“Aku siap mati kok.”

Kamu ucapkan kata-kata ini lebih dari sekali, terutama ketika perbincangan kita menjurus ke topik tentang kehidupan dan bahagia.

Beberapa tahun sekali kita kan suka genit-genitan saling bertanya, “Kamu bahagia ga hidup menikah dengan aku?”

Ketika aku menjawab dengan dua kata, “Bahagia dong”, kamu selalu menjawab dengan empat kata di atas.

Aku yakin banyak orang akan kaget mendengar kamu berkata demikian. Amit-amit-amit.

Namun melihat raut mukamu, dan mendengar cara tuturmu, yang aku lihat bukan keinginan untuk melakukan hal-hal ngeri, atau muncul rasa seperti wartawan di berita televisi picisan yang selalu bertanya tentang firasat-firasat sebelum musibah.

Aku justru melihat kebahagiaan.

Dari semua kata-kata sayang dan manja yang pernah kita saling tukarkan, kata-kata di atas yang justru paling aku ingat dan membuatku merasa bahwa mungkin jalan kita sudah benar arahnya.

Bahwa walaupun kini banyak yang sudah tidak percaya, tapi mungkin saja dalam sebuah pernikahan, ada dua manusia yang bisa hidup menemukan bahagia.

Bahkan hingga salah satunya sudah siap mati karena dia sudah tidak kehilangan apa-apa lagi dalam hidupnya.

Aku sadar betul bahwa yang namanya pernikahan pasti sulit. Apalagi di jaman ini. Kamu tahu banyak sahabat-sahabat terdekat kita pun yang masih terus berjuang, dan tidak sedikit bahkan yang kandas.

Setiap kudengar pernikahan yang dalam keadaan sulit ataupun karam, yang kupikirkan bukannya betapa hebatnya kita bisa bertahan selama ini. Justu yang kurasakan adalah kengerian bahwa pernikahan kita pun bisa saja jadi yang berikutnya jika kita tidak berhati-hati dan terus mengusahakannya.

Banyak yang tidak menyangka kehidupan nyata kita berdua tidaklah seindah yang ada di media sosial, tempat orang mengira bahwa kita semata-mata hanya makan dan tertawa dan melancong dan saling mencinta.

Padahal kita kan juga sering gelisah, sering takut, sering menangis, sering kecewa. Sering berkelahi, sering berbeda pendapat, sering mengumpat. Sentak-menyentak. Kepala batumu kan sekeras kepala batuku.

Tapi apakah kita bahagia? Aku rasa saat ini jawabnya iya.

Aku kira yang kita punya terutama adalah keterbukaan. Bisa mengutarakan kekecewaan dan penghargaan, kesedihan dan sukacita, ketidak-sukaan dan kesukaan, mimpi dan ketakutan. Sulit buat kita untuk kaget dan patah hati, ketika kita saling terbuka bicara untuk hampir semuanya.

Seperti semua pasangan yang sudah menikah lebih dari 10 tahun, Cinta kita juga mengalami panas-dingin. Mengalami naik-turun rasa senang melihat muka satu sama lain.

Seperti nasihat tua-tua yang berhasil lebih dulu dari kita, aku rasa kita bisa sejauh ini juga karena kita ingat terus bahwa pernikahan adalah tentang menepati janji, jauh melebihi tentang bulu kuduk berdiri.

Saling mendukung, saling mengisi, saling mengerti, saling mencukupkan diri, saling bersyukur setiap hari.

Hal-hal ini yang membuat kita bisa bahagia di pernikahan kita.

Bukannya bahagia dalam artian semuanya sempurna. Tapi bahagia dalam artian kita tidak pernah merasa kekurangan apa-apa.

Bahkan untuk urusan perjuangan kita mendapatkan anak, aku berdoa jika memang usaha kita berhasil, dia akan menambah kebahagiaan kita, namun ketiadaannya, semoga, semoga, semoga, tidak menguranginya.

. . .

“Aku siap mati kok.”

Sering aku dengar kamu ucapkan.

Lalu lanjutmu,

“Asal aku pergi duluan, karena aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa kamu.”

Sumringah ga tuh kalau jadi suaminya 🙂

Selamat ulang tahun pernikahan ke-11 Francy.

Khusus tahun ini, semoga tahun dia yang kita nantikan tiba.

*Foto di judul tulisan ini diambil 10 tahun lalu, di sebuah kamar hotel sempit di Venice


*Edward Suhadi adalah creative director Ceritera, sebuah storytelling agency di Jakarta. 

5 responses to ““Aku siap mati kok.””

  1. Kartika Sari says:

    Love love love ??? semoga kelak aku juga bisa mengatakan 4 kata ini, amin.

  2. masolo says:

    wah keren banget ceritanya, picisan yang penuh makna ini koh. Siap mati berarti juga siap hidup. Siap hidup juga berarti siap menerima segala sesuatu yang ada di dalamnya.

    Semangat selalu koh untuk menantikan si dia dalam harap dan doa yang tak putus-putus. God bless.

    Salam inspirasi dari sesuapnasi

  3. Desi says:

    Luar biasa ya Koh sudah 11 tahun. Pernikahan gue yang baru 8 bulan aja sudah warna warni rasanya ? semoga kedatangan dia akan segera jd anugerah bagi rumah tangga kalian. Selebihnya, semoga kekuatan dan kebahagiaan tetap selalu ada.

  4. aku suka tulisanmu, koh. semoga selalu rukun dan bahagia ya koh.

  5. Puti Nagari says:

    “Aku siap mati kok.”

    Sering aku dengar kamu ucapkan.

    Lalu lanjutmu,

    “Asal aku pergi duluan, karena aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa kamu.”

    Suka banget bagian ini 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *