Ada calon-calon pemilih yang sudah pasti dengan pilihannya karena alasan-alasan logis maupun emosional.

Ada calon-calon pemilih yang masih bingung mau milih siapa, juga karena alasan-alasan logis maupun emosional.

Buat teman-teman yang melihat saya sebagai seorang yang aktif dalam politik kerelawanan, terutama ketika Pemilu 2014, mungkin kecewa melihat saya di Pilkada kali ini berpangku tangan.

Mereka yang kenal saya tentu tahu alasannya: karena logika saya tidak pernah ragu untuk memilih Pak Ahok, namun emosional saya mau memberikan kesempatan ke Mas Anies yang saya kenal pribadi.

Nenek-nenek aja tau itu.

Saya belajar untuk peduli tentang bangsa, politik dan masyarakat dari Mas Anies. Dari hari-hari pertama Indonesia Mengajar, sampai ke Konvensi Demokrat, sampai kemarin memuncak di pemilihan presiden yang dimenangkan Pak Jokowi.

Saya senang sekali juga ketika Mas Anies menjadi Mentri di Kabinet Pak Jokowi, karena saya percaya dengan Pak Jokowi dan apa yang sedang beliau kerjakan buat Indonesia.

Ketika Mas Anies memutuskan untuk maju di pilkada ini, saya langsung tahu bahwa keadaan saya akan sulit dan rumit.

Hanya orang naif yang bilang bahwa pilihan selalu hanya ada hitam atau putih, karena jika kita mau jujur, pilihan hidup seringkali abu-abu, apakah itu abu-abu muda, atau abu-abu tua, atau putih gading, atau hitam biru.

Makanya pilihan status di Facebook ada “It’s complicated.” 🙂

Rumit. Itulah posisi saya dan sebab di masa pilkada ini saya berpangku tangan, seberapapun kaki saya ini ingin berlari.

Nenek-nenek yang lain juga tau itu.

Seperti mendengar berita seorang teman yang melakukan sesuatu yang di luar perkiraan kita, hal pertama yang kita lakukan adalah melihat dan mendengar langsung dulu apa yang dia lakukan dan katakan, walaupun seluruh keberadaan kita berpikir sebaliknya.

The relationship and history reserve that judgement.

Kamu bukan orang asing, jangan hakimi dulu. Dengar dan lihat dulu.

Selama kampanye ini banyak headline dan kutipan yang membuat saya mengerenyitkan dahi, dan beberapa hari terakhir ini sepertinya saya sudah cukup mendengar dan melihat.

Sebuah kampanye memang sudah seharusnya merubah pilihan para calon pemilih. Itu baru namanya kampanye yang benar dan berhasil.

Perubahan pilihan ini tidak selalu mendekatkan, tapi bisa juga sekaligus menjauhkan.

Memang saya bukan siapa-siapa, bukan Bimbim Slank ataupun Pandji Pragiwaksono, jadi mungkin juga ga ada yang peduli tentang pilihan politik saya di pilkada ini, tapi saya menyatakan ini untuk teman-teman dan keluarga, baik pertemanan pribadi ataupun pertemanan penggiat kerelawanan dan politik.

Di waktu yang tersisa ini, saya akan mendukung Basuki-Djarot dalam kampanyenya memenangkan pilkada ini.

I never even shook hand with either the man, tapi seperti jutaan orang lainnya, saya melihat rekam jejak, integritas dan kemampuan melaksanakan birokrasi dan pemerintahan mereka.

Saya juga percaya bahwa Pak Ahok adalah salah satu putra terbaik bangsa, dan patut masuk dalam jajaran mereka-mereka yang akan memperbaiki wajah negeri ini. Ijinkan saya ikut dalam perjuangan Bapak.

Buat teman-teman di tim paslon Anies-Sandi, kali ini kita tidak sejalan. Pernyataan ini bukan berarti rasa hormat yang selama ini saya punya akan berganti dengan cibiran. I know you guys are also fighting for your cause, for what you believe is right. I will also try to fight the good fight.

Buat para pendukung dan penggiat Basuki-Djarot – terimalah permintaan maaf pahlawan kesiangan yang tidak tahu malu ini 🙂 Banyak hal yang saat ini menjadi tanggung jawab profesional saya, dan juga banyak hal yang sedang menjadi prioritas saya di keluarga saya, tapi saya akan mencoba melakukan apa yang saya bisa. Jikalau ada yang berkenan bekerja sama, saya dengan sangat senang hati menyambutnya. Saya belum kenal siapa-siapa nih 🙂

Saya selama ini berada di tengah, tidak ada di dalam lingkaran paslon 3, dan juga tidak ada dalam lingkaran paslon 2, sehingga bisa memberikan banyak pandangan jernih untuk jutaan swing voters seperti saya. Itu pun, sekali lagi, jika saya yang tidak tahu malu ini masih diberikan kesempatan.

Buat Mas Anies, saya masih ingat segala perjalanan yang kita sudah lalui. Sungguh setiap hari di masa pilkada ini saya berharap bahwa akhirnya tidak harus seperti ini.

Tapi sebagai orang dewasa kita tahu, dengan keadaan yang berubah, manusia juga berubah. Mengintip dunia politik beberapa tahun ini juga membukakan mata saya.

Mungkin kita berdua memang berubah, Mas. I broke your heart as you broke mine.

Saya hanya berharap, jika ternyata Indonesia yang kita impikan masih Indonesia yang sama, kita masih akan bertemu di waktu yang akan datang. Segera, nanti, atau entah kapan.

Seorang yang saya kagumi pernah berkata, “Lawan bukan musuh. Bisa tetap berdiskusi, bisa tetap guyub.” Karena dia, saya sangat meyakini hal ini. Saya mencoba menghidupi kata-kata ini. Saya berharap ini yang akan terjadi.

Kita selama ini memang selalu berjalan beriringan.

Tapi sekarang, ijinkan saya berjabat-tangan dengan Mas Anies di persimpangan ini, mengucapkan doa supaya Tuhan selalu memberkahi kita, dan memilih jalan yang berbeda.

Menikmati tulisan ini? Dengan berlangganan, kamu akan dapat notifikasi jika ada tulisan-tulisan baru.
Name
Email *

36 thoughts on “Berjabat Tangan Di Persimpangan

  1. It’s complicated.
    I broke your heart as you broke mine.

    Dulu saya juga kagum sama pak Anies, sampe sekarang pun juga masih.
    Tapi saat ini saya harus jujur, saya lebih fix pilih pak ahok dan pak djarot.
    saya pejuang Ibukota sejati, setiap hari berjuang di Ibukota dan merasakan detak perubahannya.
    Maaf, ini bukan tentang imam keluarga tapi pemimpin Jakarta.
    *curhatdikit*
    *dibullyagama*
    *hayatilelah*
    😂😂😂

    Terimakasih koko edward untuk tulisannya 😊

  2. Thank you Edward buat tulisannya.. Banyak sekali teman2 yang menunggu tulisanmu tentang pilkada ini..

    Kata Elfri : Kalo Edward masih seperti Edward yg saya kenal hatinya, dia akan milih pasangan no. 2

    Senang membaca tulisan ini, rasanya nafas sedikit lega hahaha

    Bless and Love you Big Boss

  3. “Lawan bukan berarti Musuh” tulisan yg menarik… tetap menghormati dan menghargai paslon yg tidak dipilih dan tidak harus mencaci, menghujat apalagi sampai harus memfitnah yg bukan pilihan kita… ditunggu tulisan berikutnya… 😉

  4. Wwoww very touching….
    Saya pun pengagum keduanya pada awalnyaa….
    Mengintip peta politik sedikit banyak juga karna sering melihat video mas Anies, terutama pada saat era pilpres 2014….
    Kembali merasa ada secercah harapan di negeri ini…..
    Sayang memang melihat salah seorang yg dikagumi dan kita tidak dalam posisi mendukungnyaa lagi….
    Tetapi betul berseberangan tidak harus mencaci…….
    Seneng liat nyaa warga DKI bisa sedemikian heboh untuk pilkada memilih “pelayan”nya…. semoga sukses buat pilkada DKI……

  5. ” Lawan bukan berarti musuh “…..

    “Competitor is your strategic partner “….

    ” Hari ini kita beda pendapat, besok kita duduk bersama membahas tujuan yang sama”

  6. Very well said..👏🏻👏🏻👏🏻👍🏻👍🏻
    Bukan karena akhirnya memilih pasangan no 2, tp lebih karena cara berpikir dan penuturan yang elegan dan berkualitas.

  7. Akhirnya terjawab…
    Dari awal pernah berpikir,”what will Edward choose?”
    Karna ini memang sepertinya akan sulit buat loe..
    But finally you make a move, wise and brave..

    Keep writing and inspiring, Edward!

  8. Problem pendukung Ahok Djarot sekarang adalah mereka yang cuma diam dan yakin bisa menang cuma dengan datang ke TPS 15 Februari. Akibatnya jumlah pemilih jadi stagnan.

    Kita butuh teman-teman pendukung Ahok berani bicara dan berekspresi mengenai pilihannya. Apa yang Koh Edward lakukan inilah yang kita tunggu-tunggu dan akan berdampak besar. Semoga makin banyak Edward-Edward lain yang turun dan berkontribusi.

    Ditunggu karya-karyanya…

  9. Well said… Finally… akhirnya pertanyaanku terjawab… selalu mikir dan pengen tahu how you see things lately with all the changes… jakarta memang perlu figur seperti Ahok Djarot…

    Kalaupun tidak satu jalan bukan berarti bermusuhan… semua punya doa, mimpi dan harapan utk Jakarta yg lebih baik buat hari ini dan esok…

    #love the way you put your thoughts into such a meaningful words… keep inspiring#

  10. Saatnya berpisah jalan, Thanks Edward utk tulisannya. God bless

    Nb: milih anies atau ahok kayak milih tomat itu sayur atau buah ya

  11. “Mungkin kita berdua memang berubah, Mas. I broke your heart as you broke mine.

    Saya hanya berharap, jika ternyata Indonesia yang kita impikan masih Indonesia yang sama, kita masih akan bertemu di waktu yang akan datang. Segera, nanti, atau entah kapan.”

    Saya juga mikir hal yang sama. Tadinya saya yakin, Mas Anies akan menjadi presiden dan wakilnya pak Ahok. Tapi ternyata bayang semu itu benar-benar semu dan naif. Keduanya sekarang bertarung di ring yang sama. Ini ibarat Batman & Harvey Dent :’)

  12. Saat Mas Anies mendeklarasikan dirinya menjadi cagub DKI, detik itu juga aku sudah ubah haluan untuk memberikan suara untuk paslon #2 dan semoga Semesta menolong Ahok menjelang sidang sidang berikutnya sampai putusan yang seadil-adilnya.

  13. saya pengagum berat ko edward, dan dari awal pilkada ini selalu ada pikiran yang mengganjal dan bertanya2 dalam hati setiap kali saya lihat postingan ko edward di instagram, sekarang ko edward pilih siapa yah?? akhirnya terjawab sudah pertanyaan dalam hati saya..selalu berkarya ko edward.

  14. I’ve been a fan of your pictures since I saw Ernest ‘s family pictures. If I was asked who’s my fave photographer I have two in mind and one of them is you.
    I saw your moves last time at Pemilu. And actually, yes I was waiting for your statement about this.
    I know it must be hard and your writing describe that it is indeed hard for you.
    Tapi… Kamu keren Kak! 🙂
    It was not easy and yet this writing makes me feel moved.
    Thanks for the writing!

    Akhir kata, jadi tomat itu buah atau sayur? XD

  15. T_T i dont know either men, Ahok, Ahok, you too Mr. Suhadi, but i can feel your heart & shed tears as i read you letter.
    For the 1st time in my life, i can feel proud having Jakarta as my country’s capital city cuz of the changes i’ve seen & heard from all kind of people from my business colleagues, taxi drivers, to just random people. I had been so embarrassed everytime Jakarta had flood and other things. It wasnt patriotic & was embarrassed myself. Now, bc of Jokowi has been done to forgotten islands/areas of Indonesia & Ahok to Jakarta, my heart leaps for joy & thank God that He still loves Indonesia.
    I can say Ahok is what Jakarta needs right now to finish what God has in store for Jakata thru him, and Anies may become the next one after Ahok if it’s God’s will

  16. Mas Edward.. Saya dari Bali dan saya angkat Topi atas tulisan ini.. Saya mungkin gak kenal Pak Anies seperti yang mas kenal. Tapi saya pernah kagum ke beliau mungkin seperti mas kagum. Tulisan ini sedikit banyak benar benar mewakili isi hati saya.. Ya mas anies telah broke our heart dengan beberapa move di luar kebiasaannya.. . Selamat datang dibarisan pendukung nomor 2. Salam Dua hari.. Cheers Up mas.. Someday when you are in Bali please notice at your twitterm if you may i want to meet you as a friend.

  17. Saya juga gak pedulu no. 1 or 2 or 3. Tapu Sy paling benci sama korupsi yg bikin rakyat miskin dan menderita tp dinikmati segelintir orang. Apa lagi ada calon yg janjiinlah 1 M utk tiap RW ato kadih bantuan tunai yg cenderung gampang di kurup. Makanya Sy dukung yg anti korupsi, jujur mau kerja keras dan sudah terbukti yakni no. 2 Hidup Ahok – Jarot ! Harus menang 1 putaran. Hanya orang bodoh yg tdk pilih no.2

  18. Been waiting for so long nunggu ko Edward memutuskan milih siapa
    Saya-yang-lebih-bukan-siapa-siapa-dibanding-Ko-Edward ini nungguin pilihan Koko loh! :))

  19. Aku gak pernah kenal kamu secara pribadi. Tapi aku suka baca tulisan2 kamuh. Ketulusan dalam setiap tulisan2 yang kamu tulis sangat bisa aku rasakan. Ketulusan itu gak bisa dibeli. Ketulusan cuma bisa dirasakan. Terus menulis ya, wad. Qta selalu diajarin, “Gak ada barang bagus harga murah”. Artikel bisa sebagus ini, harganya gak ternilai. Semua sudah kamu lalui lewat suatu proses hidup yang cukup panjang. Semoga apapun yang kamu lakukan ga mengurangi kecintaan kamu sama Tuhan. God bless you and ur family, wad.

  20. Tenun Kebangsaan serasa sobek dari atas sampai bawah ketika dia menjawab pertanyaan Najwa Syihab dalam Mata Najwa… kemana orang yang saya kagumi itu pergi….

  21. Memang banyak yang akan mencibir kita jika kita memiliki pemikiran yang berbeda dari orang lain . Namun kita juga harus meyakinkan kepada mereka bahwa pemikiran kita yang berbeda inilah yang benar ko . Wise banget ko tulisannya . keep writing ya ko .

  22. Seandainya saya masih tinggal di Jakarta, pilihan saya juga akan sama dengan Mas Edward. Tapi sekarang saya warga Cimahi, dan saya masih bingung karena ketiga paslon ga ada yg sekeren Pak Ahok..

  23. Post ini luar biasa mendamaikan hati saya yang patah (remuk redam) karena tidak lagi mengenali sosok yang dulu saya kagumi. Saya angkat topi terhadap kedewasaan cara Anda berpikir dan menulis, Bung Edward. Tuhan memberkati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *