ditunda oleh-Nya, doakan kita tetap berprasangka baik pada ketetapan-Nya sembari menunggu takdir yang terbaik itu datang dan datang lagi.

    Just like you citated berfore, i life we never arrived.

  43. Saya apresiasi tulisan mas Edward. Perspective ditulisannya bukan hal asing di telinga saya. Biasa aja. Apapun keputusan kita masing-masing, yang terpenting sudah dipikirkan baik-baik, bertanggung jawab, dan tidak merugikan orang lain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *