Pagi-pagi saya ditelpon sang staf, “Koko, hari ini makan siang kosong ga? Aku bisa masukin ketemu Bapak.”

“Bisa.” 

Tulisan ini adalah tulisan pertama dari seri #7HariTulisanBuatYangGaSukaAhok – sedikit sumbangsih saya untuk berpartisipasi dalam pesta demokrasi Jakarta. Saya percaya semua orang, apalagi anak muda, harus peduli politik. Karena konsekuensinya tidak terelakkan akan dirasakan oleh semua orang. Saya bukan orang dalam, saya tidak dibayar, hanya orang biasa yang menyuarakan pendapat saya. Jikalau kamu masih bingung memilih siapa di Pilkada Jakarta 2017 ini dan mau membaca tulisan lain di seri ini, klik di sini.

Banyak memang yang terjadi setelah saya post tulisan ‘Berjabat Tangan Di Persimpangan’. Selain bertemu sang staf, yang saya ceritakan di sini, setau saya tulisan saya juga sudah beredar kemana-mana, juga ke kalangan para pendukung paslon 2.

Datanglah saya ke Megawati Institute. Planga-plongo masuk ke dalam lobby, tiba-tiba kaget karena di sana sudah ada puluhan relawan berbaju kotak-kotak.

Ketika saya masuk satu ruangan terdiam.

Saya kaget melihat mereka, mereka juga kaget melihat saya, hahaha…

Mungkin karena muka dan rambut begini jadi gampang dikenali ya. Ada juga perasaan mendengar bisik-bisik, “Itu kan si Edward yg biasanya sama si anu,” hahaha… perasaan aja lho ya 🙂

Untung kecanggungannya tidak berlangsung lama, tiba-tiba seseorang maju terus berkata, “Edward ya? Yuk masuk.”

Di dalam saya berkenalan dengan banyak orang. Ada teman-teman lama, ada juga teman-teman baru. Tapi yang ngangenin itu suasananya.

Ya, saya dekat dengan suasana kerelawanan.

Sejak dulu ketika saya masih aktif di acara-acara kerohanian, atau belakangan di acara-acara inisiatif pendidikan bahkan dalam kerelawanan politik. Getar dan ramai sekelompok orang yang berkumpul karena mereka percaya bahwa sesuatu bisa dicapai andaikan saja semua orang mau berkontribusi. Saya sering cerita bahwa pilpres 2014 is one of the best times of my life.

Hari itu, bertegur sapa dan mengamati dari sudut mata sebagai ‘orang baru’ – rasa kangennya sedikit terobati.

Sekitar 15 menit menunggu, masuklah Pak Ahok ke ruangan. Salaman sama semua orang.

Ketika dia melihat saya, “Eh, si Aming!” Hahaha…

“Lucu kamu,” lanjutnya lagi sambil menjabat tangan saya.

(barusan saya ikut main film drama komedi Cek Toko Sebelah garapan Ernest Prakasa – Pak Ahok salah satu penontonnya)

Sambil makan siang bersama beberapa orang team dan juga relawan-relawan yang ingin bertemu muka dengan Pak Ahok, saya kebanyakan duduk diam dan memperhatikan.

Kalau mau cerita jujur, sebetulnya tidak ada yang spesial dari pertemuan pertama saya ini.

Beberapa tahun terakhir, pertemanan dan pekerjaan saya membawa saya bertemu banyak selebriti, CEOs and VIPs. Jadi rasa canggung dan star-struck saya nggak norak-norak amat kalau ketemu orang beken.

Malam sebelumnya, sang staf berkata, “Ko, nanti kalau ketemu Bapak, apa yang koko liat di televisi, ya itulah persis Bapak seperti itu.”

Dia ucapkan ini sebagai sebuah ketidak-sempurnaan, sebuah kelemahan, memperingati saya.

Saya sebagai seorang yang bekerja dengan banyak sekali orang, juga sebagai seorang pelaku komunikasi dan kepemimpinan, suka memperhatikan dan ‘membaca’ orang.

Melihat Pak Ahok di depan saya sedang seru bercerita, membaca gerak-gerik dan kata-katanya, menurut saya keterus-terangan ini malahan adalah sebuah kekuatan.

Kejinya narasi politik musim pilkada membuat kelemahannya diletakkan di bawah mikroskop dan kekurangannya diputar terus tanpa henti oleh pengeras suara, membuat begitu banyak kita lupa ingatan, bahwa beberapa tahun lalu saja, kita pernah sangat bersyukur waktu rasa muak dan kemarahan kita akhirnya diwakili oleh keterus-terangan seseorang yang berada di dalam pemerintahan.

Saya yakin semua pendukungnya, baik relawan yang hanya melihat dari layar kaca maupun para staf yang sudah setiap hari melihat jeroan-jeroan Pak Ahok, sadar betul bahwa dia tidak sempurna. Kita semua setuju bahwa banyak hal yang perlu diperbaiki dari kemampuan komunikasi dan proses-proses pengambilan keputusan Bapak. Jelas sekali dia tidak sempurna.

Tapi kita harus ingat, kekurangan seseorang tidak serta merta meniadakan kebaikannya.

Untuk itulah kita perlu nalar dan pertimbangan. Antara baik-buruknya, kelebihan dan kekurangannya. Dari kita memilih handphone, memilih menu makan siang, sampai ketika kita memilih pasangan hidup. 

Sekali lagi, seperti seringkali sudah diutarakan hingga bibir jontor di kampanye ini, Pak Ahok marah pada mereka yang salah, mencuri, dan berkhianat. Terutama kepada para koruptor: koruptor uang kita, koruptor waktu rakyat, koruptor kinerja yang diharap-harap oleh publik.

Dalam hidup kita, kita mungkin pernah punya bos yang demikian, atau paling tidak mendengar cerita teman-teman tentang bos yang demikian: Killer, namun killer tentang kinerja dan kejujuran, tentang mendidik dan mengangkat naik anak-buahnya, bukan killer karena semata-mata dia orang gila.

(Di kepala saya langsung terlintas hampir semua VPs (Vice President) atau Directors of Marketing brand-brand keren yang sering bekerja-sama dengan saya. Saya kagum dan terinspirasi dengan kecerdasan dan kepemimpinan mereka, sekaligus ngeri kalau saya tidak bisa deliver ekspektasi mereka. Bisakah kamu sebutkan satu atau dua bos kamu yang demikian?)

Di era perubahan besar, terutama di era pencabutan akar-akar korupsi dan pembersihan kerak-kerak kebiasaan lama yang buruk, kita butuh seseorang seperti Pak Ahok.

Dia pasti bukanlah segalanya, jawaban dari segala pertanyaan, tapi saat ini, meminjam istilah yang saya pernah baca: Pak Ahok adalah kuda yang paling tepat untuk menarik kereta perubahan di Jakarta.

Bersih, jujur, tegas, keras, berterus-terang, namun punya kecerdasan, pengetahuan dan hati untuk orang-orang yang dipimpinnya.

Tanya ini jangan ke lawan politiknya di masa pilkada, tapi ke orang-orang lama dan anak-anak muda baru yang bekerja bersamanya di lapangan dan balaikota, serta ke orang-orang di jalanan yang sudah merasakan perubahan-perubahan baik yang sedang dikerjakannya.

“Aming!”

Saya tersentak dari lamunan saya.

“Mau foto bareng Bapak gak?” tanya seorang relawan.

“Mau.”

Saya berdiri mengampiri Pak Ahok, sambil menarik kaos saya ke bawah supaya perut besar saya tidak mengintip tertangkap kamera.

——–

*PENTING: Sertakan link http://gasukaahok.com jika kalian share this post, baik di FB maupun di Twitter – supaya mereka yang mau membaca tuntas bisa mengikuti post-post lain.

Menikmati tulisan ini? Dengan berlangganan, kamu akan dapat notifikasi jika ada tulisan-tulisan baru.

11 thoughts on “Pertama Kali Bertemu Ahok

  1. Saya suka pak ahok, tp gak tau alasan nya apa. Cuma saat dia maju sebagai calon wakil gubernur berpasangan dengan pak jokowi, saya lihat ke2nya bisa bikin perubahan.
    Kalau ABG bilang, ini lah cinta pada pandangan pertama. Hahahaha

  2. Sy sdh duluan gila dari ahok, mknya, hrs di copy paste setahun aja, pasti lebih gila, dan harus lebih maju dari ahok yg agak gila, krn kita hrs lebih dan lebih, mknya jgn munafik oposisilah dgn habitat ahok, pasti menderita didunia dan akhirat, bukan aku sdh keakhirat, tapi sdh eranya gila seperti juga donald trump dulu teng siau ping, nazi, tapi ingat ya yg super herolah yg disalib

  3. Jika ahok kalah petanda perampokan, perzinahan, kemunafikan semakin subur krn dapat wangsit, bukan pansit, mknya jgnlah lihat kulitnya tapi rasakan manisnya, macam daun afrika yg suka kulum mulanya pahit, 5 menit saja ach terasa manis madunya, mknya susu dan madulah yg kau dapat, pada waktu exodus dari mesir kekanaan

  4. Saya ingin menyampaikan poin-poin pendapat saya:

    1. Kemarahan dan sikap keras Ahok saya pikir bisa dimengerti. Saya justru heran kenapa ada orang yang menyerangnya karena sikapnya yang keras terhadap birokrasi yang malas, lambat dan berbelit-belit serta perilaku koruptif orang-orang yang mengatur negeri ini.

    Saat kita kesal dan muak dengan tingkah laku pejabat yang seperti itu, muncul seorang Ahok yang ingin memperbaiki itu semua. Ahok itu mewakili perasaan kita yang muak, marah, yang sudah putus asa, mengharapkan pemimpin yang bersih dan bekerja.

    2. Saya kagum dengan sikap Ahok, waktu diajak foto oleh warga di RPTRA dia menolak dengan halus karena tidak boleh kampanye di situ. Sebaliknya ada calon yang justru kampanye di tempat yang jelas-jelas dilarang.

    Itu hal kecil mungkin, tapi menurut saya itu menggambarkan banyak hal tentang orang itu.

    Saya masih ingat ada calon yang ceramah di Mesjid, ba’da subuh kalau tidak salah, dan meminta kepada jamaah untuk ‘tidak memilih nomor 2’ karena shalat witir, rakaatnya tidak ada yang 2 rakaat, tapi 3 dst.. (sama dengan nomor urut pemilihannya).

    Sudah pakai mesjid untuk kampanye, ini malah bawa-bawa ibadah dihubungkan dengan politik. Padahal dalam Islam, ada shalat subuh, shalat ied dan sholat jumat yang semua 2 rakaat (lucu ya?). Belum sholat sunnah lainnya, itukan 2 rakaat?

    Saya malah berpikir, ‘calon yang satu ini’ betul-betul tidak memiliki ‘isi’. Dia memiliki dua tangan yang sama dengan ahok, dua kaki dan tubuh yang juga sama, dianugerahi oleh Allah kemampuan berpikir (otak) yang juga sama dengan Ahok. Tapi kok malah tidak memanfaatkannya untuk bersaing secara sehat dengan lawannya.

    Ini malah bawa-bawa Agama, nyebut-nyebut nama Allah untuk nafsu dan egonya. Sebagai muslim, terus terang saya malu, seakan kita muslim ini tidak punya kualitas.

    Meskipun saya yakin Ahok bekerja itu bukan atas dasar ‘ingin membuktikan bahwa dia lebih hebat atau jago dari muslim’ atau merasa agamanya (Ahok) lebih hebat dari Islam, karena saya yakin ia bekerja karena ‘itulah yang benar dan seharusnya dilakukan’.

    3. Sebagai muslim, yang saya pahami, memilih pemimpin muslim itu masih bisa diperdebatkan, dalil-dalilnya ada. Kalau misalnya, bosnya di tempat kerja bukan Islam, kita harus keluar gitu? Kalau kepala rumah sakitnya bukan Islam terus dokternya yang Islam ga boleh kerja disitu? Dll, dll..

    4. Sholat jumat kemarin saya suka sekali dengan khatib dan isi ceramahnya. Isi ceramahnya sederhana, intinya mengatakan bahwa Islam sangat keras dan sangat membenci perilaku korupsi, disebutkan semua dalil-dalinya. Bahkan orang yang melakukan korupsi bisa dianggap keluar dari Islam.

    5. Terakhir, Ahok punya beberapa kekurangan, tapi itu tidak menjadikan kita melihat banyak hal baik yang sudah dilakukan.

    1. Very well said Pak komennya..
      Dan buat kokoh edward, gue paling suka tulisannya yg ini: “kekurangan seseorang tidak serta merta meniadakan kebaikannya”

  5. Seneng bacanya, hehehe. Saya ketemu Pak Gub langsung di acara Mas Addie MS ketika nonton Twilight Orchestra bulan Feb tahun lalu, Pak Ahok duduk di atas, di kursi VIP bersama Ibu Vero. Sebelum Bapak datang penonton kalem-kalem saja, begitu beliau memasuki ruangan sontak seluruh penonton berdiri mendongak ke atas mencari-cari sosoknya dan bertepuktangan spontan. Sumpah, gue merinding, kharisma Bapak sungguh luar biasa. Saat rehat beliau tabah meladeni penonton yang ingin foto bareng, iyeeee termasuk gueeee, hahahaaa! Omong-omong ada seleb (cowo) beserta isteri yang duduk di deretan kursi VIP juga, lho. Sedihnya tidak ada yang minta foto bareng dia sampai harus berpira-pura sibuk dengan hape di telinga. Seluruh perhatian tertuju ke Bapak Gub kita. Siapa yang bisa tolak fakta bahwa beliau adalah seorang Super Star yang sesungguhnya.

  6. Gw Sih Cuma bisa Bilang Kalau Emang Basuki & Djarot nanti terpilih lg jd Gubernur DKI 2017-2022 di Periode ke 2 ini semua adalah sdh Takdir dan Gw percaya Tangan TUHAN telah turun ke Paslon 2 SIAPAPUN Tak AKAN BISA MENGHALANGKAN RENCANA TUHAN Walaupun di Terjang Berbagai ANGIN SUPER RIBUT Tapi BILA Juga Basuki & Djarot Tidak TERPILIH Lagi jd Gubernur DKI 2017-2022 ya Harus IKHLAS tak Perlu DEMO DEMOan Pinjam Istilah BELA AHOK dan Juga PERCAYA TUHAN MUNGKIN Punya RENCANA LAIN Buat BASUKI Tjahaja Purnama yang Lebih Baik Untuknya Kalau boleh Pinjam Lyric Lagu MelanKolis ” Kau Tercipta (Basuki) Bukan Untuk Ku (DKI)” Sekian dulu Uneg-Uneg PILKADA jgn di Plesetin jd PILKADALin Masyarakat Awam……

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *