Walau sudah setengah berjalan ke luar, saya menarik dia masuk lagi dan saya tutup kembali pintu ruangan dokter yang sudah terbuka itu.

Saya tahu dia masih mau menangis, walaupun sebelumnya dia sudah cukup lama terisak di pelukan Miss Lim, suster perawat yang jadi dekat dengan dia karena bolak-balik bertemu dan bertukar pesan.

HCG, sejenis hormon penanda kehamilan, yang diambil dari darah Francy pagi ini cuma berangka 4.6. Untuk dikatakan hamil, seseorang harus paling tidak kena ambang 9 – 130. Seorang teman seminggu lalu dapat angka 221. Ada lagi teman yang juga baru dapat hasil angkanya 951.

Dulu di IVF pertama kita, angkanya 59. Hamil. Tapi tidak berkembang. Baca ceritanya di sini.

Saya tidak melihat reaksi Dr. Dave dan suster-suster yang lain bagaimana di belakang saya ketika saya memeluk Francy. Ruangan terasa sunyi, hanya diselingi suara isak lemah tangis.

Walau patah hati bahwa IVF kali ini tidak berhasil lagi, saya bersyukur bisa bertemu orang-orang baik di Penang ini.

Dr. Dave, dan timnya Suster Lim, Suster Mei, Suster Syamim.

Entah kenapa, dan entah apakah perasaannya sama di seberang sana, tapi kami jadi merasa dekat dengan Dr. Dave. Ketika nanti bercerita, Suster Lim bilang bahwa pagi-pagi tadi dia sudah sedikit emosional ketika melihat hasil kami yang negatif dari jaringan intranet rumah sakit.

Bersama Dr. Dave ketika baru datang di trip ini. Saya bawa foto turtle yang akhirnya dipajang di ruangan dia. “Turtles are good luck,” kata dia.

Saya senang bisa berkesempatan ditangani beliau. Sesi konsultasi kami jarang diisi runutan prosedur-prosedur medis. Tentunya bukan karena dia tidak paham (sepengetahuan kami Dr. Dave dan timnya adalah salah satu yang terbaik di kawasan ini) – tapi yah, apa gunanya kami para awam ini dibuat pelik dengan ratusan variabel medis yang jika diceritakan tuntas pun, hanya akan benar-benar menyentuh permukaan dari kompleksitas sebuah prosedur medis yang sangat mutakhir?

Membaca ratusan blog dan artikel tidak membuat kita ahli ataupun bijak dalam membuat keputusan-keputusan medis. Yang ada jadi setres. Dokter setres. Kita setres.

Kami setuju dan suka dengan pendekatan dia. Setelah secukupnya menjelaskan hal-hal medis, yang banyak dia lakukan adalah berbagi tentang mengendalikan emosi dan hati. Tentang ekspektasi, kekecewaan, tentang jiwa, tubuh dan pikiran.

Dr. Dave sepertinya cukup dalam menghidupi ajaran-ajaran Hindu. Sering dia bagikan ke kami nilai-nilai universal yang saya rasa, apapun agama kita, pasti bisa kita petik hikmahnya.

Dia bagikan kutipan ini ketika saya dan Francy datang beberapa sore lalu ketika Francy sedang dalam kondisi sangat emosional menunggu hari ini. Kutipan yang sangat relevan untuk kami (dan mungkin untuk kamu yang sedang membaca ini):

“Focus your mind on action alone, but never on the fruits of your actions.”

Atau ada versi lainnya, “You have the right to your actions, but never to your action’s fruits.”

“We can control what we do. We try to do our best, but to achieve the actual results that we want, there are so many things that are really out of our control,” kata dia.

“That’s why worrying is never a good thing.

“Like, right now you worry, then you do get pregnant, then you’ll feel stupid for feeling miserable for two weeks.”

“Or you worry, then you did not get pregnant, then you’ll blame yourself thinking that it was the stress that caused it.”

“Nothing good ever come out of worrying.”

Hal-hal seperti itu lah. Banyak.

Mungkin dia tahu bahwa hal terbaik yang bisa kita lakukan sebagai pasien adalah percaya kepada mereka yang memang ahli di bidangnya, dan berusaha rileks dan tenang dalam menjalani prosedur yang sangat bergantung pada hormon-hormon dan kondisi fisik+psikologis tubuh ini.

Hm.

Bersyukur juga untuk para perawat dan terutama Miss Lim. Walaupun tugas dia memang untuk mengucapkan hal-hal positif kepada para istri-istri yang khawatir, kecewa dan sedih ini, entah kenapa saya merasa bahwa dia emotionally invested di kasus kita.

Miss Lim. Selalu gesit, selalu ceria.

Di ruangan sebelah ketika kami bertiga menenangkan diri, dia berkata dengan logat singlishnya yang kental, “Aiya, you know wat la, you have to be grateful to have this guy la,” kata dia sambil ngelirik memuji tapi rada ga rela ke arah saya.

“Most husband a, the wife cry, I sit here, the wife hug me, the husband just sit maybe also don’t know what to do, I feel like also, aiya… bingong…” Kita semua tertawa.

Saya memang berusaha sebaik mungkin jadi sosok suami yang kuat, yang bisa diajak diskusi, yang rasional, yang bisa menghibur, yang bisa dewasa dan tenang di perjalanan ini.

Saya cerita begini bukan untuk memuji diri sendiri, tapi menunjukkan bahwa hal paling utama yang saya syukuri di hari-hari ini adalah hubungan saya dan Francy yang cukup mesra dan terbuka, dan fakta bahwa kami berdua cukup dewasa dan sama-sama kuat untuk bisa saling memberi semangat, mengingatkan dan mengangkat ketika salah satu kami sedang terpuruk.

Hm lagi.

Saya mau ucapkan terima kasih juga khusus untuk Lissa (dan suaminya Ario). Kita bertemu berbulan lalu ketika dalam persiapan IVF. Ternyata prosedur kita terpaut seminggu, dan sempat bertemu beberapa kali di sini.

Lissa sangat membantu Francy. Dari seorang wanita kepada seorang wanita. Walau dukungannya dari jauh dengan Whatsapp, tapi saya tahu Francy jadi merasa punya seorang teman yang senasib.

Terima kasih ya Lissa. Senangnya dengar bahwa IVF kalian berhasil. Selametin Lissa dan Ario ya guys.

Lissa dan Francy. Lalu bersama Miss Lim memegang hasil positif kehamilan Lissa.

Hm terakhir.

Kita juga sangat bersyukur buat kalian semua: keluarga, teman dan para orang asing yang kini tidak lagi karena kalian sudah mengikuti perjalanan kami sampai hari ini.

Dari semua teman-teman di grup-grup WA, kerabat-kerabat yang memberikan komentar di social feeds kami, sampai dengan ribuan pasang mata yang membaca tulisan-tulisan ini lalu membisikkan doa kalian untuk kami.

Seperti pernah saya tulis di sini, saya dan Francy sebetulnya pasangan yang lumayan tertutup. Tapi melihat respon luar biasa dari begitu banyak pasangan, mulai dari tulisan pertama sampai yang terakhir, kami bersyukur bahwa kami bisa menuliskan perjalanan pribadi ini untuk kalian baca semua.

Kadang suka berasa, “Yaela Wad, elu posting IG dan nulis-nulis begini kayak attention whore banget sih.”

Tapi kemudian saya ingat bahwa selain tentunya untuk mendapatkan dukungan dari kalian, saya percaya tulisan saya juga jadi dukungan untuk kalian. Semoga kalian juga tahu bahwa kalian tidak pernah sendirian. Banyak yang kayak kite.

Kami benar-benar bersyukur untuk kalian semua.

Kita jadi kuat karena dikelilingi orang-orang kuat.

Terima kasih ya. Sungguhan deh.

Banyak sekali pasangan-pasangan, terutama wanita, yang sedang patah arang, kecewa, pahit dan menyerah, menghubungi kami dan berkata bahwa mereka dikuatkan dengan perjalanan kami.

Selain puluhan cerita/comments dari kerabat yang bercerita tentang kisah mereka, Francy sempat kaget di tab Instagram ‘message request’ dia ternyata ada 20-30 pesan lebih dari orang-orang yang dia tidak kenal yang mencoba menghubungi dia (message request dari orang-orang yang tidak kita follow tidak terlihat langsung di Instagram).

Ada yang terinspirasi dari hubungan suami-istri kami, ada yang memberikan begitu banyak tips (“Ci Pancy, kalau habis embrio transfer ga boleh mandi 2 minggu! Tidur terlentang aja!”), ada yang memberikan nama dokter dan nama obat, ada yang bercerita tentang keberhasilan-keberhasilan mereka, ada yang bercerita tentang kegagalan-kegagalan mereka, dan yang paling kita suka: ada yang sudah menyerah tapi jadinya mau mencoba lagi.

Ternyata, di luar sana, banyak sekali pasangan yang juga sedang berjuang. Buanyak. Banget.

Seringkali menolong diri kita sendiri, kita lakukan dengan menolong orang lain. Saya senang melihat Francy akhirnya disibukkan dengan menjawab chattingan para wanita-wanita ini sambil berbagi apa yang sudah dan sedang dia lalui.

“Kita ga sendirian Wad,” begitu kata dia. “Ternyata banyak yang perjuangannya jauh lebih sulit dan panjang. Kita harus bersyukur.”

Bersyukur selalu memang akhirnya kita berdua.

Walaupun perjuangan kali ini hasilnya bukan yang kita harapkan.

Setelah selesai menangis berdua di bangku-bangku lobby depan Loh Guan Lye, kita duduk termangu di antara ramainya hilir mudik dokter, perawat dan para pasien.

Menangis boleh. Tapi terus-terusan jangan. Sedih boleh. Tapi mengutuki diri sendiri jangan.

. . .

“Makan yuk,” kata dia.

“Ayuk,” jawab saya.

“Gw bayar dulu,” kata dia sambil beranjak berdiri menuju kasir.

Saya melayangkan pandang ke luar jendela.

Tanpa berbicara, kita berdua sudah tahu, bahwa pasti kita akan mencoba lagi. Tidak menyerah.

Sedang larut dalam lamunan, saya dikagetkan oleh pekik suaranya, “Wad!”

Saya tersentak kaget, “Apa?!”

Jawab dia riang, “Sama Dr. Dave dikasih biaya periksanya ga bayar. Gratis!” Mukanya berseri-seri.

Ya ampun. Barusan tadi abis nangis-nangis.

Cepat move on ya bocah.

Tapi.

Hidup memang harus cepat move on.

Kenali apa yang bisa diperbaiki. Persiapkan diri. Minta restu ilahi. Lalu berjuang lagi sekuat tenaga di lain hari.

Kapan, di mana dan bagaimana, itu pertanyaan-pertanyaan untuk lain waktu.

Wong air mata ini aja belum kering.

Sekarang, biar sukacita dapet gratisan yang menutup perjalanan kami kali ini.

Mata sembab. I love you.

PS: Buat kalian yang mau menghubungi Francy untuk tahu lebih banyak tentang IVF, silahkan sapa dia di FB atau IG.


*Edward Suhadi adalah creative director Ceritera, sebuah communication agency + production house di Jakarta. 

 

Menikmati tulisan ini? Dengan berlangganan, kamu akan dapat notifikasi jika ada tulisan-tulisan baru.

27 thoughts on “Menuju Hamil – Part 3 of 3

  1. Kerennn banget tulisannya ko, sangat menginspirasi aku untuk bersyukur dalam setiap hal. Dalam keadaan “susah” pun pasti ada hal yang bisa untuk disyukuri.
    God Bless U n Ur Fam

  2. Ko, saya baca ceritanya dari 1-3, ga berhenti-berhenti terharu sama perjalanan kalian berdua. Ko Edward, Ci Francy tetap ceria dan semangat ya. Begitu banyak orang yang mensupport kalian dan mendoakan kalian, saya salah satunya. Dan buat ko Edward, jangan berhenti menulis ko.. Saya yakin cerita kalian uda banyak menjadi inspirasi buat banyak orang. Saya juga suka banget sama semua cerita yang ada di web ini. Rasanya kok ya adem, terinspirasi, kadang pengen nangis juga karena terharu baca tulisanmu ko..

    Ah ga tau mau ngomong apa lagi, di tenggorokan masih sakit karena nahan nangis.. secara bacanya di tempat umum. Tapi saya ga tahan mau komen buat semangatin kalian berdua. Sekali lagi, semangat!! dan terima kasih karena sudah membagikan cerita kalian. Saya tau pasti ga mudah nulis pengalaman ini.

  3. Helloo
    Juz to share stories, well maybe if someone else had shared the same experience, thats fine.
    But if no one have shared this experience, hope its useful 😊

    My 1st pregnancy was not easy, I misscarriaged 5 times before I’m able to have Reuben.

    I consulter with Dr. Jothi Kumar from Gleanegles Singapore, if you’d like to consider.
    And for the whole pregnancy I took aspilet/aspirin

    Apparently there’s a connection between blood thickness and pregnancy
    Dr. Kumar prescribed fraxyparine for my 1st trisemester, its an injection that is usually given to person with heart condition.

    Dr. Kumar also prescribed proluton, injection to stregthen the woomb (?)

    The indicatiom to use aspirin/aspilet was also given by my local gynocologist in Surabaya.

    Keep the spirit up, Francybis lucky to have you 😊
    God bless

  4. Ah, kalian berdua selalu punya cara simple, menyentuh dan mengajarkan orang lain utk lebih mensyukuri apa yang bisa dinikmati dan dimiliki hari ini.. thank you for such an amazing hearts.. percaya Tuhan pasti sedang menyiapkan kalian utk menjadi pembawa cerita indah tentang betapa baiknya Tuhan dalam hidup kalian.. selalu berdoa yang terbaik utk kalian… Semangaaattt yaaaa….

  5. Tulisan ini sangat menginspirasi ko. Saya sedang mempersiapkan fisik & mental untuk konsultasi IVF. Terima kasih atas inspirasinya. 😊😊

  6. Ko Edward! I am really blessed with your story and your words. Really! I cannot wait till your wishes, dreams and hope do come true. Don’t give up banging on Heaven’s door, Ko Edward and Ci Francy. Diving kapan yooook? Hahaha

  7. Tetap semangat ya kalian.. jangan berhenti mencoba..
    Betapa beruntungnya kalian yang masih bisa dan punya jalan ( kesempatan ) untuk berusaha sejauh ini.
    Diluar sana banyak yang menanti keturunan juga seperti kalian. Tapi tidak bisa melakukan apapun.
    Tidak bisa berusaha semaksimal seperti yang kalian lakukan sejauh ini karena keterbatasan materi.
    Itu yang saya rasakan sekarang.
    Maka dari itu saya mau bilang betapa beruntungnya kalian.
    Saya pun merasakan hal yg sama. Menunggu. Tapi tidak bisa berusaha sejauh yang kalian lakukan.
    Di sisi lain sang suami pun tidak memiliki passion yang kuat untuk sama-sama berjuang.
    Membaca blog tulisan ini jujur saja menyimpan sedikit kecemasan jg untuk saya yang sekarang memasuki usia pernikahan ke 6.
    Melihat betapa sulit, sakit dan lelahnya ternyata IVF yg dijalani.
    Tapi kalian tetap cheerfull dengan setiap hasil yang dicapai.
    Keep fight. Keep faith in God. Kembali lagi Dia lah sumber dari semuanya. Tidak ada yang mustahil bagi Dia. Sekalipun manusia berkata tidak mungkin.

  8. Lamjutan yang selalu saya tunggu… Terima kasih atas ceritanya.. Atas semangat positifnya yang dibagi… Mungkin rejekinya bukan sekarang. Kita tunggu saja. GOD’s time always perfect. Jia you

  9. Awal nikah saya juga pengen bgt cepet2 punya anak. Mungkin krn terlalu pengen jd kepikiran terus dan kurang relax. Since one day, saya rajin meditasi tenangin pikiran dan entah knp berasa pasrah aja gak terlalu pengen kaya awal2. It helps sampe2 hamil 3 bulan gak brasa krn mikirnya dateng bulan yg masalah. Maybe u can try to do meditation n focusing the mind “it works it works it works, repeatedly” so it builds the positive situation mind n body. Btw my dr is arie polim kfer maybe u can try. I didn’t follow the part 1 n 2 of your story #keep fighting#keep believing#keep trying#keep praying#keep meditating

  10. thank youuu..aslii tulisan ini bantu bangeet…mungkin perjuangan saya ga sama dg kalian b2 tapi apa yg d tulis di sini bener2 nolong saya banget…am blessed…saya percaya janji Tuhan ya dan amin..tetap putarj janji Tuhan dg sabar dan yakin…the best is yet to come…

  11. Hi Ko edward & ci Pancy, terus semangat yah! Saya tiap kali ada tulisan dr edward suhadi suka baca2, dan kali ini ga sadar baca sampe terharu, i can feel all the emotions transferred via your words, dari kmrn ikut penasaran gimana hasil nya, apapun itu keep posting n keep inspiring yah, all pray and best wishes goes to you both! The best is yet to come. GBU.

  12. Keep in faith for both you….ngerti banget rasanya berjuang buat punya baby. Tapi yakinlah Tuhan selalu punya rencana baik buat kita. Take a look a good side….I believe what you’ve been going together make the bound between you become stronger than ever before. Berusaha dan berdoa, yakinlah semua akan indah pada waktu Nya…

  13. Part 1 bacanya sambil senyum2, part 2 mulai ngerembes, part 3 tumpah a.k.a mewek
    Gw & suami berencana buat ‘bertamu’ lagi ke klinik dokter kandungan untuk konsultasi bayi tabung 🙂 HARUS semangat!
    Terima kasih udah cerita. Gw pernah ngerasain deg2an pas harus konsultasi ke dokter, nangis2 trus ada momen dimana kita berdua sama2 silent pas insemnya gagal
    Semua perasaan dan pemikiran yang ditulis disini pernah juga gue alamin, mungkin sampe hari ini.
    Kalo ada kabar terbaru, tulis lagi ya 😀
    Giliran kita hamil akan datang di saat yang tepat dan gue yakin akan hal itu.

  14. Hiii Francy..Aku jg ikt program IVF di Penang..Apa kamu pernah dgr nama Dr. Ng Peng Wah ?? Beliau praktek di Klinik Genesis, Gurney Paragon..Dahulu di RS. Lam Wah Ee..

    1. Semangat ci francy, banyak yg Diluar sana yg berjuang seperti kita kok dan malah masalah yg lebih kompleks seperti saya ini..

      Haii ci soffy bisa minta contact yg bisa dihubungi? Email gt mau tanya2 soal de ng yg diklinik genesis rencana mau kesana minggu2 ini tq

  15. Ko Edward dan istri, aku jg ngikutin cerita2 mu dr lama. dn aku selalu suka disetiap tulisan mu. Serasa hidup. Serasa dlm menghadapi kehidupan ini kita tdk pernah sendiri. Bahkan saat kita merasa tak ada jalan keluar sekalipun… ahh sudahlah ko aku pun menjadi sembab 🙁
    Jgn menyerah ya, keep inspiring!
    God bless u both

  16. Ko Edward dan Ci francy,

    You guys are not alone. Kami pasangan infertil for 11 years. Tried so many times and in many ways termasuk IVF yang selalu gagal di tahap sebelom transfer embrio. Tuhan itu adil. Kita belum dikasih rejeki anak tapi kita dikasih rejeki dalam bentuk support dari teman-teman yang baik, pasangan yang sabar dan bijaksana, or mungkin pekerjaan lancar, macem-macem bentuk rejeki kita.

    Stay happy dan salam utk Ci Francy ;))

  17. Hai Koh Edward dan Ci Francy, selama ini aku jadi silent reader blog Koh Edward,tapi untuk artikel ini aku beranikan komen di kolom komen. Terimakasih sudah share pengalaman Koh Edward dan Ci Francy dengan bahasa yang renyah, tapi tetap bikin berpikir. Baca artikel ini, mulai dari part 1 – 3 bikin aku nangis (dan di kantor, hehe). Aku dan suami udah jalan 4 tahun, dan masih belum ada anak. Jadi..somehow I feel you. Aku ga setuju Kokoh bilang kalau artikel ini attention whore. Nope, you just sharing your story and I feel grateful for that. Aku menangis baca pesan Dr Dave, because he’s right, worrying will get you nowhere.

    Terimakasih banyak sudah sharing Koh. I will always pray for you and Ci Francy happiness :’)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *