Wowsa. Semuanya memang bergerak begitu cepat.

Beberapa jam setelah saya melepas tulisan ini – salah seorang staf Pak Basuki menghubungi saya. “Ko, saya sudah baca tulisan koko. Saya mau datang dan ngobrol. Ini nomor saya.” Begitu bunyi pesan yang masuk ke FB Messenger saya.

Malam itu kami bertemu. Ternyata dia ini sudah mengikuti saya sejak lama, sejak dia masih kuliah di luar negri. “Saya masuk ke balaikota juga gara-gara melihat postingan lowongan yang koko retweet. Saya sudah lama memperhatikan koko, juga banyak ngobrol sama teman-teman pengajar muda yang ada di balaikota, jadi aku tahu aku bisa percaya koko.”

Berbicara 4 mata hampir 3 jam lamanya. Saya mendengarkan dia menceritakan posisi ladang, cuaca, debit air, hama, dan segala hal yang bisa jadi data ketika saya akan meladang nanti. Di akhir pertemuan itu saya sudah punya gambaran jauh lebih baik mengenai keadaan saat ini.

Anak ini perempuan, masih muda, kelas menengah, kristen tionghoa. Dari cara bicara dan pikirnya sangat cerdas.

Sejak SMA, dia sudah gatel mau masuk pemerintahan. “Untuk membuat sebuah perubahan besar, kita harus merubah kebijakan publiknya,” gitu kata dia. Gua SMA kayaknya masih sibuk nonton bokep. Pake modem dial-up. Truittttt-titut-titut-titut….

Tidak mudah buat dia untuk mewujudkan mimpinya karena sudah hampir pasti orang tua yang model beginian (perempuan, minoritas) tidak akan setuju. Tapi dengan kegigihan hatinya, dan walaupun belum sepenuhnya disetujui, dia terus meringsek maju, sampai bisa menjadi salah satu staf “Bapak” (begitu cara mereka menyebut Pak Basuki). Di antara napasnya yang terengah-engah bercerita, saya tak henti-hentinya menatapnya sambil merasa kagum.

“Stop,” tiba-tiba kata saya sambil mengangkat tangan ketika mendengar dia mulai bercerita tentang hal-hal sulit yang dia alami, “Kok kamu mau? Bertahan di dalam?”

Dia tersenyum.

“Dari dulu salah satu alasanku mau masuk pemerintahan, apalagi masuk kantor Bapak, adalah melihat dari dekat apakah semua yang dikatakan orang itu betul. Aku pingin sekali membuktikan dengan mata dan telingaku sendiri.”

“Dari semua yang aku lihat dan dengar selama aku di dalam, aku tahu bahwa perjuangan Bapak untuk membersihkan yang kotor, memperbaiki sistem, membereskan cara orang bekerja, semuanya itu benar.”

“Di dalam itu sudah bener-bener…” dia lalu menghela napas sambil melihat langit-langit mencari kata yang tepat, “apa ya ko? Benar-benar berantakan.”

“Memang banyak mereka yang berdedikasi dan bersih, tapi jauh lebih banyak yang kerja sembarangan dan kotor dan terang-terangan melakukannya. Yah paling gampang kita jangan lupa lah sebelum semua perubahan ini mengurus ijin dan surat itu seperti apa?”

“Tidak seperti swasta, kerja di pemerintahan otomatis akan naik pangkat dan gaji, dan baru pada jaman Bapak ada sistem KPI (penilaian kinerja yang biasanya dipakai bisnis, semacam rapor sekolah gitu). Kalau tidak ada dedikasi dan hati betul-betul untuk menjadi pelayan publik, godaan untuk kerja secukupnya dan sembarangan pasti sangat besar.”

“Uang yang ada juga bukan uang mereka. Anggaran sudah tersedia, nih segini banyak jumlah uang untuk mengerjakan proyek-proyek. Jadi rasa memiliki, bertanggung-jawab dan menjaga juga ga ada. ”

“Bapak makanya paling marah, ketika tahu ada yang mengambil uang. Betul-betul geram dia. Saya harus akui itu kelemahan dia. Tapi tentu dia begitu hanya kepada mereka yang ketahuan nyolong.”

Dia menghela napas lagi, “Semua rame pilkada ini kan sebetulnya karena begitu ko, Bapak itu mecat-mecatin yang ketauan nyolong. Banyak orang bukan lagi hanya terganggu, tapi terpotong penghidupannya.”

“Saya bertahan di sini, walaupun orang-tua tidak setuju, walaupun tekanannya sangat besar, walaupun pulang tengah malam terus, karena saya mau melihat Bapak meneruskan pekerjaan yang sedang dia lakukan.”

Ada jeda di udara.

“Saya percaya Bapak, ko,” kata dia tersenyum layu, karena memang sudah hampir pukul setengah satu malam.

Ketika akan beranjak pulang, dia berpesan, “Oh iya ko, nanti kalau ketemu Bapak, apa yang selama ini koko lihat di televisi, yah memang begitulah dia. Persis. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Apalagi nanti kalau kita akan kerja bareng, pasti kena juga lah koko. Tahan-tahanin aja ya ko,” tambahnya dia sambil cengengesan.

Sambil melihat mobil yang mengantarnya berjalan menjauh, saya berpikir, tidak masalah juga sih kalau gue kena semprot, apalagi kalau gue memang salah.

Salah satu titik balik dalam perjalanan bisnis saya adalah ketika seorang mentor saya memberikan sebuah nasihat emas waktu saya berdarah-darah berusaha membangun team yang solid.

Dia bilang, “Manusia itu ga ada yang sempurna Ward. Mereka pasti banyak kekurangannya, apalagi yang sering kita lihat sebagai bos. Tapi elu harus inget, mereka juga banyak kelebihannya. Nah fokus pada kelebihannya, dan taro mereka di tempat yang kelebihannya itu akan berguna.”

That talk changes everything.

Saya berhenti mencari anggota team yang adalah manusia sempurna, tapi mencari mereka yang ketika punya banyak kekurangan, masih punya lebih banyak kelebihan yang saya perlukan.

Pak Basuki sudah bekerja begitu banyak dalam waktu begitu singkat dengan begitu bersih, kekurangan pengendalian tempramennya adalah salah satu hal kecil yang sangat saya bisa tolerir.

Saya sendiri membayangkan diri saya yang sebetulnya sangat bertempramen tinggi ini, ketika ada karyawan kantor saya mencuri uang kantor, ketika dengan tindakannya itu dia mengambil sesuatu yang mungkin saja adalah hak teman-temannya, dan ketika dia berpikir bahwa orang-orang tidak akan mengetahui tindakannya itu.

Saya, dan mungkin juga Anda, akan marah besar.

Jangan biarkan narasi kampanye politik yang bertubi-tubi menggeser salah satu kebenaran mendasar yang sangat masuk akal: Pak Basuki marah kepada para pencuri, sama seperti saya dan Anda akan marah kepada pencuri. Pencuri uang, pencuri waktu, pencuri kepercayaan.

Tidak ada yang marah setahun lalu ketika ada tulisan tangan “pemahaman nenek elo!” di lembaran rencana anggaran yang jelas-jelas berfoya-foya dengan uang pajak kita dengan membuat rencana kerja ‘pemahaman-pemahaman’ entah berapa puluh baris. Dicopy-paste aja duit hasil keringat kita yang 100 juta itu.

Kita semua bersorak menunggu yang beginian.

Finally someone makes sense.

Finally someone said it to the faces of the corrupt that’s been taking our money for decades: “Duit nenek moyang lu jon?”

Remember that?

Jangan lupa itu.

Jadi tidak apa-apalah saya nanti kalau akhirnya ketemu kena semprot Bapak.

Walaupun ternyata, ketika saya bertemu beliau keesokan harinya, yang kita lakukan hanyalah tertawa, tertawa dan tertawa 🙂

(bersambung)

Menikmati tulisan ini? Dengan berlangganan, kamu akan dapat notifikasi jika ada tuiisan-tulisan baru.
Name
Email *

14 thoughts on “Bertemu Staf Ahok Untuk Pertama Kalinya

  1. Tolong ko edward, kasih tulisan ini dibaca pandji pragiwaksono, sahabat anda, kewarasan aja yg bicaralah jgn kultus individu. ahok tidak dikultuskan dan dipuja tapi dibutuhkan dan jadi teladan

  2. Waaww hati saya berdegub2 spt mencapai klimaks, tnyata msh bersambung… 🙂
    Siap2 menerima keteladanan yg disaksikan langsung dr Bapak ya ko, itu akan berbekas seumur hidup pastinya (sampai akhirnya akan merubah pola pikir dan tindakan kita semua).

    Cheers 🙂

  3. Kerenn nih koh….. bener2 salut dan makin nge fans dgn pak Ahok…..
    Nice writing and describing the situation….

  4. pertama dalam sejarah Indonesia merdeka 71 tahun , 1945 – 2016 ; Semoga dua periode bagi pasangan pak Ahok dan pak Djarot ; Kisah diatas inspiratif terlebih bagi kaum minoritas; Bersama kita mampu wujudkan Jakarta Baru , miniature Indonesia Baru ! – Arsip ; Prof Umar Khayam (alm.) dalam pidato pengukuhan jabatan guru besar di UGM – Jogyakarta mengatakan korupsi di Indonesia terjadi bukan karena kita adalah bangsa yang berwatak dan bermental MALING tetapi karena kita adalah bangsa yang murah hati. Suka menolong sesama, teman , handai tolan , sanak keluarga walau tak punya uang ; Ingin dianggap dewa penolong , tampil gumebyar, mikul duwur, mendem jero ;…..diakhir pidatonya sosiolog dan sekaligus budayawan ini berujar lirih ; alangkah sunyi dan sepinya dunia ini kalau saja Suksesi ( baca : keberhasilan ) di Indonesia dapat tercapai oleh karya satu orang , kerja dua atau tiga , atau sekelompok orang , atau segolongan masyarakat tertentu saja.

  5. Sasaran besar selanjutnya adalah Jokowi.
    Inilah memang yang membuat hati kita capek melihat issue belakangan ini yaitu ketika kita sadar bahwa seseorang yang sudah banyak berbuat hal2 yang berguna untuk rakyat dan bangsa Indonesia sedang mau dijatuhkan oleh segerombolan manusia2 yang tidak jelas sudah berbuat apa untuk bangsa ini. Saya pribadi menyebut mereka Nyamuk2 Politik.

  6. Kemajuan Jakarta diawali dengan kalimat “pemahaman nenek lu!”. Luar biasa…!

    Indonesia sedang berbenah untuk kemajuan dan Jakarta adalah intinya. Jokowi dan Ahok adalah kebanggan saya sebagai rakyat di negeri ini.

  7. just read about your blog, ko!
    Dari gw kecil jujur aja males banget ngikutin politik karena menurut gw its full of fake people!
    Banyak drama2 yg gak make sense and terlalu kotor..
    Tapi sejak kemunculan Pak Jokowi dan Pak Ahok, lama2 mulai ngikutin politik (walaupun masih belajar2 lagi), dan ada sih terbesit pengen jadi relawan2 yg terjun langsung juga..
    Kehadiran mereka berdua yg buat gw tertarik “wow finally!! Ada juga orang bersih..” dan ada juga yg berani kaya Pak Ahok buat marah2 apa adanya. Ya gimana gak naik darah, orang Indo kan lumayan bebal kalo dikasih tau yg bener, jadi kayanya emang mesti di galak-in kaya gitu biar kapok. Kalo gak, kapan mau maju ini Jakarta..
    Semoga dibukakan deh mata2 orang yg masih anggep Pak Ahok itu marah2nya doang, gak liat sisi positif dari apa yg dia lakuin selama ini.
    Gak gampang loh jadi gubernur, urusannya banyak, masalahnya banyak.. Tapi oleh Pak Ahok yg periodenya udah mau abis ini, kita udah rasain banyak perubahan.
    So, please open your mind deh.. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *