folder Filed in Uncategorized
Ting Ting Ting
Edward Suhadi comment 0 Comments

“Pak, nyusul ke jalan anu ya. Ini depan tinggal belok kanan,” ujarku ketika melewati seorang tukang sekoteng dalam perjalanan pulang. Istriku suka sekoteng dari dulu, dan walau sepertinya sering lewat, bapak sekoteng ini sering tidak terpanggil.

Seraya turun membawa 2 mangkuk, saya melihat dia tiba, menurunkan perlahan pikulannya.

“Pak, bikin dua porsi-dua porsi ya.”

Si bapak perlahan mengisi mangkuk dengan berbagai bahan, lalu menuangkan air jahe panas. Saya melempar beberapa pertanyaan untuk memecah kesunyian gang kecil rumah saya.

Setelah membayar, saya jongkok di sebelahnya, “Bapak ada nomor telpon?”

“Ada. Banyak juga dik, yang minta nomor telpon saya.”

“Iya pak. Jaman sekarang beda dengan jaman dulu, orang bisa nunggu tukang makanan lewat. Sekarang semuanya pasti maunya cepet. Ditelpon lalu datang.”

Dia terkekeh lalu menyebutkan nomornya.

Saya juga jadi ingat nomor2 telpon Koh Ae penjual siomay ikan, Pak Arifin penjual sate ayam madura, dan Mas Bambang penjual baso sapi yang ada di hape saya. Sekarang bertambah satu Pak Udin penjual sekoteng.

Di jaman makanan tinggal pencet dateng, saya mengingatkan diri untuk sekali-kali memanggil mereka yang lewat. Iya jaman berubah dan iya mereka harusnya mengikuti perubahan jaman. Tapi sesekali berbagi rejeki juga boleh toh?

Ingatkah kalian rasanya keluar pager bawa uang dan piring kosong? Duh ngangenin.

Ngobrol sama pak penjual sambil nunggu dia ngipasin sate pesanan kamu kayaknya sudah jadi kejadian yang jarang kita lihat. Padahal dulu, waktu kita kecil, melihat para penjaja makanan keliling bekerja, adalah sebuah kesukaan.

Mata kita jelalatan melihat lincahnya mereka di dapur kecil dengan roda. Piring di sana, pisau di sini, telur di sana, bumbu di sini.

“Nanti kalau mau lagi telpon aja ya, saya ga masuk gang ini, biasanya di jalan besar sono aja.”

Perlahan dia angkat pikulannya dan berjalan pelan meninggalkan daerah terang yang terkena lampu jalan. Tempat mangkuk dan panci air jahenya terayun naik turun.

Tak berapa lama terdengar bunyi sendok diketukkan ke mangkok beling: ting… ting… ting…

Kalau kamu: tukang makanan lewat apa yang dulu sering kamu pesan? Cerita yuk.

 

Diterbitkan 3 Februari 2019 di Instagram @edwardsuhadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment