Mendingan Gua

Ga bisa disangkal bahwa untuk dapat hasil yang di atas rata-rata, kita harus beri usaha di atas rata-rata juga.

Usaha, nyali dan tenaga.

Tapi yang terutama, kita selalu harus beri waktu di atas rata-rata juga, daripada mereka yang hasilnya selalu, well, rata-rata.

Mungkin berangkat lebih pagi dan pulang lebih malam. Mungkin masih menengok pekerjaan di akhir pekan. Atau mungkin sesederhana lebih fokus dalam menggunakan waktu di kantor/tempat kerja.

Jangan salah ya, walaupun saya orangnya suka sekali kerja, tapi saya tahu betul nilai dari istirahat dan pentingnya hidup yang seimbang. Yang saya mau ceritakan di sini bukanlah tentang mulianya jadi orang yang terus-menerus kerja berlebihan, atau tentang mengajak kerja mati-matian sampai diri kita tidak lagi sehat jiwa dan raga. Bukan.

Saya mau bercerita tentang fenomena ‘mendingan gua’ yang saya sering saya dengar ketika orang (dan saya sendiri juga) memutuskan bagaimana menggunakan waktu mereka.

“Ton, elu bisa bantuin gua nggak sampai malam? Project X belum kelar nih…” tanya si Budi.
“Wah sorry bro, gw ada acara,” jawab si Tono.
“Mendingan gua nonton Netflix di rumah…” bisik lemah Tono ke si Tini di sebelahnya.

“Ani, ikutan kelas sabtu pagi yuk besok. Pasti banyak belajar hal baru dan juga ketemu temen-temen baru deh.”
“Wah, sorry gw ga bisa. Next time ya,” kata si Rhoma.
“Mendingan gua di rumah main fesbuk,” gumam Rhoma dalam hati di perjalanannya menuju pintu lift.

“Tarzan, can you come really early tommorow morning? I need another guy to help me with the big presentation for the board,” kata Mrs. Jane.
“I’m sorry I can’t Mrs. Jane. I need to do a thing,” kata Tarzan.
“Mendingan gua goler-goleran di ranjang lah,” ketik Tarzan di grup WA teman-teman kantornya.

Sering sekali, ‘mendingan gua…’ kita, itu tidak cukup kuat.

Dalam memutuskan bagaimana menggunakan waktu kita, kita paling nggak selalu punya dua pilihan.

Pilihan pertama yang ga enak, lebih capek dan membutuhkan pengorbanan; namun biasanya membawa banyak kebaikan, pelajaran dan manfaat.

Dan pilihan kedua yang lebih nyaman, santai dan enak; namun biasanya tidak mengajarkan kita apa-apa dan seringkali malah menarik kita turun.

Bukan mengenai waktu bekerja aja ya seperti contoh-contoh di atas. Tapi juga tentang pilihan-pilihan kegiatan di waktu luang, atau tentang memutuskan pergi kemana, atau tentang mau mulai suatu kebiasaan baru atau tidak.

Kita seringkali menolak pilihan pertama kita, sambil bergumam dalam hati, “mendingan gua lakuin pilihan kedua gua….”

Not good enough.

Paling nggak ini pencerahan saya pribadi.

Saya sadar ketika suatu hari saya ngumpulin ‘mendingan gua’-‘mendingan gua’ saya.

Kenapa saya nggak suka ketika lihat daftarnya ya?

Mendingan gua main fesbuk (lagi), mendingan gua tidur (lagi), mendingan gua main game (lagi), mendingan gua males-malesan (lagi), mendingan gua di rumah (lagi), mendingan gua nggak ngapa-ngapain (lagi).

Saya lakukan hal-hal di atas bukan karena saya butuh istirahatnya, tapi karena mereka pilihan yang lebih enak aja. Udah kenyang juga, udah bosen juga.

Tapi tetep aja.

Kesempatan-kesempatan baik (dan kadang langka) untuk bisa melakukan sesuatu yang bernilai tinggi, sering saya tukarkan dengan ‘mendingan gua’ yang ga ada nilainya apa-apa.

Yeesh.

Not good enough.

I didn’t like it. At all. It’s a bad way of thinking on how to spend my time.

TIDAK ADA YANG SALAH dengan fesbuk, tidur, main game dan males-malesan, saya katakan sekali lagi. Kamu kalau ketemu saya di waktu yang tepat, saya ini orang paling santai dan pemalasan yang akan kalian temui. Apalagi di umur om yang segini, om mengerti banget pentingnya istirahat, berjeda, dan mengisi baterai om.

Tapi.

Kehidupan kita adalah hasil adukan dari semua keputusan-keputusan yang kita buat mengenai bagaimana kita menghabiskan waktu kita.

Dan mereka yang lebih sering mengambil pilihan yang sulit daripada pilihan yang mudah, selalu punya kesempatan jauh lebih besar untuk bisa berhasil di dalam hidupnya.

Suka main fesbuk? Fine. Tapi waktu produktif nggak main fesbuknya lebih banyak ya. Suka goler-goleran? Fine. Siapa yang nggak. Tapi memilih mengisi weekend dengan kegiatan-kegiatan membangunnya harus lebih sering ya.

Bagaimana kalau.

Kita coba kebiasaan berikut mulai sekarang:

Setiap diberikan pilihan, beri waktu sejenak untuk memeriksa dengan baik gumaman ‘mendingan gua…’ dalam hati kita.

Sudah?

Nah.

Baru putuskan.

 


*Edward Suhadi adalah creative director Ceritera, sebuah storytelling agency di Jakarta. 

One response to “Mendingan Gua”

  1. Todi Raharjo says:

    Keren ko.. so inspiring

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *