folder Filed in Life
Tiga Cerita Bagus Jadi Satu Cerita Baru
Edward Suhadi comment 11 Comments

Saya mau cerita tiga cerita yang pernah saya baca.

Cerita pertama.

Di dalam hidup, Tulis ingatan kamu di atas batu karang dan di atas pasir putih.

Segala kejadian yang baik: penghargaan, keberhasilan, tepukan di pundak, tepuk tangan dan kata-kata kasih, pahat semua itu di batu karang. Kokoh dan terlihat jelas, sehingga walau waktu terus berjalan, kenangan akan kejadian-kejadian ini akan terus ada dan akan selalu kamu ingat.

Tapi semua kejadian buruk yang kamu alami: kekecewaan, kegagalan, penolakan, kesedihan, pengkhianatan dan kata-kata yang menusuk, tulis mereka itu di pasir putih, sehingga ketika ombak datang, air laut akan menghapus mereka dan kamu akan segera lupa mereka pernah ada.

Cerita kedua.

Di dalam hidup: Celebrate small victories, atau rayakan kemenangan-kemenangan kecil.

Get yourself used to making a big deal of good news. Any good news. Klien tadi nggak bawel. Makan siang kita enak ya. Mereka suka dengan presentasi kita. Kemarin ibunya baik ya. Yay kita ada deal tambahan 5 juta buat proyek ini. Hore kita ada potongan 1 juta buat sewa lokasi.

Ketika ada pencapaian yang diraih dalam pekerjaan, biasakan untuk merayakannya: beli pizza, beli rujak, traktir nonton, atau sesederhana dengan berkumpul melingkar lalu bercerita.

Get used to celebrating. That way, you and your team will appriciate the word ‘progress’.

Cerita ketiga.

Di dalam hidup: Fake it till you make it. Pura-puralah sampai akhirnya pura-pura kamu itu akhirnya jadi sungguhan.

Kadang kita sedang nggak pede, tapi anggaplah kamar tidur kamu itu backstage dan dunia di luar pintu kamar itu adalah sebuah panggung. Ketika kamu naik ke panggung itu, pura-puralah pede. Beraktinglah sebagai orang yang sedang di atas angin. Bayangkan gerak-gerik dan tutur katanya.

Begitu juga ketika kamu sedang sedih, aktinglah seperti sedang tidak terjadi apa-apa. Atau waktu kamu sedang pesimis, atau waktu kamu sedang tidak ingin tertawa.

Kebiasaan ‘menipu’ diri sendiri ini bukanlah sebuah praktek untuk lari dari kenyataan, tapi sebuah praktek yang pada akhirnya bisa merubah sebuah akting jadi sungguhan. Terbiasa pura-pura sehingga akhirnya menjadi sebuah kebenaran.

Pepatah ‘If you repeat a lie long enough, it will become a reality’ tidak hanya bisa digunakan untuk hal-hal yang buruk, namun sangat bisa digunakan untuk hal-hal yang baik.


 

Dari inspirasi tiga cerita tadi, saya jadi buat cerita saya sendiri.

Cerita keempat.

(Ini yang sering saya bagikan kepada orang-orang.)

Di dalam hidup: Besar-besarkan kebaikan, kecil-kecilkan keburukan.

Saya selalu mengatakan kepada diri saya sendiri, bahkan bisa dibilang saya ‘menipu’ diri saya sendiri, ketika ada hal buruk yang terjadi pada saya.

Saya biasakan melihat hal tersebut sebagai sebuah hal yang sepele, kerdil, sebesar upil.

“Biyasya,” kata saya.

Ini versi lebaynya ‘biasa’.

Sudah jauh-jauh ke sana mau pesen menu favorit tapi ternyata habis: biyasya.

Sudah capek-capek 3 kali presentasi tapi nggak jadi: biyasya.

Klien telpon batalin proyek: biyasya.

Kemarin diomongin orang begitu jahatnya: biyasya.

Mereka yang sudah kita bela tapi ternyata mengkhianati kita: biyasya.

Orang yang seharusnya bisa kita andalkan tapi mengecewakan kita: biyasya.

Biyasya aja.

Saya kecil-kecilkan kamu.

Jangan terlalu lebay, jangan menganggap dirimu malang. Masih buanyak banget mereka yang jauh lebih susah, sulit, dan tak seberuntung kamu. Biyasya aja cak.

Nah, beda kalau yang terjadi adalah berita baik.

Walaupun berita-berita kecil dan ringan, wuih, saya lebay-lebayin. Saya ‘tipu-tipu’ diri saya sendiri.

Luar biasa! Keren banget!

Gua happy banget dengernya lho.

It’s a really good news.

Makan-makan!

Wuih, besok kita deal lagi dong!

Itu yang gw suka dari elo.

Pasti bisa lebih keren lagi!

Luar biyasya.

Saya besar-besarkan kamu.

Besar-besarkan kebaikan, kecil-kecilkan keburukan.

Jadikanlah mereka kebiasaan.

Dan tiba-tiba, kenangan hidupmu penuh dengan kebaikan-kebaikan yang sulit kamu lupakan. Entah kemana hal-hal buruk yang entah terjadi kapan hari itu.

Bibirmu jadi terbiasa mengucapkan syukur. Manis kalau dijilat lidah basahmu.

Langkah-langkah hidupmu sekarang jadi ringan, serasa menari di atas awan, didorong angin maju ke depan.

Dan caramu melihat dunia, wah dunia ini jadi jauh lebih terang dan indah.

Bukan hanya tipu-tipu, kali ini sudah sungguhan.

Silahkan mencoba 🙂

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment

  1. just wanna let you know that you’ve touched more lives than you think, just by your writing 🙂

    thanks mas for always writing eye-opening stories.

  2. Halo, Ko Edward. Saya pembaca baru. Nemu blog karena ada temen yang share blog Koko yang tentang Jihad itu. Saya suka. Suka banget. Iseng2 baca tulisan yang lain, wah bagus sekali. Thanks for the meaningful message in every posting ya Ko. God bless you.

  3. Thank you edward. Ini kedua kali saya baca tulisan edward. Sangat menginspirasi. Semoga tulisan edward semakin bagus dan menginspirasi banyak orang

  4. Halo Ko, terimakasih sekali utk ceritanya. Definitely one of the best thing happen to me today: baca tulisan ini!

    Will subscribe and will eat up all your writings soooon ❤