Orang tua-tua sering berkata, “Hidup itu kayak roda berputar: Kadang kita di atas, kadang kita di bawah.” 

Biasanya diutarakan supaya kita selalu mawas diri: ketika hal-hal baik sedang terjadi di hidup kita, jangan takabur, karena suatu saat kamu akan susah lagi. Apapun yang kamu lakukan, kamu akan susah lagi. Karena hidup seperti roda.

Niatan mereka tentunya sangat-sangat baik dengan berkata demikian.

Dulu saya pun menerima petuah ini.

Lha memang niatan orang tua yang sayang kita itu pasti selalu baik, saya pun terima dengan baik.

Bahwa setiap kali ketika akhirnya banyak hal dalam hidup kita berjalan dengan baik, kita harus siap-siap, karena ga akan lama lagi si roda ini akan berputar dan kita akan mulai merasakan pahitnya kehidupan (lagi), dan tidak ada apapun yang bisa kita lakukan untuk menghindarinya.

Ungkapan ini cocok banget dengan kehidupan saya tahun-tahun belakangan ini: It’s a roller-coaster. Saya rada malu cerita detailnya, tapi perjalanan usaha di tahun-tahun terakhir itu ‘nggak banget’. Banyak air matanya. Banyak pahitnya. Banyak makan hatinya. Ketika saya akhirnya sudah mendingan sedikit, eh, keadaan ‘memburuk’ lagi. Lalu enak lagi sebentar, tapi lalu turun lagi. Begitu terus.

Tapi kalau dipikir-pikir walaupun merasakan naik turun, makin ke sini saya merasakan hidup di ‘bawah’ itu jadi lebih sedikit masanya. Durasi di ‘atas’ jadi semakin lebih panjang, dibanding durasi di ‘bawah’.

Kayaknya saya melakukan sesuatu yang makin ke sini makin memperbaiki ‘situasi roda’ ini.

Kayaknya juga akhirnya, saya sepertinya tidak percaya lagi soal roda-rodaan ini.

Menurut saya nih ya. Menurut saya.

Hidup itu seperti sebuah ladang:

Menabur itu harus selalu. Sehingga menuai akan terjadi selalu.

Kebanyakan yang terjadi adalah ketika sibuk menabur, maka tuaian jadi banyak dan hidup jadi enak, bisnis jadi lancar, hubungan jadi mesra.

Lalu kita lengah.

Lengah karena kita berfoya dan takabur dan merasa diri kita ini tak terkalahkan.

Benih-benih dan pacul kita simpan di gudang.

“Besok sajalah menabur. Capek tauk bungkuk-bungkuk terus begitu. Pinggang mau patah rasanya. Ayo makan minum dulu, ada banyak nih dan enak-enak semua.”

Karena sibuk makan minum tadilah, ketika tuaian dari musim taburan 1 habis, masuklah kita ke musim ‘kelaparan’ lagi.

Hidup yang enak dan lancar tadi jadi cuma sebentar. Sekarang kayaknya semua jatuh berantakan lagi.

Tapi kita oke-oke aja. Pasrah.

“Hidup seperti roda,” katanya. Sebentar naik, sebentar turun.

Jadi maklum lah. Lumrah. Jutaan, puluhan juta orang mengalaminya.

πŸ™‚

Tentunya teman-teman sudah tahu apa yang akan saya tulis selanjutnya.

Bahwa seharusnya. Seharusnya.

Ketika kita menuai hasil musim taburan 1, kita sudah harus menabur untuk musim tuaian 2, dan ketika lagi sibuk makan minum tuaian musim taburan 2 tadi, kita juga sudah harus sibuk menabur buat musim tuaian 3. Begitu seterusnya.

Sek, sek. Aku bingung Ward. Menabur menuai iki opo se?

Well, ‘menuai’ itu yang gampang ya: Merasakan uang bukan lagi sesuatu masalah yang diomongin setiap hari. Merasakan hubungan kita dengan orang-orang di sekeliling kita mesra, hangat dan baik adanya. Menikmati keadaan baik dan perasaan ‘everything is working really well’ dalam hidup kita.

Gampang lah ini. Semua orang bisa. Gak perlu pake belajar.

Nah ‘menabur’ ini yang menjalankannya setengah mati dan latihannya seumur hidup:

Selalu mencari tantangan.

Selalu memilih jalan yang sulit.

Berani menaruh uang untuk sebuah pertumbuhan. Berani menaruh waktu untuk sebuah hubungan. Berani menaruh hati untuk sebuah harapan.

Not taking things for granted. Ever.

Walaupun bisa hidup lebih enak dan mewah, tapi belajar untuk selalu menabung, berinvestasi dan menahan diri dan melatih hati ini untuk berkata, “Cukup. Lebih dari cukup. Bersyukur.”

Selalu menjaga diri untuk siaga, waspada dan cermat.

Selalu menjaga suasana hidup optimis, selalu menjaga diri percaya bahwa keadaan akan terus jadi lebih baik.

Selalu sadar setiap hal baik butuh proses panjang, sehingga selalu setia memulai banyak proses-proses itu.

Setiap hari siap dan sedia menenggak keringat, air mata dan rasa sakit di hati karena kecewa.

Hehehe, lebih sulit kan?

Tapi sulit bukan berarti gak enak. Remember that. I live with that.

Hidup itu bukan seperti roda.

Jangan terima dengan pasrah ketika hidup dan keadaan sepertinya memang bergantian naik dan turun.

Itu pasrah yang, maaf, bukan pada tempatnya.

Lebih ke 1 persen pasrah dan 99 persen alasan.

Hidup itu bukan seperti roda.

Hidup itu seperti ladang.

Ketika kita jadikan menabur sebuah aktivitas hidup yang tiada berhenti, maka God-willing, kita akan menuai tiada berhenti.

Menikmati tulisan ini? Dengan berlangganan, kamu akan dapat notifikasi jika ada tulisan-tulisan baru.

10 thoughts on “Hidup Bukan Seperti Roda

  1. penggambaran ttg hal “biasa” yg begitu dalam maknanya. hanya org2 yg telah memaknai hidup mampu bercerita ttg kehidupan

  2. Buah dari karma itulah yg kita dapat. Buah buruk yg kita terima sekarang blom tentu itu berasal dari karma buruk yg kita buat kemaren. Kehidupan berulang..bikin kita lupa..jgnkan hidup lampau..setahun lalu persis jam yg sama,tanggal yg sama,bulan sama,tapi tahun lalu..aja kita lupa kan?..dan jangan lupa..tidak hanya perbuatan buruk yg berbuah karma buruk..tapi ucapan dan pikiran yg buruk pun juga berbuah karma buruk …itu menurut saya pribadi ya…salam..😊😊

  3. Assalamualaikum Wr. Wb. Anda semua adalah orang-orang yang sangat beruntung karena mendapat kesempatan untuk membaca tulisan ini. Bagi anda yang merespon tulisan ini saya yakin 100% hidup anda akan segera berubah. Silahkan lihat info lengkapnya di sini : mangwaysalingberbagi.blogspot.com NO SCAM dan klik lihat profil lengkapku

  4. trma kasih pak edward.
    kdng kt tdk sadar, seakan2 kt terus brjalan maju ke depan. pdhl kt melangkah dan berpijak pd bumi yg bundar, dgn waktu yg trs brputar.
    mngkin tdk se bulat roda, tp mmbntuk siklus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *