Ribet.

Itu yang pertama terlintas ketika Francy tiba-tiba punya ide untuk mengecat ulang rumah tinggal kita. 

Karena kantor Ceritera sedang direnovasi, maka kita punya tukang-tukang yang bisa dikaryakan untuk mengerjakan rumah kita.

Membayangkan prosesnya aja sudah menyebalkan.

Rumah saya yang kecil mungil, sudah cukup penuh dengan barang dan perabotan. Membayangkan geser sana – geser sini, memindahkan barang ke ruangan lain, cat-cat yang tumpah dan baunya selama seminggu lebih.

Ih.

Lagipula yang saya ga habis pikir: Tembok-tembok rumah kita itu tidak kotor.

Namun ketika Francy sedang ngotot membela argumen dia, dia berkeliling rumah dan menunjukkan ke saya titik-titik yang, menurut dia, sudah harus dicat. “Nih, tuh, udah item gitu. Nih. Tuh. Udah kotor banget.”

Yah memang tembok-temboknya sudah terlihat menua dan tidak secerah tembok yang baru dicat. Tapi tidak sebegitu kotornya sampai harus melewati semua kehebohan mengecat rumah tadi. Buat saya jadi terlalu mengada-ada. Bikin emosi.

Ingin saya bilang dengan keras: “GUA GA MAU CAT RUMAH. TITIK.”

Di tengah argumen yang memanas kemarin, saya tiba-tiba teringat mertua perempuan saya.

Rumahnya itu lega, hanya ditinggali 4 orang, dan mereka semua sangat resik.

Tapi tetap setiap tahun dia mengecat rumahnya.

Sedangkan keluarga saya, jarang sekali mengecat ulang rumah. Jadi buat saya, mengecat rumah itu masuk akal kalau ada penyebabnya. Misalnya ketika ada bekas bocor, atau cat tumpah, atau retak bekas gempa, dll dll.

Makanya ketika dulu tahu bahwa calon mertua saya itu begitu rutinnya mengecat ulang rumah sampai punya tukang cat langganan, buat saya itu hal yang aneh.

“Jadi nyokap elu ngecet setiap tahun gitu?” tanya saya dulu ke Francy. “Iya, biar bersih katanya,” sahut dia.

Mungkin nih ya, mungkin.

Mungkin hidup bertahun-tahun melihat rumahnya dicat rutin adalah salah satu alasan Francy ngotot di pertengkaran kita kemarin, entah dia sadar atau tidak.

Tapi yang pasti, ketika mengingat fakta ini, saya langsung melunak.

Karena saya tahu bahwa keanehan/ketidak-cocokan/ketidak-biasaan seseorang, bukan karena orang itu rese/sakit jiwa/mengada-ada, tapi selalu ada yang melatar-belakanginya. Selalu ada backstorynya.

Ketika dia reseh, teliti, kasar, pemarah, ribet, gampang nangis, gampang marah, tidak sabaran, suka menyelak antrian, suka mengambil makanan orang, sering lupa membereskan meja, dll dll, selalu ada backstorynya.

(Seperti barusan ketika saya menulis ini, Francy geleng-geleng sambil berkelakar setelah melihat dari balkon hotel kita beberapa orang asing yang lagi berenang-renang di tengah teriknya siang bolong: “Bule gila….”

Well, si bule gila kedinginan di kampungnya dan warna asli kulitnya pucat tidak menarik. Dia pasti lebih suka melihat kulitnya yang coklat mengkilat, apalagi nanti setelah pulang dia pasti lebih banyak dilirik orang.)

Dan yang paling penting, mungkin sekali buat si orang itu, kitalah yang sakit jiwanya: “Ha? Kamu ga pernah cat rumah? Ih, barbar.” Betul ga? 🙂

Dalam perselisihan, pertengkaran, perbedaan pendapat, baik itu di hubungan suami istri, hubungan kerja, atau hubungan pertemanan, kita sering terjebak emosi mempermasalahkan hanya hal-hal yang ada di depan hidung kita.

Padahal untuk belajar menjadi orang yang lebih baik, kita harus selalu bertanya: “Kenapa dia melakukan itu?”

Kita harus selalu mencoba mengerti lebih luas daripada hal yang ada di depan mata.

Kita akan jadi lebih dewasa ketika bertutur. Kita akan jadi lebih mengerti duduknya ketika akan memecahkan suatu masalah.

Kita akan jadi lebih bijaksana.

So.

Biru muda, atau merah menyala?

 

 

Menikmati tulisan ini? Dengan berlangganan, kamu akan dapat notifikasi jika ada tulisan-tulisan baru.

12 thoughts on “Istri Mau Cat Rumah, Tapi Saya Tidak.

  1. BIRU MUDA!

    Thanks banget Ko Edward, saya juga hobi nulis dan bikin blog kayak gini. Sangat terinspirasi dengan semua tulisan-tulisan Ko Edward, maybe boleh mampir-mampir ke blog saya ya.
    Wish can share anything with you.
    God bless ko…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *