“Manusia itu memang aneh.”

Tulisan ini adalah tulisan kelima dari seri #7HariTulisanBuatYangGaSukaAhok sedikit sumbangsih saya untuk berpartisipasi dalam pesta demokrasi Jakarta. Saya percaya semua orang, apalagi anak muda, harus peduli politik. Karena konsekuensinya tidak terelakkan akan dirasakan oleh semua orang. Saya bukan orang dalam, saya tidak dibayar, hanya orang biasa yang menyuarakan pendapat saya. Jikalau kamu masih bingung memilih siapa di Pilkada Jakarta 2017 dan mau membaca tulisan lain di seri ini, klik di sini.

Ibu saya pernah berkata demikian.

“Seringkali kita berdoa ke Tuhan, ‘Tuhan! Please jangan ketinggalan pesawat,’ atau, ‘Tuhan, please, tolong, tolong semoga operasinya berjalan lancar.'”

Dia sebetulnya ketika bicara ini juga bicara tentang contoh yang seram/tidak mengenakkan, yaitu sewaktu terjadi kerusuhan 98, “Waktu kita dengar massa bergerak menuju rumah kita, kita nangis-nangis berlutut berdoa, ‘Tuhan, Tuhan, tolong luputkan keluarga kami, Ya Tuhan…'”

Ibu lalu lanjut berkata,

“Ehhh, ketika habis lari-lari di airport dan ternyata pesawatnya delay, kita bilang, ‘Tuh kan, untung delay pesawatnya…'”

“Juga ketika selesai operasi, ternyata semua lancar, tidak ada komplikasi, kita bilang, ‘Untung semuanya lancar…’ ”

Dan juga, “Ketika massa berbelok tidak jadi berjalan ke arah rumah kita dan tidak terjadi apa-apa, kita cuma berkata, ‘Untunggg mereka ga kesini…’ ”

“Kita berdoa-berdoa meminta ke Tuhan, tapi ketika yang kita minta dikabulkan, kita seringkali cuma berpikir, ‘Yah, untung begini,’ atau, ‘yah, memang begitu/harusnya begitu.’ “

“Hasil baik yang kita terima dan rasakan seakan-akan memang sudah seharusnya terjadi, dan bukan hasil dari doa kita dikabulkan.”

Kalau mau jujur, kita memang sering begitu sih 🙂

Memang mulut ini sering mengucapkan, “Puji Tuhan,” atau, “Alhamdulillah,” tapi seringkali sebagai sebuah tata-cara bicara yang sopan dan merendah aja. Jarang ketika berucap itu dalam hati kita betul-betul berbunyi, “Kalau bukan karena Tuhan yang mengabulkan doa, hasilnya tidak mungkin seperti begini.”

Mungkin karena yang kita doakan itu hal-hal besar ya. Hal-hal yang sepertinya tidak dalam kendali kita dan tidak mungkin kalau tidak ada campur tangan Ilahi. That’s why we’re praying in the first place, right?

Kalau misalnya kita meminta ke teman kita, “Bro, charger hape gw ketinggalan di meja gw, nanti elu ke sini tolong bawain ya?” lalu sore itu kita meeting lalu charger itu diterima di tangan kita, sewaktu kita bilang, “Makasih ya Bro,” kita dengan sepenuhnya sadar bahwa jika si Bro tidak bawa chargerannya, maka sore itu kita tidak punya charger.

Si Bro perannya sangat jelas dalam adanya charger di tangan kita ini.

Beda dengan masalah pesawat bisa delay dan pendarahan tidak terjadi dan kerumunan massa bisa berbelok. Terlalu besar mekanismenya, prosesnya tidak kasat mata, dan terlalu ‘ilahi’ untuk bisa dimengerti, dan oleh karena itu lebih sulit disyukuri/dihargai perannya. Tidak seperti si Bro.

Itulah sebabnya kita sering berpikir seperti yang Ibu saya bilang tadi.

Nah, yang saya mau ambil itu bukan masalah iman dan Tuhan, karena siapalah saya punya kewenangan bicara iman. Apalagi ini mau menyamakan Tuhan dan Ahok, please jangan plantar-plintir ya 🙂

Yang saya mau ambil dari pemahaman di atas adalah:

Kita seringkali tidak betul-betul sadar ketika Jakarta tidak lagi rentan banjir seperti dahulu, ada mekanisme rumit yang besar dan panjang yang dikerjakan oleh banyak sekali orang di belakangnya.

Sekarang tidak banjir, karena, ya, cuma tidak banjir aja.

“Untung tidak banjir,” gumam kita dalam kebisingan bunyi air hujan ketika kendaraan yang kita tumpangi membelah jalanan yang biasanya buntu oleh genangan air.

Padahal jika kita mau mengingat dan menimbang,

ada keputusan-keputusan di meja-meja rapat,
diskusi-diskusi solusi yang perlu keahlian dan pengalaman,
bahwa harus dibentuk sebuah pasukan yang bekerja khusus membersihkan sungai,
bahwa harus dipikirkan gaji mereka dan fasilitas yang mereka dapatkan,
cara perekrutan dan pengelolaan mereka,
pembagian dan pengaturan zona-zona pembersihan,
cara angkut sampah dari sungai sampai ke tempat pembuangan,
mengerahkan mesin-mesin keruk yang mengapung di sungai-sungai,
membuat sistem yang bisa dikontrol dan berjalan dengan baik,
terus-menerus membuat program sosialisasi sehingga warga tidak membuang sampah sembarangan,
membuat keputusan-keputusan tidak populer seperti relokasi warga bantaran sungai,
membangun rusun dan mempersiapkan tempat tinggal dan sistem penunjang buat mereka,

dan masih panjang lagi ratusan mekanisme-mekanisme kecil dan rumit yang terjadi setiap hari, setiap saat, di berbagai tempat,
dengan sebuah tujuan akhir:

Membuat Jakarta tidak lagi rentan banjir.

Setelah bertahun-tahun foto-foto mobil terendam menghiasi halaman depan koran-koran, dan semakin memburuknya keadaan di tahun-tahun terakhir sebelum era perubahan yang dikerjakan oleh Pak Ahok dan semua tim penanggulangan banjirnya:

Jakarta kini tidak lagi rentan banjir.

Hal ini terjadi karena rentetan tak terhitung keputusan-keputusan dan peristiwa-peristiwa dan pekerjaan-pekerjaan yang terjadi selama ini. Tak kasat mata, seringkali tidak terdengar dan tidak terpikirkan.

Saya seminggu ini di Penang, Malaysia, tapi melihat berita-berita dan chatting dengan beberapa teman, memang betul-betul dirasakan oleh semua warga Jakarta yang biasanya berolah-raga mengangkat tivi dan kulkas setiap hujan besar mengguyur Jakarta:

Jakarta kini tidak lagi rentan banjir.

Sewaktu kita meminta, baik melalui cara berdoa kepada Tuhan untuk meminta pemerintah yang becus, atau dengan cara marah-marah di sosmed meminta kinerja yang baik dari mereka yang berwenang, atau dengan cara mendukung pemerintah daerah yang berjanji akan menangani masalah banjir,

ternyata doa kita didengar dan permintaan kita disanggupi dan janji yang diberikan ke kita ditepati.

Bukan sekadar ‘untung’, atau ‘memang’.

Kali ini, ketika menembus jalanan basah Jakarta di tengah hujan lebat tanpa mengalami banjir, yuk kita ucapkan, “Terima kasih Tuhan, ini tidak akan terjadi tanpa campur tangan-Mu, dan terima kasih untuk begitu banyak orang yang tidak kami lihat yang sudah dan terus bekerja keras untuk membuat Jakarta tidak rentan banjir lagi.”

 

*PENTING: Sertakan link http://gasukaahok.com jika kalian share this post, baik di FB maupun di Twitter – supaya mereka yang mau membaca tuntas bisa mengikuti post-post lain.

Menikmati tulisan ini? Dengan berlangganan, kamu akan dapat notifikasi jika ada tulisan-tulisan baru.

8 thoughts on “Ahok Bukan Dewa Banjir

  1. Hai, si Bro Edward..hehe.. memang terasa bgt perubahan “status siaga banjir” di jakarta ini sejak ahok memimpin kota tercinta. Terlebih sebab bbrp hr ini jakarta diguyur hujan tak berkesudahan, jd terpikirlah tulisan di bwh ini, yg saya br saja post di path dan FB..
    “Tak perlu debat sampai penat
    Cukup uji pakai hujan lebat
    Tak tampak genangan secara kasat
    Bukti pemimpin yang bekerja dengan giat
    Atasi masalah dengan cepat dan akurat
    Putar otak peras tenaga bak akrobat
    Bukan hanya demi keluarga tapi sungguh untuk rakyat
    Kota yang kuat memang butuh pemimpin hebat
    Yang tak sekedar asal menjabat tapi pegang amanat
    Maaf kampanye jadi makin niat
    Karena harinya pun makin dekat
    Jangan sampai pilih yang sesat
    Pakai hati dan akal sehat
    Beri suara dengan tekad bulat
    Biar kota makin maju pesat
    Jangan biarkan rakyat balik melarat

    *Yang gak bisa lihat,
    kayaknya butuh rehat*
    😄✌”

    Demikianlah…..
    Anyway saya suka bgt menulis dan biasa menulis lwt account instagram saya. Dan saya br menemukan ada blog si Bro Edward, wahhh saya senang sekali sama tulisan2nya si Bro 😜 saya sdh subscribe dan dinantikan lg tulisan berikutnya.. oyah salam kenal ya, sbnrnya saya kakak iparnya Gamaliel dan Audrey Tapiheru yg kmrn br kerjasama brg di CTS pastinya kan sama si Bro! 😁 GOD bless u, si Bro! Keep your light shines..

  2. Ya..ini dia salah satu alasan gw milih pak Ahok. Krn sudah membuat daerah rumah ga banjir lagi. Yang biasanya banjir 5 tahun sekali, puji Tuhan semenjak ada pak Ahok aman lah…semoga seterusnya ga banjir lagi. #kemayoran
    #TuhanpastijagapakAhok
    #tulisannyakeren!

  3. Mana ada dewa banjir. Dewa itu sendiri apasih? Anak2 tuhan. Tuhan itu cuma 1 tidak beranak dan tidak diperanak kan dan tidak ada yang setara dengan dia. Kalo dia mau membuat sesuatu Dia tinggal bilang “Jadilah” maka sesuatu itu pun jadi. Dan semua urusan sudah dikerjakan oleh malaikat, dengan seizin Tuhan nya, sedang kan manusia hanya lah hamba nya yang di uji untuk dilihat siapakah yang paling baik amal nya. Jadi ada sistem nya, jangan ngomomg asal2 an dewa2, emang nya dewa itu apa? Anak tuhan, sepupu tuhan? Emang Tuhan punya sodara, punya istri punya anak? Mikir sendiri ajasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *