Jikalau kamu punya mobil keluaran paling tidak lima tahun ke belakang ini, kemungkinan besar dia akan membunyikan alarmnya kalau kamu tidak mengenakan sabuk pengaman kamu.

Tut-tut-tut-tut.

Dulu saya sering bawa mobil ke kantor melalui perjalanan yang cuma 800 meter panjangnya.

Walau jarak perjalanan yang pendek banget, dia tidak pernah gagal berbunyi dengan menjengkelkannya.

Padahal paling cuma 3 menit. Tapi tetep aja.

Tut-tut-tut-tut.

Dia cuma tutup mulut kalau akhirnya saya pasang sabuk pengaman saya.

Yang menyebabkan saya ngomong pagi-pagi sama dashboard, “Puas?”

Melalui dua mata speedometernya dia seperti menjawab balik, “Puas.”

Sering kalau pagi-pagi saya lagi bete, saya biarin dia bunyi terus sampai saya sampai di kantor.

Tut-tut-tut-tut setiap mungkin 100 meter.

Biarin aja.

Kayak kuat-kuatan sama orang yang merengek-rengek.

Sampai saya tiba di kantor dengan si alarm tetap berbunyi.

Tut-tut-tut-tut sampe serak dia.

Puas rasanya.

Biar mampoes loe.

Suatu akhir pekan, saya dan Pancy pergi makan bakmi.

Sejak lagi makan kami membahas sebuah topik yang cukup hangat. Seru.

Obrolan ini dilanjut terus di dalam mobil dalam perjalanan pulang. Debat, sanggah, argumen. Wah asik deh.

Ketika sedang asik larut dalam obrolan, saya tiba-tiba sadar.

Saya lihat ke bawah, saya lagi ga pake sabuk pengaman.

Tapi kok nggak ada suara tut-tut-tut-tut?

Ternyata saya baru tahu, bahwa alarm itu hanya berbunyi untuk jarak tertentu.

Saya tidak pernah cari tahu berapa angkanya, tapi sepertinya setelah mengingatkan penumpangnya untuk jarak sekian, si alarm akhirnya diam.

Karena saya selalu sampai kantor sebelum si alarm ini berhenti berbunyi, saya pikir si alarm ini akan berbunyi selama-lamanya.

Bukan hanya untuk jarak tertentu, seperti yang saya temukan di akhir pekan itu.

Saya kayak jadi mikir gini sih.

Banyak dari kita suka diingatkan.

Apalagi jika punya kakak yang sayang sama kita. Bos yang sabar. Kolega yang pengertian. Temen yang nggak capek-capeknya kasih perhatian.

“Ayo dong, kuliah kamu kapan kelarinnya?”

“Ayo dik, udah siang, masa ke kantor telat melulu?”

“Minggu lalu saya bilang apa kalau presentasi? Coba deh perbaiki lagi ya.”

“Kamu masih mau bekerja dengan cara begini? Ayo kini saatnya berubah.”

“Cukup lah elu main gitu-gituanan, gw dah ngomong dari dulu, saatnya nabung bro.”

Kita sering merasa hidup kita akan baik-baik aja karena orang-orang ini akan selalu ada untuk kita.

“Gue akan selalu diingetin, selalu dikasih kesempatan kedua, selalu dikasih kelonggaran, selalu dikasih kesempatan, selalu diulurin tangan, gue akan selalu ditolong.”

Tapi tau gak, kalau saya boleh berbagi dari sisi orang yang hidup sehari-harinya menjadi ‘kakak’ buat banyak banget anak muda.

Kadang saya mikir sama seperti si disainer sistem alarm mobil saya tadi:

“Elu gua udah ingetin terus-terusan. Di setiap kesempatan. Sampe gua cape, sampe elu bosen. Tapi cukup dah.

Kalau sudah diingetin sampai begini tapi elu masih mau kalau nabrak tiang listrik terus mampus, ya gua ga bisa apa-apa.

Gua ga akan bisa ingetin elu selamanya. Aki gua akan soak, elu akan benci gua, dan gua ga bisa ngapa-ngapain yang lain. Urusan gua juga masih banyak.”

Tentu akan ada orang-orang yang akan selalu peduli dan ada untuk kita. Kasih Ibu lebih panjang dari antrian restoran IKEA di hari Minggu katanya. Itu betul banget.

Tapi untuk kebanyakan kita, yang dalam keseharian kita, dalam kemalasan-kemalasan di karir dan hidup profesional dan dalam kebiasaan-kebiasaan buruk hidup kita, tidak ada orang yang peduli sama kita untuk selamanya.

Pengalaman pribadi saya, saya juga cape.

Saya sering investasikan hari, minggu, bulan, tahun, untuk anak-anak muda yang bersinggungan jalan hidupnya dengan saya.

Kita tidak usah bicara lah tentang mereka yang diingatkan lalu bertanggung-jawab dan bersikap seperti orang dewasa dan memperbaiki hidupnya.

Tapi mari bicara tentang mereka yang sudah diingatkan dan ditegur dan diulurkan tangan dan dikasih kesempatan, baik ketika pagi siang malam, dan dari arah utara selatan timur dan barat, masih juga tidak berubah.

Merasa bahwa Kak Edward akan selalu baik dan akan selalu kasih kesempatan.

Semacam kanak-kanak. Kolokan. Manja.

Guess what. Saya bisa merasa muak juga.

Saya bisa ingat prioritas-prioritas lain dalam hidup saya, istri dan keluarga saya, dan saya bisa investasikan waktu dan hati saya lebih baik untuk mereka-mereka yang memang mau benar-benar berubah.

Saya yakin kakak-kakak dan mentor-mentor lain juga berpikiran hal yang sama. Jangan menganggap remeh setiap kesempatan atau teguran yang mereka berikan buat kamu.

Seberapa besar hati mereka, menentukan seberapa jauh mereka mau berjalan sambil terus membunyikan alarm mereka untuk kamu.

Tapi pada akhirnya, jika kamu masih terus tetap kekanak-kanakan, mereka juga pasti bisa merasa muak dan cukup.

Banyak orang yang carut-marut dan mentok hidupnya menyia-nyiakan masa-masa ketika mereka diingatkan alarm-alarm dalam hidup mereka.

“Ah, berubah nanti aja. Alarmnya akan selalu bunyi kan. Akan selalu ada yang mengingatkan dan akan selalu ada yang menolong dan akan selalu ada kesempatan lain kan? Nanti ajah.”

Sampai tiba-tiba tidak ada tut-tut-tut-tut lagi dan kita sudah tua dan sudah punya tanggungan dan kehidupan sudah lebih rumit dan sudah jauh lebih sulit untuk berubah.

Ingat.

Hidup kamu selalu akan bergantung pada kedua belah tangan kamu.

Jangan tunggu motivasi dan pertolongan orang, tapi motivasilah dan tolonglah diri kamu sendiri.

Kenapa?

Karena tidak ada orang yang akan peduli sama kamu untuk selamanya.

Jika saat ini kamu punya orang-orang seperti ini dalam hidup kamu, gunakan teguran, pertolongan, nasihat, peringatan mereka dengan baik. Pakai kesempatan ini untuk berubah. Sungguh gunakan kesempatan ini sebaik-baiknya. Kita tidak akan ada di sini untuk selama-lamanya.

Karena jika tidak, kalau elu mau nabrak tiang listrik terus mampus, ya, kita ga bisa apa-apa.

 


*Edward Suhadi adalah creative director Ceritera, sebuah communication agency + production house di Jakarta. 

Menikmati tulisan ini? Dengan berlangganan, kamu akan dapat notifikasi jika ada tulisan-tulisan baru.

7 thoughts on “Tidak Ada Orang Yang Peduli Selamanya

  1. setuju…
    kadang ngalamin juga dikantor,,
    orang orang kerjanya suka nyantai dan gak hati hati sama kesalahan,,
    karena mindset mereka
    “tenang aja,kan ada putri”
    padahal kan gak selamanya saya selalu ada dan bisa diandalkan,,
    dan kadang bosen juga,, pegel ngajarinnya..

    dan cara terbaik buat bikin orang kapok adalah
    cuekin aja,,dan biarin mereka benerin sendiri salahnya,, (untuk case ini mesti kuat mental untuk tega sama mereka,,) kadang suka gak tega juga ngeliat orang dalam kesulitan ..

  2. Thanks sharingnya koh.

    Bukan cuma capek sih, kadang memang cara mendidik terbaik adalah buat mereka untuk tanggung jawab atas kesalahan atau kelalaian yang mereka buat. Dengan salah kemudian mereka jadi mengetahui dimana letak kesalahannya and hopefully they will get start to learn the process and its core value.

  3. *dheg*

    Merasa seperti ditampar dan disadarkan oleh tulisan ini. :’)
    Saya adalah manusia yg paling males banget untuk melakukan ini itu kalo nggak diingetin berrrrrrulang kali oleh org sekitar, kawan, keluarga, pacar atau dosen. Merasa benar2 dipedulikan sampai meremehkan orang2 tersebut yg telah mengingatkan saya. Bahkan sampai lupa, mereka juga bisa muak dan males ngingetin. Akhirnya apa?
    Dibiarin.
    :'(

    Terima kasih, kak Edward. Tulisan yg bagus sekali.

  4. Benar ini artikelnya membuka wawasan kita banget menyadarkan banget om edward. Thank youu artikelnyaa. Semoga bisa membuat artikel yang memiliki makna luar biasa yang lainnya ya om .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *