Bangun subuh lagi.
Mandi subuh lagi.
Ngantuk di mobil lagi.
Antri cek security lagi.
Lewatin gerbang imigrasi otomatis lagi – kalau ini yay!
Turun eskalator lagi.
Jalan jauh ke gate 3 lagi.
Nunggu boarding lagi.
Antri pelan-pelan masuk pesawat lagi.
Diselak orang lagi.
Kuping budeg lagi.
Keluar desak-desakan lagi.
Antri imigrasi lagi.
Ganti SIM card lagi.
Panggil Grab lagi.
Duduk di mobil lagi.
Antri di rumah sakit lagi.
Duduk nunggu dipanggil lagi.
*ambil napas*

You get the point.

Pertanyaan orang selalu sama ketika tahu ini percobaan bayi tabung ketiga kami di Penang.

“Apa nggak capek? Semua flight itu? Semua nunggu di dokter itu? Semua nginep di hotel itu? Semua unpacking sikat gigi dan sabun mandi itu?”

Kalau kita mau runut-runut dan ingat-ingat semua yang saya tulis di atas, ya pasti rasa capek (dan mungkin kesal) langsung menggantung seperti awan kelam yang mengikuti kita ke mana-mana seperti film kartun jaman dulu.

Tapi jujur buat saya, saya nggak ngerasa capek sama sekali.

Karena buat semua perjalanan panjang yang saya lakukan, yang saya pikirkan, hanya apa yang ada di depan mata. Saya buat pikiran saya rabun jauh, dan hanya bisa melihat hal-hal yang dekat dan secukupnya saja.

Ketika bangun subuh, yang saya pikirkan adalah bagaimana saya bisa happy hingga saya siap berangkat ke airport.

Ketika saya di mobil menuju airport, yang saya pikirkan adalah saya bisa menikmati bisa tidur 15 menit lagi di mobil.

Ketika sampai di airport, yang saya pikirkan adalah perjalanan santai saya menuju gate 3 Terminal 3 yang ampun jauh amat tapi yah sekalian olahraga jalan santai.

Ketika di pesawat, yang saya pikirkan adalah melanjutkan buku baru saya, atau menonton downloadan Netflix semalam, atau mikir tenang-tenang memecahkan 1 dari 1000 masalah di kantor.

Ketika di ruang tunggu dokter, yang saya nantikan adalah sesi temu itu saja, 10-15 menit duduk berhadapan sama dokter. Nothing more.

Ketika dokter bilang, “Come back in two weeks,” saya jawab, “oke.” Dan sambil keluar ruang dokter, yang saya pikirkan cuma pilihan makan siang apa ya sebelum nanti sore ke airport untuk pulang.

Again, you guys get the point.

Tidak pernah ketika di mobil di Jakarta menuju airport, saya sudah marah-marah dan berat pundaknya membayang-bayangkan begitu banyak waktu, usaha, dan energi yang akan habis dalam 2 minggu ke depan, hanya untuk memulai siklus dan perjalanan yang sama lagi.

Saya selalu berusaha menjalani hidup, sepotong demi sepotong. Selangkah, demi selangkah.

Tentu tetap harus punya mimpi, punya rencana, punya persiapan.

Karena hanya dengan mimpi dan rencanalah kita bisa punya tenaga untuk sampai di sebuah tempat di masa depan.

Tapi dalam menjalaninya, supaya punya stamina untuk bisa terus tekun, konsisten dan persisten, kita harus belajar hidup selangkah demi selangkah.

Seorang pelari maraton pernah berkata kepada saya, “Supaya bisa selesai lari maraton itu jangan melihat dan perpikir tentang jauhnya rute (42 km), tapi bagaimana kaki saya ini bisa diayun untuk menyelesaikan langkah yang berikut ini. Satu langkah lagi aja. Lalu langkah berikut. Lalu berikut.”

Pesan saya untukmu teman-temanku, apapun perjalanan berat dan panjang dalam hidupmu, ambil selangkah, demi selangkah.

Pagi ini akan kita ketahui persis apakah dua embrio kami berhasil menempel atau tidak. Kalaupun menempel, apakah akan berlanjut menjadi kantung? Menjadi detak jantung? Menjadi kaki, tangan? Menjadi otak yang berkembang sempurna? Menjadi bayi yang lahir sehat? Menjadi anak yang bahagia?

Selangkah, demi selangkah, demi selangkah.

Menikmati tulisan ini? Dengan berlangganan, kamu akan dapat notifikasi jika ada tulisan-tulisan baru.

4 thoughts on “Memangnya, Nggak Cape?

  1. As always, tulisan yang menginspirasi. Terima kasih Bapak Edward Suhadi.
    Memang penting untuk kita menaruh fokus kita di mana. Fokus tersebut yang akan membantu menentukan ke arah mana kita akan berada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *