Diingat orang itu memang berjuta rasanya ya?

Francy pagi ini menyebut nama salah satu teman saya – kita sebut saja Wulan.

Saya jadi ingat cerita manis ini.

Dari seorang freelancer/konsultan yang cukup beken, Wulan beberapa tahun lalu masuk ke sebuah perusahaan besar dan salah satu yang paling beken deh di Indonesia. Prestisius banget. Kita semua temannya ikut senang.

Tapi ternyata masuk ke perusahaan keren ini ada harganya: Dia punya bos killer banget. Hi ngeri. Saya tidak usah masuk ke detilnya lah, nanti kena pasal lagi 🙂 Tapi ngeri lah dengar cerita-ceritanya.

Si Wulan mulai blingsatan dan gak betah. Saya lupa apakah sampai dia mau berhenti apa nggak, tapi setiap kita bertemu dan ngomongin kerjaan, si bos ini selalu jadi topik yang hangat.

Waktu berlalu, saya dan Wulan karena kesibukan masing-masing jarang bertemu, entah 6 bulan atau sampai setahun lebih, sampai ketika perusahaannya ini membuat sebuah acara dan saya diundang hadir.

Saya tiba di acara bersama beberapa tamu-tamu lain (yang juga teman-teman kita), dan begitu kita semua bertemu dengan Wulan suasana langsung hangat dengan tegur sapa dan cipika-cipiki.

Ketika saya bercipika dengan si Wulan, dia langsung berbisik di telinga saya.

Dia bilang, “Gue ga pernah lupa kata-kata elu.”

Dia lalu tersenyum melihat wajah saya, “Karena apa yang elu bilang sekarang gua masih ada di tempat ini dan jadi diri gua yang sekarang.”

Saya kaget.

Sambil melihat dia tertawa, saya mencoba mengingat apa yang saya pernah katakan ke dia.

Wulan yang sepertinya tahu saya tidak ingat apa yang dia maksud, menarik saya ke samping dan mulai bercerita,

“Dulu inget ga? Gua kan ga tahan banget sama si itu tuh, dan udah kepengen berhenti banget.”

“Tapi suatu saat elu pernah bilang, ‘Orang-orang sulit di hidup kita itu ada untuk sebuah alasan. Mereka akan membentuk elu dan melatih elu naik kelas.”

“Besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya.”

(Yang mungkin Wulan, seorang muslim, tidak tahu bahwa kata-kata ini saya kutip dari Kitab Suci Nasrani, dari buku Amsal. Saya tentunya kutip ayat ini dalam konteks sebuah nilai baik yang sering juga bagikan kemana-mana. It’s a nice and sweet ‘we can learn from each other’s faith’ moment there.)

Dia lanjut bercerita, “Setiap kali itu bos bertingkah dan gua bener-bener udah nggak tahan, gua inget kata-kata elu: ‘Besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya.’ “

“And you know what, gua jadi kuat dan tahan menghadapi dia.”

“Banyak temen-temen gua udah angkat tangan dan cabut, tapi gua tetap stay. Berbulan-bulan gua habis ‘ditajamkan’.”

“Tapi memang, kalau mau ngomong jujur, despite everything, gua memang jadi lebih pinter. Jadi tahu banyak hal, ngerti industry ini luar-dalam. Gua juga jadi tahan banting dan kapasitas kemampuan gua juga naik terus.”

“Beberapa bulan lalu, si bos ini cabut. Gua nggak tahu lah alasannya apa gua nggak nanya.”

Dia lalu berhenti sejenak supaya lebih dramatis:

“Tebak siapa yang dipromote buat menggantikan posisi dia?”

Mata saya terbelalak lebar, hampir selebar senyumnya dia.

Saya peluk dia erat, sangat senang mendengar berita terbaru ini.

Sampai saat ini, saya tidak ingat kapan dan di mana saya ucapkan kata-kata itu.

Mungkin tidak penting juga, karena yang penting, Wulan mendapatkan sesuatu dari kata-kata saya.

Ada pepatah yang bilang, “People may forget what you said, but they will never forget how you made them feel.”

But I think, people feel because of what we say.

Berucap, berkata, selalu penting dalam kehidupan. Gunakan hati-hati.

Kata-kata yang salah bisa jadi seperti nanah, lengket membusuk, menyebar kemana-mana.

Kata-kata yang benar bisa jadi cahaya, memberi arah dan harapan.

Kata-kata bisa dipakai untuk menusuk dan membunuh, untuk membuat pahit dan mati.

Atau bisa dipakai untuk membangun dan mendidik, untuk membuat kuat dan mengangkat.

 

Even if you forget, people will always remember what you said.

Because they never forget how your words made them feel.

. . .

Sambil kembali berjalan ke kerumunan, saya bertanya ke Wulan, “Gw pernah ngomong apa lagi emangnya?”

Dia tersenyum tanpa menjawab pertanyaan saya, lalu malah menyapa teman-teman yang lain, “Heiii, apa kabar?!”


*Edward Suhadi adalah creative director Ceritera, sebuah communication agency + production house di Jakarta. 

Menikmati tulisan ini? Dengan berlangganan, kamu akan dapat notifikasi jika ada tulisan-tulisan baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *