Tidak Ada Orang Yang Peduli Selamanya

Jikalau kamu punya mobil keluaran paling tidak lima tahun ke belakang ini, kemungkinan besar dia akan membunyikan alarmnya kalau kamu tidak mengenakan sabuk pengaman kamu.

Tut-tut-tut-tut.

Dulu saya sering bawa mobil ke kantor melalui perjalanan yang cuma 800 meter panjangnya.

Walau jarak perjalanan yang pendek banget, dia tidak pernah gagal berbunyi dengan menjengkelkannya.

Padahal paling cuma 3 menit. Tapi tetep aja.

Tut-tut-tut-tut.

Dia cuma tutup mulut kalau akhirnya saya pasang sabuk pengaman saya.

Yang menyebabkan saya ngomong pagi-pagi sama dashboard, “Puas?”

Melalui dua mata speedometernya dia seperti menjawab balik, “Puas.”

Sering kalau pagi-pagi saya lagi bete, saya biarin dia bunyi terus sampai saya sampai di kantor.

Tut-tut-tut-tut setiap mungkin 100 meter.

Biarin aja.

Kayak kuat-kuatan sama orang yang merengek-rengek.

Sampai saya tiba di kantor dengan si alarm tetap berbunyi.

Tut-tut-tut-tut sampe serak dia.

Puas rasanya.

Biar mampoes loe.

Suatu akhir pekan, saya dan Pancy pergi makan bakmi.

Sejak lagi makan kami membahas sebuah topik yang cukup hangat. Seru.

Obrolan ini dilanjut terus di dalam mobil dalam perjalanan pulang. Debat, sanggah, argumen. Wah asik deh.

Ketika sedang asik larut dalam obrolan, saya tiba-tiba sadar.

Saya lihat ke bawah, saya lagi ga pake sabuk pengaman.

Tapi kok nggak ada suara tut-tut-tut-tut?

Ternyata saya baru tahu, bahwa alarm itu hanya berbunyi untuk jarak tertentu.

Saya tidak pernah cari tahu berapa angkanya, tapi sepertinya setelah mengingatkan penumpangnya untuk jarak sekian, si alarm akhirnya diam.

Karena saya selalu sampai kantor sebelum si alarm ini berhenti berbunyi, saya pikir si alarm ini akan berbunyi selama-lamanya.

Bukan hanya untuk jarak tertentu, seperti yang saya temukan di akhir pekan itu.

Saya kayak jadi mikir gini sih.

Banyak dari kita suka diingatkan.

Apalagi jika punya kakak yang sayang sama kita. Bos yang sabar. Kolega yang pengertian. Temen yang nggak capek-capeknya kasih perhatian.

“Ayo dong, kuliah kamu kapan kelarinnya?”

“Ayo dik, udah siang, masa ke kantor telat melulu?”

“Minggu lalu saya bilang apa kalau presentasi? Coba deh perbaiki lagi ya.”

“Kamu masih mau bekerja dengan cara begini? Ayo kini saatnya berubah.”

“Cukup lah elu main gitu-gituanan, gw dah ngomong dari dulu, saatnya nabung bro.”

Kita sering merasa hidup kita akan baik-baik aja karena orang-orang ini akan selalu ada untuk kita.

“Gue akan selalu diingetin, selalu dikasih kesempatan kedua, selalu dikasih kelonggaran, selalu dikasih kesempatan, selalu diulurin tangan, gue akan selalu ditolong.”

Tapi tau gak, kalau saya boleh berbagi dari sisi orang yang hidup sehari-harinya menjadi ‘kakak’ buat banyak banget anak muda.

Kadang saya mikir sama seperti si disainer sistem alarm mobil saya tadi:

“Elu gua udah ingetin terus-terusan. Di setiap kesempatan. Sampe gua cape, sampe elu bosen. Tapi cukup dah.

Kalau sudah diingetin sampai begini tapi elu masih mau kalau nabrak tiang listrik terus mampus, ya gua ga bisa apa-apa.

Gua ga akan bisa ingetin elu selamanya. Aki gua akan soak, elu akan benci gua, dan gua ga bisa ngapa-ngapain yang lain. Urusan gua juga masih banyak.”

Tentu akan ada orang-orang yang akan selalu peduli dan ada untuk kita. Kasih Ibu lebih panjang dari antrian restoran IKEA di hari Minggu katanya. Itu betul banget.

Tapi untuk kebanyakan kita, yang dalam keseharian kita, dalam kemalasan-kemalasan di karir dan hidup profesional dan dalam kebiasaan-kebiasaan buruk hidup kita, tidak ada orang yang peduli sama kita untuk selamanya.

Pengalaman pribadi saya, saya juga cape.

Saya sering investasikan hari, minggu, bulan, tahun, untuk anak-anak muda yang bersinggungan jalan hidupnya dengan saya.

Kita tidak usah bicara lah tentang mereka yang diingatkan lalu bertanggung-jawab dan bersikap seperti orang dewasa dan memperbaiki hidupnya.

Tapi mari bicara tentang mereka yang sudah diingatkan dan ditegur dan diulurkan tangan dan dikasih kesempatan, baik ketika pagi siang malam, dan dari arah utara selatan timur dan barat, masih juga tidak berubah.

Merasa bahwa Kak Edward akan selalu baik dan akan selalu kasih kesempatan.

Semacam kanak-kanak. Kolokan. Manja.

Guess what. Saya bisa merasa muak juga.

Saya bisa ingat prioritas-prioritas lain dalam hidup saya, istri dan keluarga saya, dan saya bisa investasikan waktu dan hati saya lebih baik untuk mereka-mereka yang memang mau benar-benar berubah.

Saya yakin kakak-kakak dan mentor-mentor lain juga berpikiran hal yang sama. Jangan menganggap remeh setiap kesempatan atau teguran yang mereka berikan buat kamu.

Seberapa besar hati mereka, menentukan seberapa jauh mereka mau berjalan sambil terus membunyikan alarm mereka untuk kamu.

Tapi pada akhirnya, jika kamu masih terus tetap kekanak-kanakan, mereka juga pasti bisa merasa muak dan cukup.

Banyak orang yang carut-marut dan mentok hidupnya menyia-nyiakan masa-masa ketika mereka diingatkan alarm-alarm dalam hidup mereka.

“Ah, berubah nanti aja. Alarmnya akan selalu bunyi kan. Akan selalu ada yang mengingatkan dan akan selalu ada yang menolong dan akan selalu ada kesempatan lain kan? Nanti ajah.”

Sampai tiba-tiba tidak ada tut-tut-tut-tut lagi dan kita sudah tua dan sudah punya tanggungan dan kehidupan sudah lebih rumit dan sudah jauh lebih sulit untuk berubah.

Ingat.

Hidup kamu selalu akan bergantung pada kedua belah tangan kamu.

Jangan tunggu motivasi dan pertolongan orang, tapi motivasilah dan tolonglah diri kamu sendiri.

Kenapa?

Karena tidak ada orang yang akan peduli sama kamu untuk selamanya.

Jika saat ini kamu punya orang-orang seperti ini dalam hidup kamu, gunakan teguran, pertolongan, nasihat, peringatan mereka dengan baik. Pakai kesempatan ini untuk berubah. Sungguh gunakan kesempatan ini sebaik-baiknya. Kita tidak akan ada di sini untuk selama-lamanya.

Karena jika tidak, kalau elu mau nabrak tiang listrik terus mampus, ya, kita ga bisa apa-apa.

 


*Edward Suhadi adalah creative director Ceritera, sebuah communication agency + production house di Jakarta. 

Hidup Yang Enak dan Hidup Yang Ga Enak

Rule and exception.

Pernah denger istilah di atas ga? Salah satu frasa yang sering dipakai di bahasa Inggris.

Mungkin terjemahan bahasa Indonesianya: ‘Aturan’ (rule), dan ‘kadang-kadang’ (exception).

Atau ‘harusnya begini’ (rule), dan ‘sesekali’ (exception).

Istilah ini sering digunakan untuk membedakan antara mana hal-hal yang seharusnya, dan mana hal-hal yang terjadi kadang-kadang/anomali. Berguna untuk membuat kebijakan biasanya.

Contoh.

Perusahaan Apel punya pengalaman buruk dengan vendor PT Maju Mundur. Kerjaannya tidak seperti yang seharusnya dan banyak ingkar deadline. Marah-marah jadinya orang-orang Apel yang berurusan dengan mereka.

“Sudah lain kali setiap vendor kalau masuk, harus buat presentasi detil tiga kali dulu! Juga harus sertakan 10 pekerjaan mereka terakhir. Dan semua harus ada perjanjian dengan notaris di depan hukum!”

Emosi.

Padahal ketika dipikir-pikir tenang, vendor perusahan Apel itu puluhan. Dan hampir semuanya itu bagus, kerjanya sesuai janji dan deadline.

Rule-nya adalah vendor-vendor perusahaan Apel itu bagus-bagus. PT Maju Mundur ini cuma exception aja.

Bayangkan kalau terbalik membedakan mana yang rules dan exception, policy yang ribet dan makan waktu tadi akan diterapkan dan akan merugikan perusahaan banget.

Kok dia masuk kerja bajunya lusuh ga sopan begitu sih? Tsk anaknya ga serius kayaknya. (Padahal lusuh itu exception, pagi ini ada urusan keluarga darurat sehingga dia harus pergi buru-buru. Rulesnya anak ini sebetulnya selalu rapih banget kalau kerja.)

Jakarta malam sabtu itu rulesnya macet. Kl lagi dapet lancar itu exception lah (mungkin siangnya ada broadcast WA bakal ada demo rusuh).

Nah.

Saya sering bagikan ini, terutama kepada anak-anak muda:

Kalau mau maju dalam hidup, jadikan hidup yang ga nyaman, menantang, selalu ada tekanan itu rule hidup kamu, bukan exceptionnya.

Hidup ya harus sulit dan penuh tekanan. Kalau lagi ngerasain hidup enak itu ya sesekali aja. Bonus.

Banyak kita yang hidupnya ga maju-maju, terbalik.

Maunya hidup ya harus selalu enak dan gampang. “Sesekali susah oke lah… asal jangan terus-terusan.”

Terbalik. Ketuker.

Karena tempat kerjanya santai, bisa masuk siang setiap hari lah. Bukannya membiasakan diri masuk pagi, melatih disiplin diri, menaklukkan kemalasan, dan mencoba bekerja lebih efisien dan efektif.

Kebalik.

Nyari klien yang sama-sama low expectation aja. Biar kerjanya nyaman, enteng, ga ada hambatan. Bukannya nyari klien yang killer, yang mendorong kita maju, yang bikin kita jungkir balik mengembangkan diri.

Kebalik.

Nyari bos dan tampat kerja juga, yang enak-enak aja, yang asik-asik aja. Bukannya nyari bos yang galak dan tegas dan sering buat kita deg-degan dengan assignment-assignmentnya.

Kebalik.

Setiap ada waktu luang, ya main sosmed, nonton Game Of Thrones, dan hangout azek-azek sama temen-temen. Bukannya menyisihkan waktu baca buku, melatih diri berpikir, kumpul dan belajar sama mereka-mereka yang lebih pinter dari kita.

Kebalik.

Setiap punya duid dikit, ya selalu dihabiskan buat barang-barang yang umurnya pendek dan puasnya sejenak. Bukannya disimpan dan ditanam di berbagai tempat investasi, atau digunakan untuk hal-hal yang bisa menambah nilai diri kamu.

Kebalik.

Setiap ada persimpangan jalan hidup dan pilihan-pilihan sulit, secara default kita mengambil yang gampang, enak dan nyaman. Bukannya mengambil yang susah, menantang dan membuat kita terjaga di waktu malam.

Kebalik.

Rules jadi exceptions, exceptions dijadiin rules.

Saya melatih diri sejak muda belia dulu (tsah), untuk selalu mengambil pilihan yang tidak nyaman.

Pilihan tidak nyaman, sulit dan menantang, adalah rule saya.

Bahkan bisa dibilang, saya jadikan ini kompas saya.

Kemana pilihan tidak nyaman ini mengarah, ke sanalah kaki saya akan melangkah. Kemana pilihan-pilihan nyaman menunjukkan batang hidungnya, saya mencoba berjalan menjauhi mereka.

Hidup yang nyaman, tidur sampe siang, bikin proyek asal jadi, nonton berseri-seri Game of Thrones, hangout ketawa-ketiwi sama temen-temen, dan milih-milih warna lalu beli iPhone X, semua itu kaga perlu latihan.

Kita semua lahir udah jago melakukan hal-hal di atas.

Tapi untuk menjalani hari-hari yang ga nyaman, untuk menjalani hidup yang sulit dan menanjak, kita perlu latihan. Banyak banget latihan.

Jadi seringlah berlatih.

Latih menjadikan hidup yang ga nyaman sebagai rule hidup kamu. Bukan exceptionnya.

Apalagi kamu anak muda yang lahir berkecukupan. Jumlah kaki dan tangan cukup, masih bisa makan cukup, masih belum nanggung siapa-siapa dalam hidup kamu. Kamu punya semua kemewahan untuk berlatih sejak dini. Please, I’ve seen people that chose comfort all their lives, and it’s not a pretty sight.

Kalau rules dan exception kamu tepat, kamu juga jadi jarang mengeluh.

Saya bilang ke team Ceritera jikalau mulai ada yang menggerutu soal klien yang sulit, apalagi setelah mereka membandingkannya dengan klien yang ‘enak’,

Kalau ada klien yang enak dan lancar, itu bonus. Klien memang seharusnya demanding (sambil tetap percaya penuh tentunya). Jangan mengharapkan Ceritera maju dan kemampuan kamu naik hanya dengan klien-klien yang enak.”

Klien yang sulit, hubungan yang perlu diperjuangkan, kebiasaan belajar untuk mengembangkan diri dan kehidupan yang mau terus membaik, jalan menuju semua itu secara default akan ga nyaman. So you need not to complain.

You can enjoy the bonuses. But only once in a while.

Beberapa waktu lalu, saya dan Francy menghabiskan waktu satu malam weekend di salah satu hotel bintang lima di Jakarta.

Alasannya karena Francy sedang dalam masa subur (wink-wink) and we want to break the routine. Kayaknya menikah 10 tahun lebih saya menginap di hotel di Jakarta untuk weekend gateaway baru pernah sekali. Saya juga hampir sebulan lebih terbenam dalam pekerjaan pegi-pagi-pulang-malem dan tidak punya waktu sama sekali buat dia. Hitung punya hitung dengan pilihan pergi ke Bandung dengan travel dan makan sana sini, mirip-mirip lah, jadinya kita pilih berlibur di hotel ini.

Pilih kamarnya juga yang lumayan. Mantep deh. Viewnya oke. Dan lega banget bisa buat main bola. Atau main yang lain-lain.

Kita merasa jadi ratu dan raja semalam itu. Kalau seperti kata-kata yang sering ada di brosur-brosur, “You’ll experience the best things money can buy.”

Terbaring malam-malam di kamar yang ampunnn bagus banget viewnya dan di ranjang yang ampunnn enak banget empuknya dan ampunnn licin banget linennya, sempat ada muncul rasa bersalah di hati saya.

“Gila enak banget hidup elu wad…”

Tapi rasa bersalah karena kemewahan ini tidak berlangsung lama.

Karena saya tahu persis bahwa bermewah-mewah adalah bukan jalan hidup yang saya pilih.

Sesekali, dengan perhitungan yang benar, silahkan memilih pilihan yang enak. Enjoy the bonus, the fruit of your hard work.

Seperti saya sering bilang dari dulu, “Saya tidak pernah berangan-angan untuk bisa segera pensiun supaya saya ga usah kerja lagi dan bisa duduk enak di pinggir pantai dan minum orange juice setiap hari sampai saya mati.”

Saya memang meminta Tuhan untuk bisa terus kerja dan terus berguna sampai hari saya mati. Saya ga pernah kebayang pensiun dari berkarya.

Goler-goleran di ranjang empuk sambil liat Jakarta di waktu malam, atau minum orange juice sambil liat sunset yang bagus boleh lah. Apalagi sambil diving.

Tapi sesekali.

Ojo kewalik.

 


*Edward Suhadi adalah creative director Ceritera, sebuah communication agency + production house di Jakarta. 

Menuju Hamil – Part 3 of 3

Walau sudah setengah berjalan ke luar, saya menarik dia masuk lagi dan saya tutup kembali pintu ruangan dokter yang sudah terbuka itu.

Saya tahu dia masih mau menangis, walaupun sebelumnya dia sudah cukup lama terisak di pelukan Miss Lim, suster perawat yang jadi dekat dengan dia karena bolak-balik bertemu dan bertukar pesan.

HCG, sejenis hormon penanda kehamilan, yang diambil dari darah Francy pagi ini cuma berangka 4.6. Untuk dikatakan hamil, seseorang harus paling tidak kena ambang 9 – 130. Seorang teman seminggu lalu dapat angka 221. Ada lagi teman yang juga baru dapat hasil angkanya 951.

Dulu di IVF pertama kita, angkanya 59. Hamil. Tapi tidak berkembang. Baca ceritanya di sini.

Saya tidak melihat reaksi Dr. Dave dan suster-suster yang lain bagaimana di belakang saya ketika saya memeluk Francy. Ruangan terasa sunyi, hanya diselingi suara isak lemah tangis.

Walau patah hati bahwa IVF kali ini tidak berhasil lagi, saya bersyukur bisa bertemu orang-orang baik di Penang ini.

Dr. Dave, dan timnya Suster Lim, Suster Mei, Suster Syamim.

Entah kenapa, dan entah apakah perasaannya sama di seberang sana, tapi kami jadi merasa dekat dengan Dr. Dave. Ketika nanti bercerita, Suster Lim bilang bahwa pagi-pagi tadi dia sudah sedikit emosional ketika melihat hasil kami yang negatif dari jaringan intranet rumah sakit.

Bersama Dr. Dave ketika baru datang di trip ini. Saya bawa foto turtle yang akhirnya dipajang di ruangan dia. “Turtles are good luck,” kata dia.

Saya senang bisa berkesempatan ditangani beliau. Sesi konsultasi kami jarang diisi runutan prosedur-prosedur medis. Tentunya bukan karena dia tidak paham (sepengetahuan kami Dr. Dave dan timnya adalah salah satu yang terbaik di kawasan ini) – tapi yah, apa gunanya kami para awam ini dibuat pelik dengan ratusan variabel medis yang jika diceritakan tuntas pun, hanya akan benar-benar menyentuh permukaan dari kompleksitas sebuah prosedur medis yang sangat mutakhir?

Membaca ratusan blog dan artikel tidak membuat kita ahli ataupun bijak dalam membuat keputusan-keputusan medis. Yang ada jadi setres. Dokter setres. Kita setres.

Kami setuju dan suka dengan pendekatan dia. Setelah secukupnya menjelaskan hal-hal medis, yang banyak dia lakukan adalah berbagi tentang mengendalikan emosi dan hati. Tentang ekspektasi, kekecewaan, tentang jiwa, tubuh dan pikiran.

Dr. Dave sepertinya cukup dalam menghidupi ajaran-ajaran Hindu. Sering dia bagikan ke kami nilai-nilai universal yang saya rasa, apapun agama kita, pasti bisa kita petik hikmahnya.

Dia bagikan kutipan ini ketika saya dan Francy datang beberapa sore lalu ketika Francy sedang dalam kondisi sangat emosional menunggu hari ini. Kutipan yang sangat relevan untuk kami (dan mungkin untuk kamu yang sedang membaca ini):

“Focus your mind on action alone, but never on the fruits of your actions.”

Atau ada versi lainnya, “You have the right to your actions, but never to your action’s fruits.”

“We can control what we do. We try to do our best, but to achieve the actual results that we want, there are so many things that are really out of our control,” kata dia.

“That’s why worrying is never a good thing.

“Like, right now you worry, then you do get pregnant, then you’ll feel stupid for feeling miserable for two weeks.”

“Or you worry, then you did not get pregnant, then you’ll blame yourself thinking that it was the stress that caused it.”

“Nothing good ever come out of worrying.”

Hal-hal seperti itu lah. Banyak.

Mungkin dia tahu bahwa hal terbaik yang bisa kita lakukan sebagai pasien adalah percaya kepada mereka yang memang ahli di bidangnya, dan berusaha rileks dan tenang dalam menjalani prosedur yang sangat bergantung pada hormon-hormon dan kondisi fisik+psikologis tubuh ini.

Hm.

Bersyukur juga untuk para perawat dan terutama Miss Lim. Walaupun tugas dia memang untuk mengucapkan hal-hal positif kepada para istri-istri yang khawatir, kecewa dan sedih ini, entah kenapa saya merasa bahwa dia emotionally invested di kasus kita.

Miss Lim. Selalu gesit, selalu ceria.

Di ruangan sebelah ketika kami bertiga menenangkan diri, dia berkata dengan logat singlishnya yang kental, “Aiya, you know wat la, you have to be grateful to have this guy la,” kata dia sambil ngelirik memuji tapi rada ga rela ke arah saya.

“Most husband a, the wife cry, I sit here, the wife hug me, the husband just sit maybe also don’t know what to do, I feel like also, aiya… bingong…” Kita semua tertawa.

Saya memang berusaha sebaik mungkin jadi sosok suami yang kuat, yang bisa diajak diskusi, yang rasional, yang bisa menghibur, yang bisa dewasa dan tenang di perjalanan ini.

Saya cerita begini bukan untuk memuji diri sendiri, tapi menunjukkan bahwa hal paling utama yang saya syukuri di hari-hari ini adalah hubungan saya dan Francy yang cukup mesra dan terbuka, dan fakta bahwa kami berdua cukup dewasa dan sama-sama kuat untuk bisa saling memberi semangat, mengingatkan dan mengangkat ketika salah satu kami sedang terpuruk.

Hm lagi.

Saya mau ucapkan terima kasih juga khusus untuk Lissa (dan suaminya Ario). Kita bertemu berbulan lalu ketika dalam persiapan IVF. Ternyata prosedur kita terpaut seminggu, dan sempat bertemu beberapa kali di sini.

Lissa sangat membantu Francy. Dari seorang wanita kepada seorang wanita. Walau dukungannya dari jauh dengan Whatsapp, tapi saya tahu Francy jadi merasa punya seorang teman yang senasib.

Terima kasih ya Lissa. Senangnya dengar bahwa IVF kalian berhasil. Selametin Lissa dan Ario ya guys.

Lissa dan Francy. Lalu bersama Miss Lim memegang hasil positif kehamilan Lissa.

Hm terakhir.

Kita juga sangat bersyukur buat kalian semua: keluarga, teman dan para orang asing yang kini tidak lagi karena kalian sudah mengikuti perjalanan kami sampai hari ini.

Dari semua teman-teman di grup-grup WA, kerabat-kerabat yang memberikan komentar di social feeds kami, sampai dengan ribuan pasang mata yang membaca tulisan-tulisan ini lalu membisikkan doa kalian untuk kami.

Seperti pernah saya tulis di sini, saya dan Francy sebetulnya pasangan yang lumayan tertutup. Tapi melihat respon luar biasa dari begitu banyak pasangan, mulai dari tulisan pertama sampai yang terakhir, kami bersyukur bahwa kami bisa menuliskan perjalanan pribadi ini untuk kalian baca semua.

Kadang suka berasa, “Yaela Wad, elu posting IG dan nulis-nulis begini kayak attention whore banget sih.”

Tapi kemudian saya ingat bahwa selain tentunya untuk mendapatkan dukungan dari kalian, saya percaya tulisan saya juga jadi dukungan untuk kalian. Semoga kalian juga tahu bahwa kalian tidak pernah sendirian. Banyak yang kayak kite.

Kami benar-benar bersyukur untuk kalian semua.

Kita jadi kuat karena dikelilingi orang-orang kuat.

Terima kasih ya. Sungguhan deh.

Banyak sekali pasangan-pasangan, terutama wanita, yang sedang patah arang, kecewa, pahit dan menyerah, menghubungi kami dan berkata bahwa mereka dikuatkan dengan perjalanan kami.

Selain puluhan cerita/comments dari kerabat yang bercerita tentang kisah mereka, Francy sempat kaget di tab Instagram ‘message request’ dia ternyata ada 20-30 pesan lebih dari orang-orang yang dia tidak kenal yang mencoba menghubungi dia (message request dari orang-orang yang tidak kita follow tidak terlihat langsung di Instagram).

Ada yang terinspirasi dari hubungan suami-istri kami, ada yang memberikan begitu banyak tips (“Ci Pancy, kalau habis embrio transfer ga boleh mandi 2 minggu! Tidur terlentang aja!”), ada yang memberikan nama dokter dan nama obat, ada yang bercerita tentang keberhasilan-keberhasilan mereka, ada yang bercerita tentang kegagalan-kegagalan mereka, dan yang paling kita suka: ada yang sudah menyerah tapi jadinya mau mencoba lagi.

Ternyata, di luar sana, banyak sekali pasangan yang juga sedang berjuang. Buanyak. Banget.

Seringkali menolong diri kita sendiri, kita lakukan dengan menolong orang lain. Saya senang melihat Francy akhirnya disibukkan dengan menjawab chattingan para wanita-wanita ini sambil berbagi apa yang sudah dan sedang dia lalui.

“Kita ga sendirian Wad,” begitu kata dia. “Ternyata banyak yang perjuangannya jauh lebih sulit dan panjang. Kita harus bersyukur.”

Bersyukur selalu memang akhirnya kita berdua.

Walaupun perjuangan kali ini hasilnya bukan yang kita harapkan.

Setelah selesai menangis berdua di bangku-bangku lobby depan Loh Guan Lye, kita duduk termangu di antara ramainya hilir mudik dokter, perawat dan para pasien.

Menangis boleh. Tapi terus-terusan jangan. Sedih boleh. Tapi mengutuki diri sendiri jangan.

. . .

“Makan yuk,” kata dia.

“Ayuk,” jawab saya.

“Gw bayar dulu,” kata dia sambil beranjak berdiri menuju kasir.

Saya melayangkan pandang ke luar jendela.

Tanpa berbicara, kita berdua sudah tahu, bahwa pasti kita akan mencoba lagi. Tidak menyerah.

Sedang larut dalam lamunan, saya dikagetkan oleh pekik suaranya, “Wad!”

Saya tersentak kaget, “Apa?!”

Jawab dia riang, “Sama Dr. Dave dikasih biaya periksanya ga bayar. Gratis!” Mukanya berseri-seri.

Ya ampun. Barusan tadi abis nangis-nangis.

Cepat move on ya bocah.

Tapi.

Hidup memang harus cepat move on.

Kenali apa yang bisa diperbaiki. Persiapkan diri. Minta restu ilahi. Lalu berjuang lagi sekuat tenaga di lain hari.

Kapan, di mana dan bagaimana, itu pertanyaan-pertanyaan untuk lain waktu.

Wong air mata ini aja belum kering.

Sekarang, biar sukacita dapet gratisan yang menutup perjalanan kami kali ini.

Mata sembab. I love you.

PS: Buat kalian yang mau menghubungi Francy untuk tahu lebih banyak tentang IVF, silahkan sapa dia di FB atau IG.


*Edward Suhadi adalah creative director Ceritera, sebuah communication agency + production house di Jakarta.