Siomay Bikinanku Jelek Banget

Beberapa hari kemarin saya dan Francy lihat sebuah post di Facebook tentang cara membuat siomay. Makanan yang cukup ngangenin apalagi dari kecil saya sering beli siomay model begitu setiap bubaran gereja.

Ternyata nggak susah-susah amat membuatnya. Dari video pendek satu menit itu kita jadi terbayang: oohh begitu cara membuatnya.

Jadi di hari libur kemarin, kita coba membuat siomay untuk pertama kalinya.

Setelah berkutat hampir setengah hari, mulai dari memotong bahan, membuat adonan, membungkus satu-satu, dan mengukusnya, jadilah si siomay-siomay ini.

Ya ampun jeleknya luar biasa.

Walau terlihat ‘siomay’ tapi beda banget dengan yang sering saya beli.

Mungkin kalau ada reuni siomay-siomay dia akan dijuluki s”Si Siomay Buruk Rupa”.

Rasanya juga masih belum enak. Gurihnya belum kena dan masih langsung hancur ketika diangkat dan digigit.

Tapi.

Tapi bangganya aku.

Bangga ternyata aku bisa buat siomay.

Walau hancur ga karu-karuan, tapi buat percobaan pertama, bolehlah.

Saya tahu apapun yang namanya ‘pertama kali’, pastilah jelek.

Pertama kali kerja. Pertama kali nyanyi. Pertama kali main golf. Pertama kali presentasi. Pertama kali bikin film. Pertama kali buka bisnis.

Hampir pasti ‘pertama kali’ itu jelek, salah, tidak akurat, tidak berhasil, bantet, pecah atau buyar.

Dan hampir pasti, oleh kebanyakan orang, ‘pertama kali’ akan dicemooh, dikecam, dinilai dan diomongin.

Karena itu banyak dari kita nggak mau buat hal-hal yang ‘pertama kali’. Ngeri soalnya.

Sudah pasti jelek, dihina lagi.

Dan akhirnya kita ga pernah buat apa-apa dan ga pernah sampai kemana-mana.

Perubahan terbesar karakter saya hari ini yang membawa saya bisa sampai sekarang adalah sifat berani mencoba.

Coba dulu.

Coba dengan mengetahui secara pasti bahwa hasil pertama saya akan jelek, dan hasil pertama saya akan dicemooh.

Ga masalah.

Tapi tetap coba.

Semua petualangan saya dan bisnis saya dan pencapaian pribadi saya, dimulai dari tidak takut mencoba.

Seperti urusan siomay ini.

Karena saya tahu jikalau saya dan Francy suatu hari mau membuat siomay yang cantik sekaligus enak, pasti mulainya dari siomay-siomay buruk rupa yang ada di depan saya ini.

Kenapa Bukan Belajar Pintar?

Saya rada kurang cocok sama orang pintar.

Biasanya orang pintar merasa paling tahu, suka menggurui, merasa paling benar, dan kalaupun kita biarkan mereka berbicara, biasanya yang mereka ucapkan ternyata tidak terlalu pintar.

Ternyata begitu-begitu saja. Sudah sering dengar saya.

Biasanya enggak enak diajak kerja lagi, si orang pintar ini. Karena ya itu, merasa paling tahu dan paling benar tadi. Habis tenaga ini kalau kerja bersama mereka.

Diajak tukar pikiran juga mentok. Seringkali mereka merasa paling benar.

Saya sukanya orang ‘bodoh’.

Mereka yang dengar dulu baru bicara.

Mereka yang tau banget kalau mereka masih belum apa-apa dan masih banyak orang yang lebih hebat dari mereka.

Mereka yang haus akan pengetahuan baru, mau belajar, mau mencoba, mau ambil resiko untuk berbuat salah.

Solusi-solusi bodoh mereka akan masalah-masalah justru seringkali menghenyakkan orang-orang pintar.

Dan biasanya mereka ini pencapaiannya sudah buanyak banget, tapi mukanya masih planga-plongo. Cengengesan.

Saya suka yang begini.

Kepingin saya jadi begini.

Makanya tempat menulis baru ini saya beri nama Belajar Bodoh.

Saya mau diingatkan, walaupun saya makin hari pasti makin belajar banyak hal, supaya saya tetap bodoh.

Dan supaya saya banyak teman-teman bodoh juga yang bisa diajak buat banyak karya-karya yang menghenyakkan tadi itu.

Karya-karya yang nggak sesuai aturan ataupun panduan apalagi pengalaman.

Karya bodoh-bodohan deh pokoknya.

Saya mau belajar bodoh karena sering kali jawaban paling ampuh dari sebuah pertanyaan adalah jawaban yang kedengerannya paling bodoh.

Jawaban yang diketawakan oleh orang-orang pintar.

Nah, saya saat ini masih pinter. Masih merasa paling tahu. Merasa paling bisa.

Semoga semakin sering saya menulis di sini, saya pelan-pelan jadi semakin bodoh.