Adonan Ibu

Setiap selasa di kantor Ceritera ada kebiasaan berkumpul bersama yang kami beri nama Tuesday Talk. Semua orang duduk melingkar, dari office director hingga office boy, saling bercerita dan berpendapat. Continue…

Kita Tidak Akan Pernah Sampai

Dia menyeka air matanya, sambil bersandar di lenganku.

“Sudahlah, jangan sedih.”

Pola si anjing kesayangannya menaruh dagunya di atas perutnya, seakan-akan ingin ikut menghibur walau tanpa kata-kata.

“Kita sudah coba. Kali ini gagal. Artinya ya, kita coba lagi.”

“Mungkin karena aku cowok ya. Bisa lebih memisahkan perasaan dan kejadian.”

Masih terdengar suara nafasnya yang basah oleh air mata.

“Aku melihat perjalanan kita menuju kamu hamil ini tidak berbeda dengan perjalanan orang-orang yang lagi bangun bisnis.

Mereka yang membangun bisnis, banyak yang berhasil, tapi banyak juga yang gagal.

Kenapa?

Mereka dan banyak orang lain biasanya tidak bisa menjawab pertanyaan itu.

Tapi buat kita yang sudah mengalami perjalanan membangun usaha sampai sekarang, kita bisa jawab, kan?”

“Inget gak kalau kita lagi ngomongin orang?” tanyaku sambil tersenyum.

Dia mengangguk lemah.

“Kita lihat si xxx tidak berhasil, karena ya memang kerjanya main terus. Ga heran. Ga ada daya juang.

Atau si xxx yang pedulinya sama gaya dan gengsi tapi nggak pernah mengulik model bisnisnya.

Atau si xxx yang peduli cuma sama produk dan marketing tapi tidak pernah belajar cashflow dan pembukuan.

Atau si xxx yang selalu gagal berkompetisi karena bermainnya terlalu aman.”

Aku menghela napas.

“Dari sudut pandang kita, kita bisa melihat bahwa semua kegagalan-kegagalan mereka, apapun alasannya, selalu ada solusinya. Ada obatnya.

Tidak pernah kan kita kalau lagi melihat orang-orang yang belum berhasil ini, kita berkata bahwa mereka kena kutuk, atau mereka memang ditakdirkan jadi orang gagal terus.

Coba, misalnya si xxx curhat ke kamu, bilang bahwa dia ditakdirkan hidup susah, memang ga punya hoki, kamu setuju nggak?”

Dia menggeleng.

Banyak sekali memang kebenaran yang kita berdua pelajari dari perjalanan bisnis kita yang sudah lebih dari 15 tahun ini.

“Sama juga soal kehamilan ini.”

“Jangan pernah mengutuki diri sendiri, bertanya apa yang salah dengan kamu, bertanya jangan-jangan kamu tidak layak jadi seorang orang tua.

Kamu akan sama konyolnya seperti mereka yang seharusnya memperbaiki cashflow tapi malah berpikir takdir sudah memvonis hidup mereka untuk hidup gagal terus.”

Dia mulai tersenyum.

“Lagipula Cy, dua garis di barang ini itu bukan apa-apa,” kataku sambil mengambil test-pack kehamilan yang barusan dia pakai.

“Ketika kita suatu hari dapet dua garis, so what?

Kita masih harus berharap dan menjaga supaya janinnya tumbuhnya bagus dan sehat. Supaya tidak jadi seperti banyak cerita yang kita dengar ketika janinnya tidak bertumbuh dan harus dikuret.

Ketika janinnya tumbuh bagus, sehat, kita tetap harus jaga kamu selama kehamilan supaya tidak terjadi apa-apa.

Lalu ketika saatnya mau lahir, kita harus memastikan prosesnya lancar, kamunya sehat, tidak ada komplikasi.

Ketika bayinya lahir, kita juga belum tahu apakah nanti seluruh organnya lengkap, apakah dia nanti tumbuh berkebutuhan khusus, apakah dia nanti SD ketika main sama temannya kepalanya bocor ketimpa apaan gitu, apakah nanti ketika dia SMA bakal bergaul dengan narkoba, apakah dia akan menikah dan bahagia, apakah nanti dia punya anak-anak yang tidak menyusahkan hidupnya?”

Casey Neistat pernah bilang ini di salah satu vlognya, dan aku suka sekali.

Dia bilang,

‘In life, we never arrived.’

‘We’ll never get to the point: ‘YES WE MADE IT!’

‘Because in life, there will always be that next step.’

Aku juga percaya begitu. Kita sebagai anak, pasangan, sahabat, orang-tua, pebisnis: we will never, truly, arrive.

‘Saya sudah sampai di titik puncak saya. Saya berhasil. Saya bisa bahagia sekarang, di tempat ini.’

Tidak ada itu.

Yang benar menurutku bahagia itu rel panjang dengan stasiun-stasiun keberhasilan.

Sambil terus memainkan test-pack itu lagi di hadapan kita berdua, aku berkata,

“Ketika suatu hari nanti kita lihat dua strip, tentunya bahagia, tentunya senang, tapi jangan terlalu senang seakan-akan we have made it, we have arrived.

It’s just a station in our long railroad of being good parents.

Ketika kita berharap-harap untuk bahagia, namun kita bisa ingat bahwa kejadian yang kita nanti-nantikan itu bukan sebuah tujuan akhir, maka kita bisa kecewa tanpa terlalu kecewa.

Kuletakkan test-pack tadi karena tiba-tiba kuingat bahwa barang itu barusan dipipisi Francy. Yuck.

“Yang penting sekarang adalah solusi. Apa yang ga berhasil kali ini, kenapa, dan cari tahu bagaimana memperbaikinya. Lalu kita coba lagi.

Setuju?”

Dia mengangguk.

“Oke, kita lanjut ya. Bentar, aku cuci tangan dulu.”

Bertemu Staf Ahok Untuk Pertama Kalinya

Wowsa. Semuanya memang bergerak begitu cepat.

Beberapa jam setelah saya melepas tulisan ini – salah seorang staf Pak Basuki menghubungi saya. “Ko, saya sudah baca tulisan koko. Saya mau datang dan ngobrol. Ini nomor saya.” Begitu bunyi pesan yang masuk ke FB Messenger saya.

Malam itu kami bertemu. Ternyata dia ini sudah mengikuti saya sejak lama, sejak dia masih kuliah di luar negri. “Saya masuk ke balaikota juga gara-gara melihat postingan lowongan yang koko retweet. Saya sudah lama memperhatikan koko, juga banyak ngobrol sama teman-teman pengajar muda yang ada di balaikota, jadi aku tahu aku bisa percaya koko.”

Berbicara 4 mata hampir 3 jam lamanya. Saya mendengarkan dia menceritakan posisi ladang, cuaca, debit air, hama, dan segala hal yang bisa jadi data ketika saya akan meladang nanti. Di akhir pertemuan itu saya sudah punya gambaran jauh lebih baik mengenai keadaan saat ini.

Anak ini perempuan, masih muda, kelas menengah, kristen tionghoa. Dari cara bicara dan pikirnya sangat cerdas.

Sejak SMA, dia sudah gatel mau masuk pemerintahan. “Untuk membuat sebuah perubahan besar, kita harus merubah kebijakan publiknya,” gitu kata dia. Gua SMA kayaknya masih sibuk nonton bokep. Pake modem dial-up. Truittttt-titut-titut-titut….

Tidak mudah buat dia untuk mewujudkan mimpinya karena sudah hampir pasti orang tua yang model beginian (perempuan, minoritas) tidak akan setuju. Tapi dengan kegigihan hatinya, dan walaupun belum sepenuhnya disetujui, dia terus meringsek maju, sampai bisa menjadi salah satu staf “Bapak” (begitu cara mereka menyebut Pak Basuki). Di antara napasnya yang terengah-engah bercerita, saya tak henti-hentinya menatapnya sambil merasa kagum.

“Stop,” tiba-tiba kata saya sambil mengangkat tangan ketika mendengar dia mulai bercerita tentang hal-hal sulit yang dia alami, “Kok kamu mau? Bertahan di dalam?”

Dia tersenyum.

“Dari dulu salah satu alasanku mau masuk pemerintahan, apalagi masuk kantor Bapak, adalah melihat dari dekat apakah semua yang dikatakan orang itu betul. Aku pingin sekali membuktikan dengan mata dan telingaku sendiri.”

“Dari semua yang aku lihat dan dengar selama aku di dalam, aku tahu bahwa perjuangan Bapak untuk membersihkan yang kotor, memperbaiki sistem, membereskan cara orang bekerja, semuanya itu benar.”

“Di dalam itu sudah bener-bener…” dia lalu menghela napas sambil melihat langit-langit mencari kata yang tepat, “apa ya ko? Benar-benar berantakan.”

“Memang banyak mereka yang berdedikasi dan bersih, tapi jauh lebih banyak yang kerja sembarangan dan kotor dan terang-terangan melakukannya. Yah paling gampang kita jangan lupa lah sebelum semua perubahan ini mengurus ijin dan surat itu seperti apa?”

“Tidak seperti swasta, kerja di pemerintahan otomatis akan naik pangkat dan gaji, dan baru pada jaman Bapak ada sistem KPI (penilaian kinerja yang biasanya dipakai bisnis, semacam rapor sekolah gitu). Kalau tidak ada dedikasi dan hati betul-betul untuk menjadi pelayan publik, godaan untuk kerja secukupnya dan sembarangan pasti sangat besar.”

“Uang yang ada juga bukan uang mereka. Anggaran sudah tersedia, nih segini banyak jumlah uang untuk mengerjakan proyek-proyek. Jadi rasa memiliki, bertanggung-jawab dan menjaga juga ga ada. ”

“Bapak makanya paling marah, ketika tahu ada yang mengambil uang. Betul-betul geram dia. Saya harus akui itu kelemahan dia. Tapi tentu dia begitu hanya kepada mereka yang ketahuan nyolong.”

Dia menghela napas lagi, “Semua rame pilkada ini kan sebetulnya karena begitu ko, Bapak itu mecat-mecatin yang ketauan nyolong. Banyak orang bukan lagi hanya terganggu, tapi terpotong penghidupannya.”

“Saya bertahan di sini, walaupun orang-tua tidak setuju, walaupun tekanannya sangat besar, walaupun pulang tengah malam terus, karena saya mau melihat Bapak meneruskan pekerjaan yang sedang dia lakukan.”

Ada jeda di udara.

“Saya percaya Bapak, ko,” kata dia tersenyum layu, karena memang sudah hampir pukul setengah satu malam.

Ketika akan beranjak pulang, dia berpesan, “Oh iya ko, nanti kalau ketemu Bapak, apa yang selama ini koko lihat di televisi, yah memang begitulah dia. Persis. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Apalagi nanti kalau kita akan kerja bareng, pasti kena juga lah koko. Tahan-tahanin aja ya ko,” tambahnya dia sambil cengengesan.

Sambil melihat mobil yang mengantarnya berjalan menjauh, saya berpikir, tidak masalah juga sih kalau gue kena semprot, apalagi kalau gue memang salah.

Salah satu titik balik dalam perjalanan bisnis saya adalah ketika seorang mentor saya memberikan sebuah nasihat emas waktu saya berdarah-darah berusaha membangun team yang solid.

Dia bilang, “Manusia itu ga ada yang sempurna Ward. Mereka pasti banyak kekurangannya, apalagi yang sering kita lihat sebagai bos. Tapi elu harus inget, mereka juga banyak kelebihannya. Nah fokus pada kelebihannya, dan taro mereka di tempat yang kelebihannya itu akan berguna.”

That talk changes everything.

Saya berhenti mencari anggota team yang adalah manusia sempurna, tapi mencari mereka yang ketika punya banyak kekurangan, masih punya lebih banyak kelebihan yang saya perlukan.

Pak Basuki sudah bekerja begitu banyak dalam waktu begitu singkat dengan begitu bersih, kekurangan pengendalian tempramennya adalah salah satu hal kecil yang sangat saya bisa tolerir.

Saya sendiri membayangkan diri saya yang sebetulnya sangat bertempramen tinggi ini, ketika ada karyawan kantor saya mencuri uang kantor, ketika dengan tindakannya itu dia mengambil sesuatu yang mungkin saja adalah hak teman-temannya, dan ketika dia berpikir bahwa orang-orang tidak akan mengetahui tindakannya itu.

Saya, dan mungkin juga Anda, akan marah besar.

Jangan biarkan narasi kampanye politik yang bertubi-tubi menggeser salah satu kebenaran mendasar yang sangat masuk akal: Pak Basuki marah kepada para pencuri, sama seperti saya dan Anda akan marah kepada pencuri. Pencuri uang, pencuri waktu, pencuri kepercayaan.

Tidak ada yang marah setahun lalu ketika ada tulisan tangan “pemahaman nenek elo!” di lembaran rencana anggaran yang jelas-jelas berfoya-foya dengan uang pajak kita dengan membuat rencana kerja ‘pemahaman-pemahaman’ entah berapa puluh baris. Dicopy-paste aja duit hasil keringat kita yang 100 juta itu.

Kita semua bersorak menunggu yang beginian.

Finally someone makes sense.

Finally someone said it to the faces of the corrupt that’s been taking our money for decades: “Duit nenek moyang lu jon?”

Remember that?

Jangan lupa itu.

Jadi tidak apa-apalah saya nanti kalau akhirnya ketemu kena semprot Bapak.

Walaupun ternyata, ketika saya bertemu beliau keesokan harinya, yang kita lakukan hanyalah tertawa, tertawa dan tertawa 🙂

(bersambung)

Berjabat Tangan Di Persimpangan

Ada calon-calon pemilih yang sudah pasti dengan pilihannya karena alasan-alasan logis maupun emosional.

Ada calon-calon pemilih yang masih bingung mau milih siapa, juga karena alasan-alasan logis maupun emosional.

Buat teman-teman yang melihat saya sebagai seorang yang aktif dalam politik kerelawanan, terutama ketika Pemilu 2014, mungkin kecewa melihat saya di Pilkada kali ini berpangku tangan.

Mereka yang kenal saya tentu tahu alasannya: karena logika saya tidak pernah ragu untuk memilih Pak Ahok, namun emosional saya mau memberikan kesempatan ke Mas Anies yang saya kenal pribadi.

Nenek-nenek aja tau itu.

Saya belajar untuk peduli tentang bangsa, politik dan masyarakat dari Mas Anies. Dari hari-hari pertama Indonesia Mengajar, sampai ke Konvensi Demokrat, sampai kemarin memuncak di pemilihan presiden yang dimenangkan Pak Jokowi.

Saya senang sekali juga ketika Mas Anies menjadi Mentri di Kabinet Pak Jokowi, karena saya percaya dengan Pak Jokowi dan apa yang sedang beliau kerjakan buat Indonesia.

Ketika Mas Anies memutuskan untuk maju di pilkada ini, saya langsung tahu bahwa keadaan saya akan sulit dan rumit.

Hanya orang naif yang bilang bahwa pilihan selalu hanya ada hitam atau putih, karena jika kita mau jujur, pilihan hidup seringkali abu-abu, apakah itu abu-abu muda, atau abu-abu tua, atau putih gading, atau hitam biru.

Makanya pilihan status di Facebook ada “It’s complicated.” 🙂

Rumit. Itulah posisi saya dan sebab di masa pilkada ini saya berpangku tangan, seberapapun kaki saya ini ingin berlari.

Nenek-nenek yang lain juga tau itu.

Seperti mendengar berita seorang teman yang melakukan sesuatu yang di luar perkiraan kita, hal pertama yang kita lakukan adalah melihat dan mendengar langsung dulu apa yang dia lakukan dan katakan, walaupun seluruh keberadaan kita berpikir sebaliknya.

The relationship and history reserve that judgement.

Kamu bukan orang asing, jangan hakimi dulu. Dengar dan lihat dulu.

Selama kampanye ini banyak headline dan kutipan yang membuat saya mengerenyitkan dahi, dan beberapa hari terakhir ini sepertinya saya sudah cukup mendengar dan melihat.

Sebuah kampanye memang sudah seharusnya merubah pilihan para calon pemilih. Itu baru namanya kampanye yang benar dan berhasil.

Perubahan pilihan ini tidak selalu mendekatkan, tapi bisa juga sekaligus menjauhkan.

Memang saya bukan siapa-siapa, bukan Bimbim Slank ataupun Pandji Pragiwaksono, jadi mungkin juga ga ada yang peduli tentang pilihan politik saya di pilkada ini, tapi saya menyatakan ini untuk teman-teman dan keluarga, baik pertemanan pribadi ataupun pertemanan penggiat kerelawanan dan politik.

Di waktu yang tersisa ini, saya akan mendukung Basuki-Djarot dalam kampanyenya memenangkan pilkada ini.

I never even shook hand with either the man, tapi seperti jutaan orang lainnya, saya melihat rekam jejak, integritas dan kemampuan melaksanakan birokrasi dan pemerintahan mereka.

Saya juga percaya bahwa Pak Ahok adalah salah satu putra terbaik bangsa, dan patut masuk dalam jajaran mereka-mereka yang akan memperbaiki wajah negeri ini. Ijinkan saya ikut dalam perjuangan Bapak.

Buat teman-teman di tim paslon Anies-Sandi, kali ini kita tidak sejalan. Pernyataan ini bukan berarti rasa hormat yang selama ini saya punya akan berganti dengan cibiran. I know you guys are also fighting for your cause, for what you believe is right. I will also try to fight the good fight.

Buat para pendukung dan penggiat Basuki-Djarot – terimalah permintaan maaf pahlawan kesiangan yang tidak tahu malu ini 🙂 Banyak hal yang saat ini menjadi tanggung jawab profesional saya, dan juga banyak hal yang sedang menjadi prioritas saya di keluarga saya, tapi saya akan mencoba melakukan apa yang saya bisa. Jikalau ada yang berkenan bekerja sama, saya dengan sangat senang hati menyambutnya. Saya belum kenal siapa-siapa nih 🙂

Saya selama ini berada di tengah, tidak ada di dalam lingkaran paslon 3, dan juga tidak ada dalam lingkaran paslon 2, sehingga bisa memberikan banyak pandangan jernih untuk jutaan swing voters seperti saya. Itu pun, sekali lagi, jika saya yang tidak tahu malu ini masih diberikan kesempatan.

Buat Mas Anies, saya masih ingat segala perjalanan yang kita sudah lalui. Sungguh setiap hari di masa pilkada ini saya berharap bahwa akhirnya tidak harus seperti ini.

Tapi sebagai orang dewasa kita tahu, dengan keadaan yang berubah, manusia juga berubah. Mengintip dunia politik beberapa tahun ini juga membukakan mata saya.

Mungkin kita berdua memang berubah, Mas. I broke your heart as you broke mine.

Saya hanya berharap, jika ternyata Indonesia yang kita impikan masih Indonesia yang sama, kita masih akan bertemu di waktu yang akan datang. Segera, nanti, atau entah kapan.

Seorang yang saya kagumi pernah berkata, “Lawan bukan musuh. Bisa tetap berdiskusi, bisa tetap guyub.” Karena dia, saya sangat meyakini hal ini. Saya mencoba menghidupi kata-kata ini. Saya berharap ini yang akan terjadi.

Kita selama ini memang selalu berjalan beriringan.

Tapi sekarang, ijinkan saya berjabat-tangan dengan Mas Anies di persimpangan ini, mengucapkan doa supaya Tuhan selalu memberkahi kita, dan memilih jalan yang berbeda.