Kalau lihat sentimen di online, baik yang media betulan, maupun yang meme lucu-lucuan, semua tidak sabar meninggalkan 2016.

Tahun yang mengecewakan, penuh kejutan, dan bikin kering tulang.
Banyak berita ga enak, headline mengagetkan, dan rasa sedih atas berbagai kejadian di seluruh dunia.

Yang terasa paling pahit, tentunya makin berkutubnya semua orang. Ekstrimisme semakin menjadi, pendapat semakin meruncing, baik di peta politik global, di pemilu di Amerika, dan pilkada di Jakarta.

Udara terasa panas, setiap tarikannya seperti menyesakkan dada.

Bener begitu gak sih? Kalian setuju?

Semua kejadian di atas memang benar terjadi, tapi saya memilih untuk berkata bahwa 2016 adalah tahun yang baik.

Kenapa?

Karena segala hal adalah baik jika kita bilang baik, buruk bila kita bilang buruk.

Di tengah kemerosotan, kerusakan, dan kekecewaan, selalu ada pilihan untuk selalu bersyukur, menciptakan peluang, dan membangun diri.

Kesempatan-kesempatan terbaik datang bukan ketika kerumunan berbondong datang menghampirinya, tapi ketika dalam tekanan dan gencetan yang luar biasa, beberapa orang selalu bisa melihat kebaikan dan kesempatan, siap menerima luka-luka dan justru meringsek maju.

Saya berlatih setiap hari untuk jadi orang yang demikian. Belum selalu berhasil. Tapi saya berlatih setiap hari.

Sampai Desember 2016, semua teman-teman Ceritera masih menerima gaji tepat pada waktunya, di akhir tahun bisa kasih bonus yang lumayan, sepanjang tahun ini bisa membidani karya-karya yang membanggakan, lalu saya dan orang-orang yang saya cintai masih sehat semua dan tidak mengalami celaka.

Itu saja sudah menjadi sebuah rasa syukur yang tiada henti.

For me, I choose to say that it is a good year.

Berita memang banyak yang buruk, tetapi ingat kita tidak hidup di dalam berita.

Ketika banyak headline tentang intoleransi, tetapi dalam kehidupan sehari-hari masih banyak sekali teman-teman yang berbeda suku dan agama yang duduk dan tertawa di sebelah kita, menurut saya, itu yang harus lebih kita ingat.

Ketika banyak berita tentang bencana, tapi kita dan orang-orang yang kita sayangi masih terluputkan darinya, menurut saya, itu yang harus lebih kita ingat.

Ketika banyak cerita tentang ekonomi melilit, klien sulit dan bos menjengkelkan, tapi kita masih bisa bekerja, masih bisa makan, beli-beli barang, masih bisa mencicil dan menabung, sekali lagi menurut saya, itu yang harus lebih kita ingat.

Apakah artinya kita harus menutup mata atas kejadian-kejadian yang masuk headline itu? Tentu tidak. Tapi sebelum kita berdiri dan mencoba membuatnya lebih baik, kita bisa lebih bijak dan akurat menilai dunia.

Satu headline buruk seringkali ya hanya itu: Satu headline buruk. Di antara ribuan headline setiap harinya, berlarian adu cepat di treadmill social media feeds kita yang tidak pernah berhenti.

Tapi hidup 24 jam dengan keberadaan diri kita ini, si daging, tulang, dan air ini, bersama dengan udara yang kita hirup dan keputusan-keputusan yang kita ambil setiap hari dan sikap-sikap hati yang kita ijinkan terjadi, menurut saya, itulah dunia yang sesungguhnya.

Bersyukurlah untuk 2016. Toh kamu masih ada di sini.

Taklukkanlah 2017. Hiduplah lebih dari berita dan linimasamu.

Berdirilah untuk dirimu, keluargamu, dan orang-orang yang kamu cintai. Tarik nafasmu untuk bisa sepenuhnya hadir, sebulatnya bertekad, mengusahakan rencana-rencanamu dan mimpi-mimpimu.

Apapun yang kamu rancangkan, jika kamu benar-benar mau memperjuangkannya, masih sangat bisa terjadi, di 2017 ini.

Menikmati tulisan ini? Dengan berlangganan, kamu akan dapat notifikasi jika ada tulisan-tulisan baru.
Name
Email *

7 thoughts on “2017: Hiduplah Lebih Dari Linimasamu

  1. akhirnya nulis juga ko, sampe nanya ke Johenny “Ko Aming kapan nulis lagi?” hehe. thanks ko, keep writing and inspiring . God bless you Ko Ed & Ci Francy.

  2. Adakah cara agar bisa menikmati tulisan ini lewat line ato wa? Saya ingin membaginya dengan siswa saya di grup mereka. Terima kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *