folder Filed in Work
Bertugas Untuk Optimis
Edward Suhadi comment One Comment

 

Seperti seorang petani bertugas menanam padi, atau seorang pilot bertugas menerbangkan pesawat, seorang pemimpin bertugas untuk menjadi optimis.

Saya suka sekali kutipan yang pernah saya baca ini, “Being optimistic is not naive. It’s leadership.”

Suka sekali.

Karena mungkin, entah kenapa, kesempatan-kesempatan dalam hidup selalu membawa saya jadi pemimpin. Ada yang bilang karena hidungnya bangor, atau karena kupingnya caplang. “Hoki,” kata orang tua-tua sambil mengamati hidung saya kembang kempis. Makanya saya gak pernah kepikiran operasi plastik 😜

Dari dulu saya sudah jadi ketua kelas, ketua komite, ketua organisasi, ketua kelompok, sampai sekarang jadi pemimpin perusahaan. Hampir seluruh masa remaja dan dewasa saya, saya merasakan jadi pemimpin.

Itulah sebabnya kutipan tadi terasa bergetar kalau diucapkan.

Banyak yang nanya, “Ward, elu kok positif melulu? Polos banget sih elu? Dunia gak seindah itu lagi.“

Betul banget dunia nggak seindah itu. Tapi untuk seorang pemimpin, berpikir positif dan punya harapan bahwa esok akan lebih baik itu bukan sebuah pilihan, tapi sebuah tugas. Keharusan.

Bukankah itu naif? Semu dan palsu?

Memang optimisme itu akan jadi semu dan palsu ketika dia hanya sekedar jadi keceriaan bertanda seru di mulut ataupun gerak-gerik lincah kaki ketika memasuki ruangan.

Tapi ketika seorang pemimpin berpikir, “Okay, saya dan tim saya bisa melalui ini. Keadaan besok akan lebih baik. Akan ada berita baik yang datang. Dan jikalau tidakpun, saya dan tim pasti bisa mengubah besok menjadi kesempatan, ataupun menjadi sebuah pelajaran.”

Optimisme yang jenis ini.

Bukan optimisme yang cuma percaya bahwa setiap hari kita tinggal menunggu dan durian akan runtuh, tapi optimisme yang berkata bahwa jika kita mau, kita pasti bisa maju, bisa belajar, bisa jadi lebih baik, apapun kondisinya.

Sukur-sukur sambil makan durian matang pohon. Walau lebih sering nggak.

Semua pemimpin hebat, jika mereka diminta bercerita tentang hari-hari yang ‘menetaskan’ mereka jadi pemimpin baru yang lebih baik, pasti bercerita tentang hari-hari yang sulit. Saya dah kenyang duduk mendengarkan mereka-mereka ini. Ceritanya sama.

Karena di tengah kesulitan, seorang pemimpin sejati tetap optimis. Memimpin timnya maju. Menyemangati yang lesu. Membakar harapan bahwa esok akan lebih baik.

Karena itu memang tugas dia.

Being optimistic is not naive. It’s leadership.


*Edward Suhadi adalah creative director Ceritera, sebuah storytelling agency di Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment

  1. Semua pemimpin hebat, jika mereka diminta bercerita tentang hari-hari yang ‘menetaskan’ mereka jadi pemimpin baru yang lebih baik, pasti bercerita tentang hari-hari yang sulit.