folder Filed in Life
Jihad Itu Apa?
Edward Suhadi comment 11 Comments

“Ko Edward, bikin video gih: ‘Jihad itu apa?’,” kata Warmin yang duduk di sebelah saya, sambil menyupiri mobil saya masuk ke kawasan SCBD.

“Kayak waktu itu bikin video ‘Bahagia itu apa?‘ – cuma kali ini ‘Jihad itu apa?,” katanya lagi terkekeh.

Waktu menunjukkan pukul setengah sembilan malam, dan saya sedang menuju meeting dadakan dengan seorang klien setelah seharian shooting klien yang lain.

Warmin adalah salah satu team Ceritera yang sudah cukup lama bergabung. Sehari-harinya jadi kurir, supir dan kalau lagi ada produksi, jadi runner yang angkat-angkat gear dan lari sana lari sini.

Orang Jawa, umurnya 28. Cungkring-cungkring skinny jeans, suka dan punya motor besar hasil kerja keras sendiri yang dipake cuma kalau akhir pekan.

Secara demografis, Warmin masuk banget dalam target rekrutmen para agen radikalisasi agama. Berasal dari golongan menengah ke bawah, cowok, anak muda, single, cenderung pendiam, cukup taat beragama.

Dengan begitu maraknya hate-speech dan kotbah-kotbah yang membuat panas yang didengar Warmin setiap minggu (ini pengakuan anak-anak yang sholat Jumat di masjid dekat kantor), saya bisa bilang jujur bahwa saya punya kekhawatiran mengenai nilai-nilai yang ada pada dirinya sekarang. Seperti orang tua yang nggak tahu anaknya sudah dengerin apa aja di dunia luar sana.

Entah kenapa di mobil itu pembicaraan kembali ke pengeboman Sarinah lima hari lalu.

“Jihad itu kan jaman Nabi. Jaman perang. Masak jihad udah jaman kayak begini malah bunuhin orang?” katanya kalem sambil memutar setirnya.

“Udah pada di neraka itu semuanya sekarang. Jahat banget ninggalin anak dan istri, bukannya memberi nafkah dan jadi bapak yang baek, malah teriak-teriak Tuhan ga karuan. Hidup cari Tuhan aja kok susah amat.”

“Yang lucu Ko, itu jihad-jihad, bos-nya nggak pernah yang bunuh diri. Cuma nyuruhin anak-anak buahnya yang mati. Kalau memang bunuh diri itu paling mulia, kan harusnya bosnya bunuh diri, bawahannya naik, trus bunuh diri lagi, trus bawahannya naik lagi. Jadi gantian. Bingung saya ada aja yang mau dibego-begoin sama pemimpinnya.”

Lampu merah. Mobil Jazz hitam saya herannya hanya ditemani dua-tiga mobil di daerah yang jika siang sesak dan padat ini.

Sambil tetap melihat ke depan, Warmin menyambung, “Jihad itu ya kayak Ko Edward gini. Udah seminggu lembur terus. Kerja keras buat kasih makan istri.”

Kita memang sudah hampir seminggu pulang di atas jam 11 dan sudah di jalan lagi jam 7. Meeting di luar, meeting di kantor, shooting, editing. Lagi banyak banget proyek mendadak yang harus kelar. Semua team Ceritera lagi benar-benar diuji staminanya.

Saya membuang muka ke kiri melihat ke gedung-gedung tinggi yang ada di luar kaca, supaya dia tidak melihat wajah saya yang mulai terharu. Mungkin efek capek jadi lebih emosional. #alesan

Dia menyambung, “Jihad itu bikin lapangan pekerjaan buat kasih makan banyak orang. Kasih makan buat saya dan anak-anak kantor. Jadi bos yang bener buat jadi contoh. Hidup rukun sama Ci Pancy. Itu baru namanya jihad.”

Jihad yang dimaksud Warmin ini mirip dengan istilah ‘salib’ buat umat kristiani. ‘Memikul salib’ adalah istilah yang kita pakai untuk tindakan-tindakan berkorban, melepaskan keinginan diri sendiri, mendahulukan orang lain, meninggalkan kenyamanan untuk memenuhi tanggung jawab dan kewajiban kita.

Saya hanya tersenyum kecil dan tidak membalas apa-apa. Semoga dia tidak melihat mata saya yang berkaca-kaca.

Saya haru bukan karena saya dipuji-puji, karena pasti masih ada ribuan, jutaan jihad lain yang lebih mulia dari saya, tapi saya haru karena juga lega, bahwa dia masih Warmin yang saya kenal.

Lampu hijau. Mobil saya masuk ke lobby Pacific Place.

“Kamu makan aja Min, nanti jemput saya di sini lagi ya? Handphone kamu nyala kan?”

“Nyala ko.”

“Oke. Makasih ya.”

Warmin meluncur mencari makan, saya lanjut mencari coffee shop menuju meeting terakhir saya hari itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment

  1. Bikin aja, 60 Detik tentang Jihad. Jadi ada sesuatu yg bisa dibuat viral dan disebar di media massa. That’s a great thing, really

  2. Ayo ko Ed, saya dukung dlm sgl hal (utamanya dlm doa) utk menggenapi ide nya Tuhan melalui Warmin.. Kan lg happening bgt tuh ttg jihad (terrorism)..
    Saya yakin bgt akan jd jawaban (blessings) buat banyak sekali org2 di seluruh dunia & pastinya akan mengubah cara pandang semua org ttg memiliki tujuan hidup yg berkualitas..
    Seperti yg sudah dilakukan ko Edward, pak Ahok, pak Jokowi dan masij byk lg..
    God bless you Warmin! Saya doakan kiranya kamu dpt kasih karunia Tuhan & dpt istri yg cantik luar dalam, amin!

    1. correction for jihad (terorism).
      jihad is a term in moslem and it does not has the same meaning with terorism..

      terorism is terorism.. it is evil…
      what the terorist want is to spread terrify to people..

      jihad is a war against our lust (hawa nafsu) like anger, emotion, etc. the maning of jihad has different meaning in the prophet era which war to the enemy who did invasion. it was just like war in 1945 indonesian civilian against netherland, japan to protect them self and protect what they have from oppresion
      Allah forbid to kill our selves nor kill others.

  3. Bikin film pendeknya.. bagus dan menginspirasi….
    tonjolkan dengan berbagai kalangan, suku, ras, agama…
    agar ungkapan “jihad” itu benar maknanya…