Pagi ini saya dan Francy makan bakmi kesayangan kami: Bakmi Jambi Ahiung di Pinangsia.

Wuenak tenan. Our best of the best. Tekstur bakmi, kuah, daging, sambel. Semua five star.

Sebetulnya kemarin kami baru makan bakmi juga. Papi saya ulang tahun dan kita semua sarapan bersama di sebuah warung bakmi X.

Tapi entah kenapa, bakmi X kemarin, ga enak.

Makanya hari ini saya dan Francy makan bakmi lagi. Supaya lupa bakmi yang kemarin.

Bwek.

Kakak saya sudah peringati sih, “Dia sekarang udah ga enak,” berbicara tentang bakmi X.

Tapi saya bilang, “Ah, masih enak kok. Di situ enak, kita juga kadang suka ke situ.”

Ternyata bener.

Ga enak. Ga kayak dulu.

Francy konfirmasi juga. Saudara saya seorang maestro bakmi yang ikut makan kemarin juga bergumam hal yang sama.

“Ga enak,” sambil berusaha menelan dia bergumam, takut terdengar si yang punya warung yang lagi duduk di kasir di belakang kita.

Hilang deh satu tempat makan bakmi. Kayaknya kita ga akan balik deh.

Padahal salah satu favorit saya itu.

Huh, sebel.

Tapi sebenarnya.

Sebenarnya saya bisa ajak ngomong yang punya warung.

“Cik, boleh kasih masukan ya? Kemarin kita sekeluarga makan di sini semua bilang hal yang sama. Bakminya sekarang udah kurang enak. Padahal kita dulu suka banget makan di sini. Kemarin kita makan berminyak banget, rada bau dan rasa bakminya anyep. Nggak legit dan garing. Kakak saya juga sudah beberapa kali makan belakangan ini bilang hal yang sama. Mungkin ada yang berubah dari bahan bakminya? Atau cara masaknya berubah? Kasih masukan aja ni ya ci. Sayang kan kalau nanti pelanggan pada lari semua. Jangan, jangan pukul saya cik.”

Sayangnya, saya nggak begitu ‘sayang’ sama si ini tempat bakmi.

Ga kenal sama yang punya, ga gitu terlalu sering ke sana, dan melihat Nci yg duduk tampangnya sangar dan kayaknya ga gitu suka dikritik, saya ga mau ambil resiko kena semprot.

I just not care enough to take that risk.

Beda kalau si Ko Ahiung bakminya mulai aneh-aneh.

Wah, pasti saya ngomong.

Si Ahiung ini sanctuary saya. Where me and Francy got our comfortest food.

Si Engko kalau liat saya dateng dari jauh aja udah langsung ngomong, “BOS! Bakmi 1 1/2, ga pake jeroan, tapi pake usus, trus pangsit ikan 10?” Lalu dia cengengesan.

Barista gw aja nggak bisa begitu.

I care a lot about Bakmi Ahiung. I would not want Ko Ahiung to lose business. I want him to grow even bigger.

And because I care,  if there’s a critique or input that needs to be said, I will definetely take that risk.

And you know what?

Maybe that’s what happen when we get critiques from people.

Mungkin kita dikritik karena dia peduli sama kita.

Apalagi oleh teman yang baik, apalagi oleh pemimpin yang kita tau nggak punya waktu buat yang aneh-aneh.

Mereka tetap mengkritik, walaupun mereka tahu mengkritik kita itu akan datang dengan segudang kemungkinan konsekuensi buruk.

Mereka bisa disebelin. Mereka bisa dibilang sok tahu. Mereka bisa diomongin di belakang. Kita bisa kecewa. Kita bisa tersinggung. Kita bisa jadi menutup diri kepada mereka. Hubungannya bisa jadi retak.

Tapi kayaknya, kalau mereka mau mengambil resiko itu, sepertinya mereka peduli sama kita.

Despite the risks. Despite the undelightful probable consequences.

Kemarin di sebuah presentasi, saya ‘menyahut balik’ sebuah tanggapan seorang bos yang kayaknya sudah 20 tahun nggak pernah dibantah oleh anak buahnya.

“Saya boleh kasih masukan pak?” tanya saya sambil senyum semanis-manisnya.

Si bapak setelah kotbah berapi-apinya kayaknya cukup shok melihat ada agency atau pihak luar yang berani ngomong balik.

Setengah bergumam dia bilang, “Well, silahkan.” sambil mengangkat dagu dan melipat kedua tangannya.

Hehe.

But I don’t care (about him getting offended).

Because I do care about making a great campaign. For the sake of the company and for all the marketing people in the room who will at the end get the credit and most importantly for the sake of doing great work.

Ga tau deh dapet accountnya apa nggak.

Tapi seringkali kritik dan masukan saya, jika didengar oleh klien yang, ahem, cukup pintar untuk tahu bahwa saya juga mengerti tentang apa yang sedang dibicarakan, dan cukup rendah hati untuk bisa beri saya kesempatan yang adil untuk ternyata jadi pihak yang benar, biasanya klien-klien itu malah seneng banget disahutin balik.

Mereka senang dikritik.

Dan akhirnya, biasanya, kerjaan-kerjaan yang keren banget.

Jadilah orang yang bisa mendengar masukan, dan jadilah orang yang berani berbicara untuk hal-hal yang kamu pedulikan.

Because when we get together people who are humble enough to listen, smart enough to know they’re not the masters of the universe, and care enough to take the risks, the result would not be short of marvelous and awesome.

Bakmi Ahiung ladies and gents!
Bakmi Ahiung ladies and gents!

Edward Suhadi adalah bagian dari Ceritera, sebuah storytelling agency yang membuat video dan cerita untuk brand Anda.

Menikmati tulisan ini? Dengan berlangganan, kamu akan dapat notifikasi jika ada tulisan-tulisan baru.
Name
Email *

7 thoughts on “Gimana Kalau Bakmi Favorit Kamu Sudah Ga Enak?

  1. Kalau saya cukup beruntung, beberapa bakmi favorit saya itu akhirnya menjadi teman baik dan terbuka dengan kritik.
    Saat ada sedikit penurunan kualitas, mereka lansung evaluasi.

    🙂

  2. Setuju banget ko 🙂
    Beberapa orang menganggap saran dan kritik itu dengan positif untuk menjadi lebih baik lagi. Well banyak juga yang ga suka untuk terima saran/kritik bahkan sekalipun mereka hire kita sebagai consultant untuk strategy marketing/promotion brand mereka 😀

  3. sebenarnya ya itu, ngritik karena kepengen ada imbal balik positif buat kita yg ngritik.
    terlepas dari kita care apa engga (contoh: ngritik bos tadi)

    masalahnya, orang kalao dikasih info yg benar kadang banyakan defensive nya akhirnya malah omel balik atau malah nyalahin hal lain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *