Rule and exception.

Pernah denger istilah di atas ga? Salah satu frasa yang sering dipakai di bahasa Inggris.

Mungkin terjemahan bahasa Indonesianya: ‘Aturan’ (rule), dan ‘kadang-kadang’ (exception).

Atau ‘harusnya begini’ (rule), dan ‘sesekali’ (exception).

Istilah ini sering digunakan untuk membedakan antara mana hal-hal yang seharusnya, dan mana hal-hal yang terjadi kadang-kadang/anomali. Berguna untuk membuat kebijakan biasanya.

Contoh.

Perusahaan Apel punya pengalaman buruk dengan vendor PT Maju Mundur. Kerjaannya tidak seperti yang seharusnya dan banyak ingkar deadline. Marah-marah jadinya orang-orang Apel yang berurusan dengan mereka.

“Sudah lain kali setiap vendor kalau masuk, harus buat presentasi detil tiga kali dulu! Juga harus sertakan 10 pekerjaan mereka terakhir. Dan semua harus ada perjanjian dengan notaris di depan hukum!”

Emosi.

Padahal ketika dipikir-pikir tenang, vendor perusahan Apel itu puluhan. Dan hampir semuanya itu bagus, kerjanya sesuai janji dan deadline.

Rule-nya adalah vendor-vendor perusahaan Apel itu bagus-bagus. PT Maju Mundur ini cuma exception aja.

Bayangkan kalau terbalik membedakan mana yang rules dan exception, policy yang ribet dan makan waktu tadi akan diterapkan dan akan merugikan perusahaan banget.

Kok dia masuk kerja bajunya lusuh ga sopan begitu sih? Tsk anaknya ga serius kayaknya. (Padahal lusuh itu exception, pagi ini ada urusan keluarga darurat sehingga dia harus pergi buru-buru. Rulesnya anak ini sebetulnya selalu rapih banget kalau kerja.)

Jakarta malam sabtu itu rulesnya macet. Kl lagi dapet lancar itu exception lah (mungkin siangnya ada broadcast WA bakal ada demo rusuh).

Nah.

Saya sering bagikan ini, terutama kepada anak-anak muda:

Kalau mau maju dalam hidup, jadikan hidup yang ga nyaman, menantang, selalu ada tekanan itu rule hidup kamu, bukan exceptionnya.

Hidup ya harus sulit dan penuh tekanan. Kalau lagi ngerasain hidup enak itu ya sesekali aja. Bonus.

Banyak kita yang hidupnya ga maju-maju, terbalik.

Maunya hidup ya harus selalu enak dan gampang. “Sesekali susah oke lah… asal jangan terus-terusan.”

Terbalik. Ketuker.

Karena tempat kerjanya santai, bisa masuk siang setiap hari lah. Bukannya membiasakan diri masuk pagi, melatih disiplin diri, menaklukkan kemalasan, dan mencoba bekerja lebih efisien dan efektif.

Kebalik.

Nyari klien yang sama-sama low expectation aja. Biar kerjanya nyaman, enteng, ga ada hambatan. Bukannya nyari klien yang killer, yang mendorong kita maju, yang bikin kita jungkir balik mengembangkan diri.

Kebalik.

Nyari bos dan tampat kerja juga, yang enak-enak aja, yang asik-asik aja. Bukannya nyari bos yang galak dan tegas dan sering buat kita deg-degan dengan assignment-assignmentnya.

Kebalik.

Setiap ada waktu luang, ya main sosmed, nonton Game Of Thrones, dan hangout azek-azek sama temen-temen. Bukannya menyisihkan waktu baca buku, melatih diri berpikir, kumpul dan belajar sama mereka-mereka yang lebih pinter dari kita.

Kebalik.

Setiap punya duid dikit, ya selalu dihabiskan buat barang-barang yang umurnya pendek dan puasnya sejenak. Bukannya disimpan dan ditanam di berbagai tempat investasi, atau digunakan untuk hal-hal yang bisa menambah nilai diri kamu.

Kebalik.

Setiap ada persimpangan jalan hidup dan pilihan-pilihan sulit, secara default kita mengambil yang gampang, enak dan nyaman. Bukannya mengambil yang susah, menantang dan membuat kita terjaga di waktu malam.

Kebalik.

Rules jadi exceptions, exceptions dijadiin rules.

Saya melatih diri sejak muda belia dulu (tsah), untuk selalu mengambil pilihan yang tidak nyaman.

Pilihan tidak nyaman, sulit dan menantang, adalah rule saya.

Bahkan bisa dibilang, saya jadikan ini kompas saya.

Kemana pilihan tidak nyaman ini mengarah, ke sanalah kaki saya akan melangkah. Kemana pilihan-pilihan nyaman menunjukkan batang hidungnya, saya mencoba berjalan menjauhi mereka.

Hidup yang nyaman, tidur sampe siang, bikin proyek asal jadi, nonton berseri-seri Game of Thrones, hangout ketawa-ketiwi sama temen-temen, dan milih-milih warna lalu beli iPhone X, semua itu kaga perlu latihan.

Kita semua lahir udah jago melakukan hal-hal di atas.

Tapi untuk menjalani hari-hari yang ga nyaman, untuk menjalani hidup yang sulit dan menanjak, kita perlu latihan. Banyak banget latihan.

Jadi seringlah berlatih.

Latih menjadikan hidup yang ga nyaman sebagai rule hidup kamu. Bukan exceptionnya.

Apalagi kamu anak muda yang lahir berkecukupan. Jumlah kaki dan tangan cukup, masih bisa makan cukup, masih belum nanggung siapa-siapa dalam hidup kamu. Kamu punya semua kemewahan untuk berlatih sejak dini. Please, I’ve seen people that chose comfort all their lives, and it’s not a pretty sight.

Kalau rules dan exception kamu tepat, kamu juga jadi jarang mengeluh.

Saya bilang ke team Ceritera jikalau mulai ada yang menggerutu soal klien yang sulit, apalagi setelah mereka membandingkannya dengan klien yang ‘enak’,

Kalau ada klien yang enak dan lancar, itu bonus. Klien memang seharusnya demanding (sambil tetap percaya penuh tentunya). Jangan mengharapkan Ceritera maju dan kemampuan kamu naik hanya dengan klien-klien yang enak.”

Klien yang sulit, hubungan yang perlu diperjuangkan, kebiasaan belajar untuk mengembangkan diri dan kehidupan yang mau terus membaik, jalan menuju semua itu secara default akan ga nyaman. So you need not to complain.

You can enjoy the bonuses. But only once in a while.

Beberapa waktu lalu, saya dan Francy menghabiskan waktu satu malam weekend di salah satu hotel bintang lima di Jakarta.

Alasannya karena Francy sedang dalam masa subur (wink-wink) and we want to break the routine. Kayaknya menikah 10 tahun lebih saya menginap di hotel di Jakarta untuk weekend gateaway baru pernah sekali. Saya juga hampir sebulan lebih terbenam dalam pekerjaan pegi-pagi-pulang-malem dan tidak punya waktu sama sekali buat dia. Hitung punya hitung dengan pilihan pergi ke Bandung dengan travel dan makan sana sini, mirip-mirip lah, jadinya kita pilih berlibur di hotel ini.

Pilih kamarnya juga yang lumayan. Mantep deh. Viewnya oke. Dan lega banget bisa buat main bola. Atau main yang lain-lain.

Kita merasa jadi ratu dan raja semalam itu. Kalau seperti kata-kata yang sering ada di brosur-brosur, “You’ll experience the best things money can buy.”

Terbaring malam-malam di kamar yang ampunnn bagus banget viewnya dan di ranjang yang ampunnn enak banget empuknya dan ampunnn licin banget linennya, sempat ada muncul rasa bersalah di hati saya.

“Gila enak banget hidup elu wad…”

Tapi rasa bersalah karena kemewahan ini tidak berlangsung lama.

Karena saya tahu persis bahwa bermewah-mewah adalah bukan jalan hidup yang saya pilih.

Sesekali, dengan perhitungan yang benar, silahkan memilih pilihan yang enak. Enjoy the bonus, the fruit of your hard work.

Seperti saya sering bilang dari dulu, “Saya tidak pernah berangan-angan untuk bisa segera pensiun supaya saya ga usah kerja lagi dan bisa duduk enak di pinggir pantai dan minum orange juice setiap hari sampai saya mati.”

Saya memang meminta Tuhan untuk bisa terus kerja dan terus berguna sampai hari saya mati. Saya ga pernah kebayang pensiun dari berkarya.

Goler-goleran di ranjang empuk sambil liat Jakarta di waktu malam, atau minum orange juice sambil liat sunset yang bagus boleh lah. Apalagi sambil diving.

Tapi sesekali.

Ojo kewalik.

 


*Edward Suhadi adalah creative director Ceritera, sebuah communication agency + production house di Jakarta. 

Menikmati tulisan ini? Dengan berlangganan, kamu akan dapat notifikasi jika ada tulisan-tulisan baru.

12 thoughts on “Hidup Yang Enak dan Hidup Yang Ga Enak

  1. gue sampe merenung baca tulisan elo bro… tampang gendut cina kaya gini kok bisa nulis bagus banget dan sampe jlebbb… sampe gue baca lagi dan baca lagi… gue sama sekali ga kepikiran… dan kayanya gue sama dengan orang lain kebanyakan… pengen hidup enak… susahnya dikiiit aja… kalo bisa ga usah ada yang susah… sering nyalahin Yang Diatas kalo susah dikittt aja… salam buat bokap nyokap elo ya… pasti mereka bangga banget punya elo bro… tetap menulis yaaa… thank youu

  2. “Goler-goleran di ranjang empuk sambil liat Jakarta di waktu malam, atau minum orange juice sambil liat sunset yang bagus boleh lah. Apalagi sambil diving.”

    because if we do it everyday, it’ll be somehow a boring thing to do too… 😛

  3. inspiring banget Ko!
    tersentil di bagian : bangun siang,males ngantor karena bosku cincay.
    trus sama bagian investasi aset2.
    Semangat! aku mau lebih semangat jalanin pilihan2 gak enak!
    Terima kasih Ko
    *salim

  4. Koh, kalau ada orang yg suka berdoa: “Semoga urusannya dimudahkan oleh Allah…” itu gimana Koh? Menurut Kokoh. Kadang menurut aku harusnya gini, “Mohon diberi kekuatan untuk menjalani segala urusan…” gitu gak sih Koh?? Tapi katanya namanya juga doa… hehhehe thanks for sharing Koh.

    1. Maaf lancang nimbrung mbak e.. tp jd tertarik buat nyampein pandangan pribadi soal ini..hehe.

      Salah satu tujuan doa itu kan ‘meminta’. Jadi ya sah2 aja masing2 orang mau minta apa, dalam arti kalau di contoh mbak diatas tadi berarti ada orang yang meminta ‘mudah’ dan ada yang meminta ‘kuat’.

      Nah, yg penting siap nanggung resiko aja sih, kalau selalu minta mudah, dan nanti tiba di suatu titik dimana dia merasa dia kok gak sekuat orang lain ya dalam menghadapi masalah.. ya tanya kenapa?? Jangan sampe malah nyalahin orang lain, apalagi menyalahkan yang diatas.. Begitu jg sebaliknya..

      Hehe.. gitu sih tanggapan pribadi dari saya.. kurang lebihnya mohon dimaafkan.. mungkin si kokoh yg punya artikel punya pandangan yang lain.. saya jg mau belajar.. trimakasih

  5. Hai Pak Edward,
    sudah sering jd silent reader di tiap cerita blog anda. terimakasih selalu menginspirasi. saya sangat setuju hidup jgn kebalik. besi kuat krna ditempa. ibu saya juga selalu bilang, orang hebat tdk dibentuk dari kemudahan. jadi sekeras2nya lah dalam berusaha. hidup enak itu bonus.
    semoga suatu saat bisa bertemu dan bertukar cerita inspirasi pak.

  6. Hmmmn… speechless.
    You just right mas edward.

    5 tahun pertama masuk dunia kerja dengan segala fasilitas kemudahan membuat saya benar2 jadi kebalik antara rule dan exception. Sampai 5 tahun berikutnya suasana berubah dan hari hari penuh dengan masalah.

    Sampai hari ini saya selalu mengeluhkan kenapa setelah sejenak ‘bernafas’ dari problem2 tang dilalui, harus lagi menghadapi problem2 berikutnya dan it’s so exhausting.

    Thanks for remind us. It’s so deep.

  7. Kalau rules dan exception kamu tepat, kamu juga jadi jarang mengeluh.

    Apakah kalimat diatas bisa dijadikan indikator jika seseorang jarang mengeluh, maka rules dan exception mereka sudah tepat ?

    Jadi ingat ketika menikmati kemewahan di Ibukota sementara orangtua di desa bersusah payah banting tulang buat bayar biaya. Sejak saat itu langsung sadar kalo ini bukan jalanku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *