Photo 2-3-15 11 16 16 am

Ada satu pasangan di trip Jogja kali ini bercerita, “Iya waktu aku bilang ke temenku aku mau prewedding di Jogja, tanggapan mereka, ‘Jogja?? Kok Jogja? Emang ada apa di sana?'”

Mungkin responnya beda kalau dia bilang ke teman yang sama bahwa dia mau prewedding ke Melbourne atau Tokyo atau Paris, “Whoa, cool! Keren banget!”

Ini memang masalah 🙂

Persepsi akan bagus tidaknya sesuatu diukur dengan ukuran yang salah.

Bagus atau tidaknya, sukses atau tidaknya sebuah photo session memang dipengaruhi lokasi, cuaca, dan klien itu sendiri, tapi terutama faktor yang paling mendukung adalah si fotografer itu sendiri.

Lokasi jelek, cuaca buruk dan klien yang sulit, di tangan fotografer (yang sekaligus adalah executive producer, director, project head, location scout, location manager, production designer, stylist, wardrobe artist, and joker on set) yang keren, handal dan berpengalaman, selalu bisa jadi proyek yang sukses dengan hasil yang memukau. Bukan, ini bukan memuji diri sendiri (bener nih!) – Tapi ini adalah sebuah kenyataan yang sering terlewatkan oleh klien-klien yang sedang menimang-nimang lokasi-lokasi prewedding.

Lokasi hanyalah sepotong kecil resep. Si juru masak yang selalu paling menentukan.

Photo 2-3-15 4 02 38 pm

Yang perlu diingat juga adalah rasa makanan (prewedding) yang dicari tidak selalu sama. Ukuran-ukuran yang dipakai oleh berbagai orang untuk mengatakan sebuah makanan enak (prewedding yang bagus) tidaklah sama.

Buat kita di ESP dan klien-klien yang mempercayakan fotonya ke kita, prewedding yang bagus adalah prewedding yang hangat, autentik, membangkitkan emosi, dan yang paling penting membuat kita tersenyum kecil tanpa kita menyadarinya. Itulah ukuran-ukuran yang kita dan klien-klien yang mencari kita pilih. Dan di pagi terakhir trip Jogja ini, melihat kumpulan foto yang saya dapat, saya yakin untuk berkata bahwa perjalanan kali ini sangat berhasil adanya.

Photo 2-3-15 11 09 17 am

Saya jadi ingat sebuah cerita dari Dave Trott, salah satu heroes saya.

– – – – – – – –

Dulu ketika saya masih muda dan bekerja di sebuah agency di New York, setiap minggu ada seorang tukang loak yang mampir dengan mobil van bututnya.

Katakanlah namanya Joe.

Joe selalu mampir untuk menjajakan barang-barang yang dia temukan seminggu itu ke anak-anak kantor, dan karena dia tau saya suka membaca, dia selalu menyisihkan buku-buku yang dia dapat untuk saya.

Suatu hari ketika dia datang, dia bilang, “Hey Dave, minggu ini saya dapet buku yang bagus banget buat kamu, kamu pasti suka!” – lalu dia menghilang masuk ke dalam van-nya.

Dia keluar menggotong sebuah buku yang sangat besar, dengan bungkus kulit dan ketebalan dua buku telpon yellow pages.

Sambil membanting buku itu di hadapan saya, Joe menyeringai, “Jadi, gimana menurutmu? Bagus kan? Besar dan tebal. Sampulnya juga mantap. Pasti bagus buku ini. Kamu pasti suka.”

Di sana saya sadar, bahwa Joe, yang mungkin sekali tidak pernah membaca banyak buku dalam hidupnya, menganggap bahwa ukuran bagus atau tidaknya sebuah buku adalah dari besar dan tebal dan kokohnya buku itu.

Joe mengukur sesuatu dengan penggaris yang salah.

– – – – – –

Sewaktu saya mendengar tentang si teman di awal tulisan ini, saya ingat si Joe.

Menikmati tulisan ini? Dengan berlangganan, kamu akan dapat notifikasi jika ada tulisan-tulisan baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *