“Gw tanya deh: Bapak elo orang kaya yah?”

Dia bertanya begitu ketika kita berdua sedang berdiri di lobby menunggu mobilnya datang.

Kita berdua dan seorang teman baru saja ngobrol cukup lama di malam yang larut ini. Banyak pembicaraan memang seputar saya yang mengeluh, atas beberapa proyek baru yang sepertinya berat sekali untuk bisa take-off. That and a lot of other things 🙂

Kawan saya ini seorang CEO muda di salah satu perusahaan strategis yang selalu disorot publik di Indonesia, dan saya merasa beruntung masih bisa berkesempatan ngobrol santai semeja dengannya malam ini.

Nah, karena orang tidak suka jika diasosiasikan dengan ‘anak orang kaya’ jadi saya jawab segera, “Enggak kok. Bokap gw kehilangan banyak sewaktu krisis 98.” Ini memang betul.

“Iya, tapi waktu elu kecil bapak elu orang kaya kan?”

Ini betul adanya. Jadi saya jawab lemah, “Iya sih.”

“Itu sebabnya elu lembek. Elu mau hidup yang enak dan cepet. Elu merasa hidup elu sulit. Pembicaraan elu topiknya seputar menyerah. Elu merasa berhak menyerah. Suka nggak suka: masa kecil elu yang enak dan selalu terpenuhi adalah penyebabnya. Masa kecil kita akan membentuk karakter dasar kita jika kita tidak dengan sadar melawannya.”

“Kalau elu mengalami masa kecil seperti gua, pasti ceritanya beda. Fighting spirit elu akan beda.” Melihat dia yang masuk jajaran top five executive Indonesia saya mengerti yang dia maksud.

Rasanya seperti ditabok oleh setangan penuh batu akik yang hijau-hijau itu.

It hit me hard.

Kawan saya intinya berkata begini: Masalah yang sama akan ditanggapi berbeda oleh orang yang berbeda.

Seperti kasus klasik diputusin pacar: “Oh aku mau bunuh diri” atau “Asik bisa mulai lihat-lihat pacar baru”.

Mungkin ini bukan berita baru, tapi buat diri saya di malam itu, rasanya betul-betul seperti ditampar.

Saya yang merasa seperti orang yang sangat tertekan dan malang dan sudah berusaha sekuat tenaga dan sangat layak untuk menyerah, tiba-tiba seperti diteriaki, “ITU ELONYA AJA KALEEE!”

Saya jadi ingat saya pernah bertanya ke Mas Anies Baswedan di hari-hari pertamanya menjadi Mentri Pendidikan Dan Kebudayaan:

“Mas, berat ga tanggung-jawabnya?”

Beliau menjawab sambil tersenyum:

“Tanggung-jawab itu ukuran benarnya adalah besar-kecil Edward, bukan berat-ringan.”

“Karena tanggung-jawab itu bisa amat sangat besar,”

“tapi berat-tidaknya tergantung cara kita memikulnya.”

…..

Dengan ini, saya (yang dulu) anak orang kaya ini, bertobat. Tobaaat.

ed1

Menikmati tulisan ini? Dengan berlangganan, kamu akan dapat notifikasi jika ada tulisan-tulisan baru.

2 thoughts on ““Bapak Elu Orang Kaya Yah?”

  1. It hit me hard too. Insom, bolak balik badan gak bisa tidur, udah lama gak visit website/blog ini, scroll2 kebawah dan tempted untuk buka pembahasan yg ini. Karena org suka bilang sy princess walaupun mukanya gak kayak princess. Hit me hard and enlighten me and motivate me at the same time. Thank you 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *