Memang penyakit saya kalau liburan itu, jadi banyak ingin menulis tentang hidup.

Saya rasa alasan utamanya adalah, karena kita biasanya liburan ke tempat-tempat yang bagus dan enak, kita jadi sering bertanya dan membandingkannya dengan kehidupan kita sekarang.

Saya dan istri sudah hampir seminggu ada di Jepang, berkeliling ke kota-kota kecil seperti Fuji, Takayama dan Kanazawa.

Kanal sungai di Takayama, bersih, luas, dipersiapkan untuk mengalirkan air ketika volume meluap.
Nyebelin emang. Masa sungainya penuh ikan koi 😀

Berjalan-jalan di kota-kota yang cantik, bersih, teratur, dinaungi udara bersih dan langit biru, dikelilingi perbukitan dan dilewati sungai-sungai jernih penuh ikan, pikiran-pikiran dan pertanyaan-pertanyaan berikut muncul di kepala saya:

“Pasti bahagia ya tinggal di sini.”
“Enak kali ya hidup begini.”
“Gile udaranya seger banget.”
“Duh tuh liatin bisa bawa anjing jalan-jalan ke pinggir sungai.”
“Gila kemana-mana naik transportasi publik gampang begini.”
“Enak kali ya kalau tinggal di sini, udah nggak usah mikirin duit?”
“Apa gua pensiun cari kota seperti ini?”
“Gua bisa ga ya pindah ke sini?”
“Apakah gua akan bahagia tinggal di sini?”

Tapi walaupun reflek kepala berpikir isinya kalimat-kalimat di atas, jawaban saya selalu sama atas pertanyaan ini: belum tentu.

Bahkan mungkin buat saya pribadi, jawabannya: kemungkinan besar tidak.

Saya pernah menulis tentang hal ini di sini.

Tapi kali ini saya kayak mendapatkan pemikiran baru, mungkin ada hubungannya dengan tulisan saya kemarin tentang mengisi dan menggunakan baterai. Boleh dibaca dulu supaya nyambung dengan tulisan ini.

Saya baru sadar ketika kemarin ngobrol dengan diri sendiri di tepian sungai Takayama, melihat cantiknya kota ini – serta para pengunjung sebuah morning market yang hilir mudik.

Hidup itu bahagia, terasa penuh, terasa damai, terasa puas, bukan ketika kita hidup nyaman dan punya segalanya; tapi ketika kehidupan itu penuh dengan kegiatan mengisi dan menggunakan.

A life of happiness, fulfillment, peace, and contentment, is a life full of charging and spending.

Banyak orang punya mimpi supaya sampai di sebuah tempat ketika seumur hidupnya bisa cuma hidup enak terus-terusan (ga usah kerja, ga usah punya kewajiban, ga usah punya tekanan).

Namun menurut saya, bukan keadaan penuhnya yang membawa bahagia, tapi kegiatan mengisi dan menghabiskannya yang membawa bahagia.

Anggaplah dengan sebuah sulap, saya dan istri dan anjing-anjing saya tiba-tiba – BOOM – pindah ke Takayama, kota yang cantik banget ini di propinsi Hida, Jepang.

Kami secara ajaib ada di sebuah rumah yang keren banget menghadap ke arah lembah. Pindah bersama saya sebuah rekening berisi 10 juta dollar, siap dipakai.

Mungkin setelah menghabiskan satu jam berdecak-decak kagum, menjerit kegirangan dan foto-foto sampai mimisan, sambil terhenyak di sofa besar di ruang tamu saya, saya akan sampai ke pertanyaan berikut:

“Terus?”
Saya jawab sendiri, “Ya ajak anjing jalan-jalan lah!”
“Ok.”

Saya dan Francy ajak anjing2 saya jalan-jalan, menyusuri sungai dan mengganggu ikan-ikan koi di tepiannya. Seneng banget kita.

Pulang, kembali duduk di sofa tadi, muncul lagi pertanyaan yg sama.

“Terus?”
Saya jawab sendiri, “Ya pergi makan yang enak lah. Kamu ga sadar di sini daging sapi Hida terkenal banget enaknya.”
“Ok.”

Saya dan Francy makan Hida beef sebanyak-banyaknya, ga pusing bayarnya gimana karena 10 juta dollar tadi.

Pulang, duduk lagi kami di sofa tadi, kekenyangan. Muncul lagi.

“Terus?”
Saya jawab lagi, “Tidur lah! Kamu ga liat itu kamar tidur kamu menghadap ke pemandangan pegunungan salju?”
“Ok.”

Saya tidur tanpa pusing harus bangun jam berapa, karena saya sudah ga harus bekerja lagi. Tidur-tidur-tidur-goleran-goleran-goleran.

“Terus?”

🙂

Kita sering mimpi mau punya hidup yang serba ‘penuh terus-terusan’ ini – tanpa pernah coba bener-bener membayangkan hari-hari sesungguhnya yang akan kita jalani itu seperti apa.

Apa bisa, hidup bahagia dengan cuma hidup enak? Saya kok ragu ya.

Lho Om, jadi om ga seneng kalau punya rumah bagus, atau kalau lagi makan Hida beef, atau kalau lagi tidur bangun siang-siang, atau kalau punya 10 juta dolar?

Seneng lah. Om juga masih manusia kali.

Tapi kalau hidup Om ‘cuma’ itu isinya, kayaknya Om ga bahagia deh.

Porsi pertama: WOWOWOWOW! Porsi ketiga: meh… Jangan terkecoh dengan mimpi bahwa semua hal yang enak akan enak selamanya 😀

Bahagia saya yang lain?

Ketika di ruangan meeting dengan spidol buat corat-coret ide di tangan.

Ketika merasakan darah berdesir membangun dan mempersiapkan sebuah ide bagus.

Ketika sampai di set shooting jam 5 pagi, lampu mulai disetting, kamera mulai ditaruh di posisi.

Ketika meeting sampe malem, ngoprek ide atau menyiapkan produksi buat besok.

Ketika belajar membangun bisnis, ngerasain sakit jatuhnya dan nikmat bangunnya.

Ketika lagi mentoring anak-anak muda.

Ketika melihat mereka bertumbuh dan menjadi orang-orang yang makin becus dan makin dewasa.

Ketika melihat rumah yang saya bangun untuk mereka berkarya terus jadi lebih baik.

Ketika ikut gerakan-gerakan yang bisa membawa perubahan baik.

Ketika apa yang saya punya bisa membantu orang.

Jika tujuan hidup kita adalah kepenuhan segala-galanya: dari waktu, uang, kenyamanan tempat tinggal, kelancaran di semua bidang kehidupan kita, menurut saya, hidup akan berubah jadi tidak membahagiakan dengan begitu cepatnya.

Tapi juga, jika hidup isinya cuma hal-hal yang menghabiskan baterai: kerja terus, tekanan terus, masalah terus, tantangan terus, ya sudah pasti: depresi, dan tidak membahagiakan juga.

Kuncinya menurut saya:

A life of happiness, fulfillment, peace, and contentment, is a life full of charging and spending.

Ketika baterai kamu habis, isi dengan hal-hal yang menyenangkan, salah satunya mungkin saja: mengajak jalan anjing-anjingmu di tepian sungai Takayama yang cantik dan bersih, setelah bangun siang dan kenyang makan Hida beef.

Tapi ketika baterai kamu sudah penuh, pastikan juga bahwa kamu bekerja di sebuah ladang yang menantang, bahwa kamu punya pohon-pohon yang sedang kamu perjuangkan pertumbuhannya, dan akan berbuah gemuk dan manis yang akan dinikmati banyak orang nantinya.

Jangan hanya bermimpi dan berdoa, untuk hidup yang batrenya penuh terus. Enak dan nikmat terus.

Tapi yang paling penting, bermimpi dan berdoalah, untuk hidup yang penuh dengan kesempatan untuk ‘menghabiskan’ diri kamu.

Mungkin sekali kesempatan-kesempatan itu adanya bukan hanya di kota-kota seperti Takayama, atau Melbourne, atau Helsinki.

Mungkin sekali kesempatan-kesempatan itu, adanya di tempat kamu berada sekarang 😉

 


*Edward Suhadi adalah creative director Ceritera, sebuah storytelling agency di Jakarta. 

 

Menikmati tulisan ini? Dengan berlangganan, kamu akan dapat notifikasi jika ada tulisan-tulisan baru.

9 thoughts on “Terisi Penuh Ketika Menggunakan Habis

  1. Iya bener banget, dan saya juga sudah mengalami. Bahwa yang membuat bahagia itu saat-saat berjuang dengan senang susahnya. Ketika perjuangan usai, kadar kebahagiaan sesungguhnya singkat singkat. Jadi sesekali menghayal jadi -orang kaya gak perlu kerja santai dan hedon saja-boleh banget tp aku rasa bahkan orang kaya sekalipun tidak makan tidur saja kerjanya 😄😄😄

  2. Saya jarang dan bs di hitung pake jari sbrp sering baca blog di bandingkan nonton vlog2 org, tp ternyata blog ini penuh dengan kehidupan banget, menulis makna kehidupan dengan penuh arti yg mendalam, bahwa hidup ga hanya bernafas dan mengkoleksi sesuatu tapi juga menikmati dan membantu orang lain.
    Always awesome!

  3. Kuncinya “cukup” : makan cukup, tidur cukup, shopping cukup, jalan2 cukup, doa cukup, sedekah cukup, sharing ilmu cukup …….. cukup ……. cukup …… n cukup 👍🏼

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *