Dia menyeka air matanya, sambil bersandar di lenganku.

“Sudahlah, jangan sedih.”

Pola si anjing kesayangannya menaruh dagunya di atas perutnya, seakan-akan ingin ikut menghibur walau tanpa kata-kata.

“Kita sudah coba. Kali ini gagal. Artinya ya, kita coba lagi.”

“Mungkin karena aku cowok ya. Bisa lebih memisahkan perasaan dan kejadian.”

Masih terdengar suara nafasnya yang basah oleh air mata.

“Aku melihat perjalanan kita menuju kamu hamil ini tidak berbeda dengan perjalanan orang-orang yang lagi bangun bisnis.

Mereka yang membangun bisnis, banyak yang berhasil, tapi banyak juga yang gagal.

Kenapa?

Mereka dan banyak orang lain biasanya tidak bisa menjawab pertanyaan itu.

Tapi buat kita yang sudah mengalami perjalanan membangun usaha sampai sekarang, kita bisa jawab, kan?”

“Inget gak kalau kita lagi ngomongin orang?” tanyaku sambil tersenyum.

Dia mengangguk lemah.

“Kita lihat si xxx tidak berhasil, karena ya memang kerjanya main terus. Ga heran. Ga ada daya juang.

Atau si xxx yang pedulinya sama gaya dan gengsi tapi nggak pernah mengulik model bisnisnya.

Atau si xxx yang peduli cuma sama produk dan marketing tapi tidak pernah belajar cashflow dan pembukuan.

Atau si xxx yang selalu gagal berkompetisi karena bermainnya terlalu aman.”

Aku menghela napas.

“Dari sudut pandang kita, kita bisa melihat bahwa semua kegagalan-kegagalan mereka, apapun alasannya, selalu ada solusinya. Ada obatnya.

Tidak pernah kan kita kalau lagi melihat orang-orang yang belum berhasil ini, kita berkata bahwa mereka kena kutuk, atau mereka memang ditakdirkan jadi orang gagal terus.

Coba, misalnya si xxx curhat ke kamu, bilang bahwa dia ditakdirkan hidup susah, memang ga punya hoki, kamu setuju nggak?”

Dia menggeleng.

Banyak sekali memang kebenaran yang kita berdua pelajari dari perjalanan bisnis kita yang sudah lebih dari 15 tahun ini.

“Sama juga soal kehamilan ini.”

“Jangan pernah mengutuki diri sendiri, bertanya apa yang salah dengan kamu, bertanya jangan-jangan kamu tidak layak jadi seorang orang tua.

Kamu akan sama konyolnya seperti mereka yang seharusnya memperbaiki cashflow tapi malah berpikir takdir sudah memvonis hidup mereka untuk hidup gagal terus.”

Dia mulai tersenyum.

“Lagipula Cy, dua garis di barang ini itu bukan apa-apa,” kataku sambil mengambil test-pack kehamilan yang barusan dia pakai.

“Ketika kita suatu hari dapet dua garis, so what?

Kita masih harus berharap dan menjaga supaya janinnya tumbuhnya bagus dan sehat. Supaya tidak jadi seperti banyak cerita yang kita dengar ketika janinnya tidak bertumbuh dan harus dikuret.

Ketika janinnya tumbuh bagus, sehat, kita tetap harus jaga kamu selama kehamilan supaya tidak terjadi apa-apa.

Lalu ketika saatnya mau lahir, kita harus memastikan prosesnya lancar, kamunya sehat, tidak ada komplikasi.

Ketika bayinya lahir, kita juga belum tahu apakah nanti seluruh organnya lengkap, apakah dia nanti tumbuh berkebutuhan khusus, apakah dia nanti SD ketika main sama temannya kepalanya bocor ketimpa apaan gitu, apakah nanti ketika dia SMA bakal bergaul dengan narkoba, apakah dia akan menikah dan bahagia, apakah nanti dia punya anak-anak yang tidak menyusahkan hidupnya?”

Casey Neistat pernah bilang ini di salah satu vlognya, dan aku suka sekali.

Dia bilang,

‘In life, we never arrived.’

‘We’ll never get to the point: ‘YES WE MADE IT!’

‘Because in life, there will always be that next step.’

Aku juga percaya begitu. Kita sebagai anak, pasangan, sahabat, orang-tua, pebisnis: we will never, truly, arrive.

‘Saya sudah sampai di titik puncak saya. Saya berhasil. Saya bisa bahagia sekarang, di tempat ini.’

Tidak ada itu.

Yang benar menurutku bahagia itu rel panjang dengan stasiun-stasiun keberhasilan.

Sambil terus memainkan test-pack itu lagi di hadapan kita berdua, aku berkata,

“Ketika suatu hari nanti kita lihat dua strip, tentunya bahagia, tentunya senang, tapi jangan terlalu senang seakan-akan we have made it, we have arrived.

It’s just a station in our long railroad of being good parents.

Ketika kita berharap-harap untuk bahagia, namun kita bisa ingat bahwa kejadian yang kita nanti-nantikan itu bukan sebuah tujuan akhir, maka kita bisa kecewa tanpa terlalu kecewa.

Kuletakkan test-pack tadi karena tiba-tiba kuingat bahwa barang itu barusan dipipisi Francy. Yuck.

“Yang penting sekarang adalah solusi. Apa yang ga berhasil kali ini, kenapa, dan cari tahu bagaimana memperbaikinya. Lalu kita coba lagi.

Setuju?”

Dia mengangguk.

“Oke, kita lanjut ya. Bentar, aku cuci tangan dulu.”

Menikmati tulisan ini? Dengan berlangganan, kamu akan dapat notifikasi jika ada tulisan-tulisan baru.
Name
Email *

38 thoughts on “Kita Tidak Akan Pernah Sampai

  1. Seakan2 ini ditulis khusus buat saya si gadis dalam penantian..hehe
    *dalam penantian teman hidup.
    Makasih ko Edward yg telah menulis ini dengan indah dan iman yg gagah berani.
    Sungguh menguatkan.
    Immanuel.

  2. Oh my God,, i’m sooo relate with this post.
    Pas bangettt sihhh moment gw bacanya.
    Thank you koh..
    Semoga aku dan istrinya kokoh segera ditibakan di stasiun kebahagiaan berikutnya yaitu kehamilan.
    Amin.
    Oh ya…kokoh bijak bgt euy
    God bless you.

  3. Terima kasih, isinya tulisan nya membantu menguatkan dan mengingatkan gue akan ‘hal yang (mungkin) terlupa’ saat ini πŸ™‚

    Di kala terus berharap dan berucap ‘sampai kapan’? Ternyata memang dalam hidup yang tersedia adalah penggalan-penggalan ‘pitstop’ yang sesungguhnya untuk kembali mengumpulkan tenaga, keberanian, sabar, dan segala ‘perbekalan-nya’.

    Kayak ingat juga scene dalam sebuah film, “Klo berharap banyak, harus siap kecewa banyak”. Bukan begitu Koh? πŸ˜›

  4. Terimakasih
    Membaca ini seperti reminder bagi diri sendiri.. stop bertanya kapan stop menyalahkan diri sendiri…semoga gerbong gerbong kebahagiaan segera tiba di waktu yang tepat … amien

  5. Thank U Ko Edward, saya baca postingan ini bertepatan dengan perasaan blue barengan ama suami krn abis pulang komsel di gereja yg notabene pasutri yang dah punya baby dan calon baby, dan sedihnya kami the yang masih “lain sendiri”. Well It quite strengthens me and my husband πŸ™‚ thanks once again for this great article,

  6. Tulisan ini sama seperti keadaan yg sdang kami hadapi, menanti kehadiran buah hati. Kadang sya merasa putus asa n berpikir yg ga2. Tp suami sya cukup sabar n tak henti2x menyemangati sya ketika tiap bulan testpack menunjukkan hasil negatif.. tulisan inj mengajarkan sya tuk ‘never stop set our hope’…

  7. Saya ada di posisi Ko Edward tahun lalu, tepatnya 31 desember 2015, di saat semua org bahagia menantikan tahun baru, kami mendapat kabar klo program bayi tabung kami Gagal. Pdhl kami sudah menanti 8 tahun, dan ngerasanya saat itu program bayi tabung udh pasti berhasil.

    Tapi, Tuhan punya rencana lain. 4 maret 2016, kami hamil alami. Tanpa inseminasi lagi, tanpa sinshe lagi, tanpa bayi tabung lagi, tapi dengan IMAN besar yang suami sy pegang teguh. Saat gagal, sy ingat suami sy bilang “sy beriman tahun depan kita akan punya anak, Tuhan pasti kasih” dan ya, waktuNya yang paling sempurna.

    Semoga waktuNya segera sampai di kehidupan ko Edward & istri. Just keep swimming kalo kata dory 😁

    1. Oh my God… saya juga baru mengalami kegagalan BT mba.. setelah 8 tahun juga dan tgl 4 feb kmrn dinyatakan gagal… padahal saya da optimis banged berhasil karena tidak ada masalah apapun… saa ini saya sangat down kek jatuh ke jurang paling dalam….. mudah2an daya bisa spti mba ya.. hamil alami aminnn

  8. Gimana caranya bisa sampai ke state of mind “in life, we’ll never arrived”…? saya umur 31 tapi kayanya belum sampai ke state of mind seperti itu

  9. Saya ada satu product bagus, sudah banyak membantu orang lain Yang juga mengalami masalah dalam memiliki keturunan, pm for detail ya.

  10. Ah semua kata-kata nya tepat semua. Ketika saya dan suami, kami berdua berdoa berusaha hanya fokus hingga benar dapat tanda 2 garis di testpack kami kira akan ada rasa lega ‘akhirnya’, ternyata kecemasan baru sudah mengantri. Tumbuh kembang nya normal kah? Detak jantung nya sudah terdengar kah? Kenapa perutnya suka nyeri?

    Yang akhirnya membuat kami sama dengan apa yang kokoh pikirkan ‘so what’, in life, we never arrived.

  11. 6tahun sy pacaran dgn pacar sy, yg berbeda suku dan keyakinan pluss tdk direstui ortu kedua belah pihak tp msh ‘ngotot’ menjalani sampai skrg, karena merasa ini yg terbaik. Baca tulisan ini mngingatkan sy yg sllu bertanya dlm hati..kapan sy bisa spt pasangan lain? Menikah??berkeluarga? Baca tulisan ini… membuat sy semakin ngotot tentunya utk tetap berusaha melewati smua stasiun pemberhentian, demi ap yg sy yakini..klo hidup berpasangan krn cinta dan pngertian bkn krn suku atau agamaπŸ™βœŒοΈ

  12. Jadi inget pengalaman menunggu garis dua di test pack sungguh bikin stress apalagi kalau telat sudah 10 hari…pada tahap sudah pasrah pada tahun ke lima garis dua itu muncul…

  13. Gak tau kenapa, pasti senang kalo ada pasangan kaya gini. Yg bisa saling menguatkan dalam segala kondisi. Semoga penantian kalian segera berakhir ya.

  14. Thanks ko..your article so inspiring. Aku jg sedang program hamil, tulisannya menguatkan sekali. Sy yakin Sang Mencipta ga pernah membeda2kan dalam memberi. Hanya kadang waktunya saja yg berbeda. Semangatt koko n Francy. Yg penting never give up.

  15. Hi Francy sayang..Jangan bersedih terus yaa 😊😊.Meski saat ini blm ada si buah hati..Kuliat hidupmu bersama Edrward sangat kompak dan bahagia kok.πŸ˜ŠπŸ’–πŸ’–.Bahkan melebihi mereka yang sudah pnya anak..So,enjoy your life and tetap berharap dan berusahaπŸ˜ŠπŸ˜„.πŸ’–πŸ˜˜πŸ˜˜

  16. Kemarin Ada beberapa customer yg cerita ga bs hamil. Tp kl buat kacamata medis, Harus dilihat yg bermasalah yg perempuan atau yg laki laki, Jd case by case, tdk hamil Belum tentu krn perempuan, bs jg Karena laki2. Nah kl semua yg bs dimaksimalkan sdh di maksimalkan hukumnya wajib ditambah berdoa, dan jangan terlalu stress, ntar tiba2 Tuhan bs kasih. Gbu

  17. aaaaah semakin membuat ngga sabar menanti stasiun2 baru di depan setelah ini.

    semangat terus! karena dg semangat pasti ada harapan2 baru yang akan tumbuh menghiasi perjalanan ini.

  18. Aku mau bantu, karena sudah banyak teman2 yang berhasil. Kira2 apa bisa kita ketemuan supaya kita bisa jelasin produk nya? If yes, please email me, thanks..

  19. terima kasih sdh diingatkan koh..artikelnya menguatkan bagi sy yg jg program, tp juga buat yg lain. beriman, berdoa, berusaha ke setiap “titik stasiun” yg dituju tp tidak lupa tetap bekerja dan bermanfaat buat yg lain. GBU

  20. Hi Bro (and sis), tetap semangat ya..

    The title of this post is ABSOLUTELY true! Saya share sedikit cerita saya untuk memvalidasi judul artikel ini, sekaligus memberi semangat kepada nyonya yg mungkin lebih emosional.

    Anak saya saat ini berusia 9 tahun, tunggal. “Kenapa ga nambah?” See, pertanyaan seperti ini yg membuat saya setuju bahwa sebenarnya “Kita tidak akan pernah sampai”. Dari kita yg awalnya mudah sekali punya anak (hanya kosong bberapa bulan sejak kita menikah), sampai kita dgn mudah sekali memutuskan untuk “kayaknya 1 anak aja deh, soalnya sakit gila pas lahirin nya”…. sampai dengan mudah sekali kita berubah pikiran menjadi “hmm ok deh boleh juga nambah 1 anak”, mungkin karena di bombardir pertanyaan “kok cuma 1 anaknya?”

    Jadilah kita iseng program anak ke-2. Program pertama berhasil dengan gagal. Sangat berbeda dgn anak pertama yg tokcer, program anak kedua ini ternyata tidak semudah yg dipikirkan. Mulai dari konsumsi jamu cina, pijit refleksi, Laparaskopi, Inseminasi, Bayi Tabung, you name it.. sudah kita lalui, bukan hanya 1-2x tapi untuk program bayi tabung sendiri kita lalui sampai 4x.

    Cukup banyak biaya, waktu, tenaga dan terutama adalah emosi yg terbuang untuk mengusahakan anak ke-2 kami ini. Sampai akhirnya kami pun sepakat bahwa mungkin memang kita belum di karuniai dan mau usaha bagaimanapun, senormal apapun kondisi kami berdua, memang ternyata mungkin belum waktunya.

    Kami pun sepakat program yg belum berhasil ini tidak boleh merenggut kebahagiaan kita apalagi mengutuk kondisi keluarga kami “belum sempurna”.

    Toh kalau dapat anak ke-2, apakah dijamin 100% hidup sudah lengkap dan kita bisa berbahagia? Iya, kalau anak ke-2 nya cowok. Kalau cewek lagi? Pasti akan muncul pertanyaan “Ga mau coba lagi? Siapa tau anak ke-3 nya cowo lho?” Begitulah yg terjadi pada kasus kawan saya, yg saat program anak ke-3 berharap dapat cowok, malah dapat anak cewek… kembar pula! Total jendral ada 4 princess imut2 dirumahnya, puji tuhan, saat ini kawan saya sudah “selesai”.

    Mungkin opini diatas hanyalah sekedar pembenaran atau cerita yg sekedar menyenangkan pada kondisi yg seperti yg diharapkan. Tapi dalam hidup, selalu ada hal yg menjadi pergumulan terhadap kalimat “Kita Tidak Akan Pernah Sampai”.

    Keep smile bro n sis dalam pergumulan kalian.

    Cheers!

  21. Love to read this ko, ce πŸ™‚
    Kt baru married blm setaun, both of us pgn juga pny baby tp masih banyak hal / kerjaan yg perlu kt selesaikan or make it safe before i got pregnant. Kdg envy juga dgn teman2 yg easily lgsg tekdung aja. But thanks for the words.. kebahagian memang rel yg panjang dan waktu Tuhan tidak selalu sama dg waktu kita πŸ˜‰

  22. Salut dan selalu tersentuh dengan cerita panjang perjuangan punya buah hati. Iya, kebahagian itu sesuatu yang panjang bukan sampai di sini terus udah. Doa terbaik untuk keluargamu, semoga segera datang yang dinanti dan perjalanan menjadi good parents terus berlanjut menemukan tantangan baru untuk sampai di stasiun yang baru.

    ernykurnia.com

  23. hai kohh,,
    saya tu pecinta tulisan ko edward, tulisannya simple tapi ngena..
    sempat kecewa karena ternyata kita yang dulu satu pilihan sekrang beda (okay inni curhat)
    tapi diluar pilihan itu saya slalu suka sama tulisan ko edward,

    ngalamin apa yang sekarng ko edward alamin,, “menunggu datangnya si kecil”
    rasa sedih saat tamu bulanan datang – garis testpack ngatif – berjuang di tanggal subur
    dan masih belum berhasil

    seorang teman bilang “anak itu mutlak hak ALLAH, ketika dia yakin kamu siap, anak itu akan hadir, jadi jangan ngoyo, jalani aja apa yang bisa di jalani”

    fuih,,enak ya ko orang ngomong,,tapi kan kita was was dalam penantian,,
    tapi mungkin mereka juga benar, semakin kita berharap malah stress sendiri
    jadi kenapa kita tidak mensyukuri apa yang sudah kita miliki saat ini ,,

    ada salah satu teman setelah 18 tahun menikah di vonis dokter mandul
    saat dia pasrah dan gak mau usaha lagi,, kesempatan itu datang

    salam ko buat ci francy,,terus berjuang..

  24. Hello Koh Ed. I had experience on walking on the same road as yours few years back. Ketika keceriaan weekend harus berganti dengan kecemasan menunggu antrian untuk terapi. Sungguh tidak disangka, berkah itu datang saat kami sudah siap untuk menerima “takdir” kami untuk hidup berdua saja.
    Kini, saat sudah menjadi parents, kami baru sadar kalau kami belum sampai tapi baru saja pindah ke “rollercoaster” berikutnya. Begadang, cemas anak sakit, mikirin sekolahnya nanti, berantem soal cara mengurus anak, dan sejuta ups and downs lainnya.
    Salam untuk istri, tetap semangat dan terus berdoa. Yakin dan percaya bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *