Setelah mencoba inseminasi sebanyak tiga kali, kali ini kami memutuskan untuk lebih proaktif lagi dengan melakukan prosedur bayi tabung (In Vitro Fertilization or IVF).

Kenapa memutuskan di Penang? (baca part 1 dari tulisan ini di sini)

Kita dengar beberapa hal baik tentang Penang, dan 3-4 tahun lalu kami pernah juga melakukan check-up di sana, dan sangat puas dengan pelayanan dan fasilitas yang ada.

Jika teman-teman lihat nanti, biaya-biaya di Penang juga relatif lebih murah daripada pengobatan yang bagus di sini, walaupun memang harus keluar biaya untuk tiket, makan dan tempat tinggal.

Berobat di Penang itu rasanya seperti pelayanan kesehatan kualitas Singapur, tapi dengan harga yang lebih murah dari Jakarta. Bayangin tuh.

Catatan kecil untuk semua teman-teman yang sedang mencoba hamil di Indonesia dan juga untuk dokter-dokter Indonesia, kami yakin bahwa di sini pun canggih-canggih dan bagus-bagus. Bahkan respon dari part 1 tulisan ini, begitu banyak rekomendasi dan cerita keberhasilan dari dokter-dokter di Indonesia. Our very good friend Erik Nia juga sedang dalam bulan kelima kehamilan mereka dengan IVF oleh dokter Indonesia. So Penang or Indonesia, it is just a matter of preference.

Pertimbangan untuk melakukan prosedur bayi tabung di Jakarta juga tentu sudah kita pikirkan. Apalagi saya harus pergi dalam waktu yang cukup lama, meninggalkan kantor dan segudang urusan saya. Tapi timbang punya timbang, kami tetap putuskan ke Penang.

Pilihan pertama jatuh ke Dr Devindran (affectionally called Dr Dave), dokter yang kami baca dari blognya teman saya Andra Alodita di sini. Loh Guan Lye, tempat dokter berpraktik, tidak dikenal sebagai rumah sakit yang paling ‘bersahabat’ harganya, tapi nanti setelah kami menjalani semuanya, kami dapati bahwa harga-harganya masih oke banget dibanding Jakarta 🙂 #bukanpenangmurah #ternyatajakartamahal

Francy, bertindak sebagai seorang travel planner yang teliti, dan juga tahu bahwa waktu saya terbatas banget untuk meninggalkan kantor, mulai merencanakan jadwal-jadwal dengan baik.

Dia tahu dari blog-blog bahwa Dr Dave biasanya melakukan operasi pada hari Jumat, karena itu dia sudah atur jadwal sehingga dalam kunjungan pertama kami ke Penang jika harus ada tindakan dia langsung bisa menjalani laparoskopi.

Bayangkan laparoskopi itu begini. Semua organ tubuh itu kan berada di bawah kulit badan kita (terutama daerah sekitar perut hingga ke bagian kelamin) – ginjal, empedu, usus buntu, kandung kemih, indung telur dan sebagainya.

Laparoskopi membuat irisan-irisan kecil di kulit perut kita, lalu meniupkan gas ke dalamnya sehingga terbentuk rongga antara organ dan kulit (perutnya blendung). Irisan-irisan kecil lain dibuat untuk memasukkan berbagai alat berbentuk pipa-pipa kecil yang di ujungnya lengkap dengan kamera, pencapit, pisau dan sebagainya.

Operasi berjalan tanpa harus membuat sayatan terbuka. Analogi bodohnya adalah seperti bermain dengan sumpit melalui lobang-lobang kecil untuk melakukan tindakan medis di bawah kulit kita. Keuntungannya: Waktu pemulihan sangat cepat, karena badan tidak mengalami trauma dengan disayat/dipotong, dibuka lebar.

Cara mendaftar di Loh Guan Lye itu begini: Datang pagi jam 7 ke registrasi, mungkin akan sedikit lama jika kita pertama kali ke sana, tapi jika sudah pasien sebelumnya akan cepat sekali. Kita akan mendapatkan lembar pendaftaran, lalu lembar itu kita masukkan ke dalam kotak di depan pintu dokter spesialis yang kita mau kunjungi. Dr. Dave membuka praktik sekitar jam 9-10 tergantung pagi itu dia ada tindakan operasi apa.

(Jika ingin mendaftar untuk pertama kali dari Jakarta, ada perwakilannya dengan Stephanie/ Fany. Email fanyjakarta@gmail.com – atau HP 08896523638.
Kamu tinggal menyertakan foto passport, jadwal tanggal periksa, dan beberapa pertanyaan pribadi yang akan diemail untuk dijawab.)

Sama seperti banyak dokter beken lainnya, antriannya panjang, tapi somewhat bergerak cukup cepat. Dr Dave selalu punya 3 suster handal yang bergerak cepat woro-wiri ke sana kemari, memastikan pasien yang masuk sudah lengkap dengan pemeriksaan yang diperlukan, sehingga semuanya efisien dan cepat.

Lucunya, banyak banget orang Indonesia di sana. Dan saya, karena ketenaran si Aming dalam Cek Toko Sebelah sering sekali diajak berkenalan dan juga foto bersama. Tsah, hahaha… Asiknya juga: Jadi punya banyak teman baru pasangan yang sama-sama juga berjuang.

Dr Dave adalah dokter Malaysia beretnis India. Masih muda. Ramah, dan taktis dalam berbicara. Dan juga sama, seperti banyak dokter lain yang antriannya panjang, dia akan langsung to the point, tapi tetap dengan sangat baik akan menjawab pertanyaan-pertanyaan kita sebagai pasien.

Perencanaan matang Francy membuahkan hasil, dia bisa langsung dioperasi di kunjungan pertama kita kali itu, yang memang sudah dibuat cukup panjang.

Operasi berjalan sangat baik. Francy bisa kembali ke hotel sehari setelah hari tindakan operasi.

Di dalam tindakan laparoskopi ditemukan bahwa indung telur sebelah kiri Francy terdapat endometriosis. Baca tentang endometriosis di sini. Inilah yang membuat telur Francy tidak berkualitas normal.

Kami tinggal 1-2 hari lagi untuk kontrol dengan Dr Dave, lalu kami boleh pulang ke Jakarta untuk pemulihan Pancy sambil menunggu masa subur berikutnya.’

Sekitar satu bulan berikutnya kami kembali lagi ke Penang, kali ini untuk memulai prosedur IVF kami. Dalam kunjungan itu, kami membawa pulang seperangkat alat suntik dan dua jenis obat yang akan kita gunakan sendiri. Satu jenis obat untuk membuat telur Francy besar dan banyak, satu jenis untuk menekan/surpress si endometriosis.

Di sinilah proses yang menurut saya paling ‘berat’ dari IVF itu. Yaitu proses suntik-suntikan ini. Saya dan Francy (well akhirnya banyakan Francy sih) harus mempersiapkan alat suntiknya dan menusukkannya ke daerah di sekitar bawah pusar. Setiap pagi selama 8 hari. Saya termasuk orang yang tidak takut suntikan dan darah, tapi saya pun merasa ngilu melihatnya. Tambah tidak tega ketika melihat Francy meringis sakit. Ada beberapa couple yang saya tahu memutuskan untuk bolak-balik ke rumah sakit setiap hari karena tidak sanggup untuk melakukannya sendiri.

But my girl, she’s strong 🙂

Saya juga pernah bilang ke dia di awal-awal prosedur ini, “Orang merasa sedih, karena dia merasa dirinya adalah orang yang paling malang di seluruh dunia. Kamu mungkin merasa begitu sekarang. Tapi ingat, bahwa sebetulnya begitu banyak orang, misalnya mereka yang harus menyuntikkan insulin karena diabet setiap hari selama hidupnya, mengalami hari-hari yang lebih sulit dari yang kamu alami.

So, chin up.”

And she took it like a champion, day after day, without a single word of complaint.

Selama suntikan ini dia juga harus makan 6 putih telur setiap harinya, sebagai nutrisi protein dalam proses ‘bertelur’ ini.

Di hari ke-8 kita kembali berangkat ke Penang untuk melihat apakah telur Francy berkembang banyak dan besar.

Telurnya jadi 7 buah, jumlah yang sebetulnya sedikit dibanding dari yang biasa kita baca dari blog-blog orang. She felt a little down. But the IVF is still a go.

Ukuran telurnya di hari ke-8 itu masih 15mm (idealnya 18-20mm) oleh karena itu dokter memberikan suntikan tambahan lagi sekali lagi.

Di hari ke-9 kemudian di USG kembali dan ukurannya sudah 18-19mm. Ukuran yang sudah siap untuk proses OPU (Ovum Pick Up = pengambilan telur). Malamnya dia disuntik satu obat lagi persis di waktu yang sudah ditetapkan, sehingga telurnya akan ‘pecah’ untuk prosedur OPU besok pagi.

OPU singkatan dari Ovum Pick Up yaitu prosedur pengambilan telur-telur yang sudah berukuran 18-20mm untuk siap dibuahi dengan sperma.

Jadi ketika Francy melakukan prosedur OPU, di jam yang bersamaan saya juga diminta mengeluarkan sperma yang kemudian langsung dibawa ke lab untuk dipertemukan keduanya. (Ngeluarinnya gimana bayangin sendiri aja deh ya…)

Proses OPU sendiri berlangsung tidak begitu lama. Francy diberikan obat penenang (bukan bius total). Kata dokter jika kamu semakin tenang maka kamu akan semakin rilex dan tidak terasa, tapi jika kamu grogi maka akan semakin tegang dan terasa sakit.

Ketika dokter akan menyuntikkan obat penenang, Francy diminta untuk menarik napas panjang, lalu kemudian dia tertidur lelap dan bangun-bangun sudah berada di ruang pemulihan pasca operasi.

Setelah OPU kami boleh kembali ke hotel dan beraktivitas seperti biasa. Francy memilih pergi berenang bersama teman kami Trinity dan tantenya yang tinggal di sana. Penting banget membuat si calon ibu hepi, tenang, dan rileks. A lot of this stuff depends on hormones, so the mother to be have to be relaxed.

Siang harinya ditelpon oleh suster dan diberitahukan bahwa sudah ada 1 embrio yang berhasil berkembang dan esok hari bersiap untuk proses Embrio Transfer (ET) yaitu peletakkan embrio ke dalam rahim.

Beberapa rumah sakit memiliki prosedur berbeda untuk proses ET. Dr Dave menunggu perkembangan embrio dengan usia 3 hari, mungkin waktu yang singkat dibandingkan dengan beberapa rumah sakit yang menunggu hingga perkembangan hingga 5 hari.

Proses ET dilakukan dalam keadaan sadar. Francy diminta minum 1,5L air sebelum masuk ruang operasi. Jadi dalam keadaan menahan pipis akan memudahkan penglihatan saat di USG ketika embrio akan ditaruh didalam rahim.

Proses ET berjalan dalam waktu 15menit saja. Setelah selesai Francy diminta tetap menahan pipis 15 menit lagi, dan jika sudah tidak tahan boleh pipis di pispot (tidak boleh turun kebawah). Lalu dia diminta berbaring selama 2 jam.

Sudah deh. Santai-santai, tidak boleh beraktifitas terlalu banyak dulu. Setelah tiga hari di Penang, kami akhirnya pulang.

Selama di Jakarta, gejalanya membahagiakan. Francy menunjukkan symptoms orang hamil. Perut ngilu, nafsu makan meningkat banget, mual-mual. Selama ini juga Francy bedrest. Tidak kemana-kemana. Dipingit kayak Kartini di film Kartini itu.

Tapi mengingat dulu pernah kecewa sama testpack keparat itu, jadi kita menahan diri nanti sama Dr Dave di Penang aja.

2 minggu setelah kami pulang kemudian kami balik ke Penang untuk di tes darah beta HCG.

Masuk ke ruangan Dr Dave, saya ngobrol-ngobrol karena sudah lumayan akrab sama dia, Francy ternyata sudah gelisah dan curi-curi pandang membaca tulisan terbalik report lab yang ada di meja dokter.

“Congratulations, you’re pregnant,” katanya sambil tersenyum.

Ketika saya masih terperangah, Francy dengan setengah ketawa berkata, “I KNOW!” Hahaha…

Jadi level hormon HCG itu hanya akan naik, jika memang terjadi kehamilan.

Angkanya Francy: 38.5 – di orang yang tidak hamil angkanya akan 0.

“So doc, to be sure: This is pregnancy, rite?”

“It is pregnancy. The earliest stage, but by medical definition, you guys are pregnant.”

Being a good doctor, dia tidak mau membuat kita berharap terlalu besar-besaran dulu, “This is a very good news, even though the road to a baby is still long, but today we see that you guys *CAN* get pregnant. Some people cannot.”

Memang betul, banyak orang-orang dan teman-teman kita yang masih terus mencoba IVF, tidak pernah mengalami hasil angka yang demikian. Di tiga inseminasi kita di Jakarta, hasil labnya 0.

Kami langsung pulang besoknya, dan diminta untuk datang lagi in 2 weeks.

Di kedatangan berikut, sudah terlihat, there’s something in her womb. Yay!

Dr Dave bilang, if everything goes well, kita sudah ga usah kembali lagi ke Penang. We said our goodbyes eventhough we vowed to come again just to catch up with him and the very nice nurses.

Selama 2 minggu berikutnya, Francy betul-betul bedrest (walaupun kata Dr Dave tidak perlu).

Mual-mual terus terjadi, tapi di akhir-akhir minggu kedua itu, Francy memang sempat berkata sama saya, “Gw kok nggak sakit lagi ya? Kayak kosong…”

Kami buat janji temu dengan Dr. Handi Suryana di Royal Taruna. Dokter ini adalah dokter yang disarankan Dr. Dave untuk ‘meneruskan’ pasien-pasien yang berhasil hamil di Penang.

Waktu kita ke sana, kata-kata yang paling kita tidak mau dengar itu terdengar juga, “Hmmm… Sepertinya janinnya tidak berkembang ya… Kemungkinan ini blighted ovum (BO).”

Walau hati kita hancur, kita masih berharap bahwa mungkin the baby is a late bloomer. Mulainya selow gitu harapannya.

Francy chat WA dengan suster Dr Dave, and we booked a flight back to Penang.

Dr. Dave confirmed it. “Harusnya dengan kehamilan di minggu ke-8, sudah ada bentuk dan detak jantung. This one has neither and the growth is really small.”

Silence in the room.

Dia tanya dengan lembut lagi, “Bagaimana, kalian sudah ikhlas?” (bahwa this one will not make it).

Francy yang memang sudah menyiapkan hati sejak di Jakarta, tersenyum kecut dan berkata, “Ikhlas dok…”

Saya juga berkata hal yang sama.

Kok sepertinya cepat banget merelakan Wad? Cy?

Lemme assure you, it is not easy. But what else that can be done? Apakah kita perlu melewati fase tidak menerima dan menangisi hal yang tidak bisa kita rubah? We tried our best to be strong. “Ikhlas dok.”

Dokter lalu menjelaskan ada 2 cara mengugurkan kehamilan tidak sempurna ini. Dengan obat, atau dengan kuret.

Ketika dijelaskan prosedur kuret dan kemungkinan dampaknya terhadap Francy dan rahimnya, baru di situ saya untuk pertama kalinya betul-betul hancur dan menangis.

I guess I still care about Francy a lot more than the baby.

Francy sekali-kalinya menangis kapan coba?

Ketika dia pick up obat untuk meluruhkan si kantung janin di apotik rumah sakit.

She cried there in my arms, leaning on the wall of a busy corridor. Pretty much like a scene from a korean tv-show 🙂

Jokes aside, kita betul-betul sedih di situ sih 🙂

But only that one time.

We cannot mourn about things we cannot change. Shedding a tear is okay, but we cannot live and dwell in things that is out of our control.

 

So we stopped crying.

And we eat instead.

(bersambung)

Menikmati tulisan ini? Dengan berlangganan, kamu akan dapat notifikasi jika ada tulisan-tulisan baru.

18 thoughts on “Menuju Hamil – Part 2 of 3

  1. Aku terharu baca ini… i feel u.. been there before. But, still trust on God’s timing ward n cy..
    He will never too late.. enjoying your ‘just the two of you’ moments rite now.. The package is on the way.. =)

  2. Semangaaaatttt… Nunggu sambungannya dulu nih..btw banyak makanin sayur segar dan buah. Bagus buat sel telur dan spermajuga.dulu saya pcos.. Mengganti pola makan dan akhirnya bisa hamil.

  3. Keep strong and faith koko n cece!
    Saya sudah mengalaminya di kehamilan pertama sy setelah hampir 2 th pernikahan. Abortus di usia 9W. Skrg kami sedang memperjuangkan kehamilan kedua.
    Saya setuju dengan quote ini : ” Apakah kita perlu melewati fase tidak menerima dan menangisi hal yang tidak bisa kita rubah? ”

    Yg saya yakini adalah Tuhan akan memberikan menurut waktuNya, bukan waktu manusia.

  4. Apart from the sad story, I really think that you are a great writer for some reasons :

    1. I dont like to read long story like this, but you make me finish your story

    2. You can make the story interesting, the best part is when you guys sad suddenly you went to eat with a pic lolll..

  5. Semangat buat kalian berdua..saya pernah merasakan di posisi kalian…keguguran 3x berturut2..inseminasi gagal…obat terus menerus..cek lab semuanya…bolak balik RS, sampai saya trauma dg UGD krn keguguran trs…sampai km di titik lelah untuk bertemu dokter dan kami berusaha ikhlas bahwa kami tdk diberikan anak..bahwa km diciptakan hanya berdua sampai kami meninggal nnt..ketika itu kami sadar, bahwa krn kami terlalu sibuk berusaha punya anak…kami lupa, bahwa kami berdua menikah karena cinta..karena Tuhan..disitulah titik balik kami…sampai akhirnya Tuhan mempercayakan kami…Berdoa dan selalu berusaha guys.. cinta kalian sedang dikokohkan saat ini oleh Tuhan..Tuhan mau semuanya siap ketika paket kalian datang…semua akan indah pada waktuNya nnt..GBU both

  6. One of God greatest gift is having someone that really care and support you even in the very worst time.

    I think, having a kid is also “One of” God greatest gift from those millions greatest gift that He gave us. Seeing you both loving each other so truly deeply, that’s also a greatest gift. I know you guys being grateful for that. I support you to keep strong and put all your hope in HIM.
    Having a kid is not always through pregnancy. The most important is being happy as a family as also as a person. No matter how many family members will be in there. A family of 2 people, a family of 3 people or a family 10 people. When it’s build upon true heart and love. It’s a true family 🙂 GBU

  7. I truly understand what you are going thru. I had a failed pregnancy on week 6 after IVF. Have faith though, it will all be worth it and when the time comes. It will be all that much sweeter :’)

  8. Thank you for sharring edward and cy, sangat memberkati buat saya pribadi. As a mom saya membaca perjalanan edward dan cy buat jadi orang tua luarrrr biasa, mengingatkan saya untuk selalu bersyukur atas anugererah Tuhan buat saya dan suami, yang kadang kita take it for granted, kadang saya complaint karna anak2 yang sudah Tuhan titipkan, so Edward and Cy, keep have faith that God’s plan is perfect, His timing is always perfect.. our pray be with you

  9. Salam kenal,

    Saya dan istri juga pernah melakukan BT (Bayi Tabung) di Penang. Tepatnya di Lam Wah Ee dengan Dr Ng Peng Wah.
    Suatu proses yang cukup panjang dan butuh kesabaran. Apalagi proses menyuntikkan obat ke sekitar pusar istri.
    Istri saya tdk berani dan ‘terpaksa’ saya lah yang melakukannya. Saat suntikan yg pertama, istri saya menangis dan saya bisa merasakan sakitnya.
    Kami sudah lakukan semua proses, tapi Tuhan berkendak lain. Dia belum memberikan kami anak.
    Saat ini kami hanya berserah saja kepada Dia…

    Sedikit tulisan saya mengenai proses BT kami di Lam Wah Ee

    https://budiawan-hutasoit.blogspot.co.id/2016/01/tahap-demi-tahap-proses-program-bayi-tabung-di-lam-wah-ee-penang-dengan-dr-ng-peng-wah.html

    *informasi terbaru yang saya terima dari Penang, Dr Ng Peng Wah sudah tidak praktek lagi di Lam Wah Ee. Dia sudah buka praktek sendiri dengan nama Genesis, lokasi di Jl. Kelawai, daerah Gurney.

    GBU

  10. yess koko and cici…keep trying and keep praying.aku jg pernah alami hal yg sama so i feel u both….hikssss semangat!!! so happy to see both of u love each other more and more everyday…God bless…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *