Kalian tau lah baju-baju yang saya maksud.

Sudah kumal, jelek, bagian kerahnya sudah melar, trus yang paling parah: sudah bolong-bolong.

Biasanya cowok-cowok yang punya banyak baju beginian.

Yang ga tahan mau lempar itu baju ke tempat sampah biasanya ibunya, atau istrinya kalau dia sudah menikah.

Tapi selalu ga boleh, dipertahankan mati-matian sampai titik darah terakhir.

“Enak aja. Ini baju kesayangan aku ya. Awas kalau sampai dibuang, aku marah lho.”

Jika ada istri yang tetap nekat membuang itu baju, bisa dipastikan berkelahi.

“Kamu itu ya! Aku sudah bilang jangan dibuang! Baju itu adem dan enak banget buat tidur. Itu kan barang aku! AKU SAYANG BANGET SAMA ITU BAJU. Kamu bener-bener deh!”

Disambut sang istri: “Tapi itu baju sudah kayak kain pel! Aku sebel ngeliat kamu pake baju itu. Ga pantes kan dipake kalau ada orang dateng? MALU TAU GA SIH?!”

Bisa banget jadi perkelahian besar.

Francy istri saya punya trik yang cukup ampuh untuk bisa dengan damai membuang baju-baju jahanam ini. Kena saya dikerjain dia.

Jadi baju saya yang memang sudah cocok untuk kain pel itu dia keluarkan dari lemari baju, lalu dia sembunyikan.

Lalu dia tunggu sebulan.

Lalu dia tunggu ketika saya lagi good mood, kemudian dia pelan-pelan bilang, “Edward, kamu sadar ga baju biru kamu yang sudah bolong itu kamu sudah ga pake sebulan?”

Oh iya ya? Hm, saya ga sadar.

“Aku umpetin, hehehe…” katanya sambil tertawa belagak pilon.

Lho kok?

Sebelum saya sempet marah dia buru-buru menyambung, “Tapi kamu juga ga tau kan kalau baju itu sudah tidak di lemari lagi?”

Iya sih.

Dia lalu sambung lagi dengan manisnya, “Aku buang ya?”

Hm, memang jelek banget sih itu baju. Mas-mas Go-Food aja suka senyum-senyum kalau melihat saya keluar pintu pakai baju itu.

Saya kemudain hanya mengangkat bahu, well, “No big deal. Oke.”

Tanpa drama, misi sukes.

Seringkali, luka, kecewa dan sakit hati itu mirip si baju butut.

Semakin kamu pakai dia terus, semakin kamu pegangin dia terus, semakin betul alasan-alasan kamu untuk tetap sakit hati, dan semakin kamu akan marah ketika orang-orang yang sayang kepada kamu mengajak kamu untuk memaafkan dia dan membuang sakit hati itu.

Namun andai saja kamu mencoba, bukan, bukan untuk memaafkan dia.

Tapi sebentar saja, mencoba untuk ‘hanya’ melupakan sakit hati itu.

Anggap seseorang mengambil sakit hati itu dari lemari hati kamu dan kamu ga bisa melihat dia sama sekali selama sebulan.

Kamu akan sadar bahwa hal-hal pahit yang selama ini kamu pegang erat dan seakan-akan adalah seluruh duniamu dan kamu yakin sedemikian pentingnya, ternyata, gak penting-penting amat.

Ternyata, alasan-alasan untuk tetap sakit hati yang kamu utarakan dengan penuh kemarahan bukan karena alasan-alasan itu benar adanya, tapi karena sifat manusia yang ketika memperdebatkan sesuatu, betapapun sepelenya sesuatu itu, tiba-tiba akan membuatnya menjadi hal yang amat besar dan amat pentingnya. 

Dan teman, emang jelek kalau hal-hal sepele kamu besar-besarkan. Muka kamu jadi busuk terus.

Malu kan sama mas-mas Go-Food?

Aku buang ya?

Menikmati tulisan ini? Dengan berlangganan, kamu akan dapat notifikasi jika ada tulisan-tulisan baru.
Name
Email *

6 thoughts on “Cara Membuang Baju Butut Kesayangan Suami

  1. Your writing always inspires. Seperti tulisan saya yang hampir sama tahun 2009. Saya mengibaratkan kaos/baju usang itu seperti sifat-sifat jelek kita yang sulit kita ubah karena sudah ‘mengakar’ dan jadi karakter. Sulit kita lepaskan karena sudah melekat dalam diri kita. Seperti kaos saya yang sudah bolong-bolong tapi adem kalo dipakai. Karena kakak saya orang yg gak suka lihat adiknya pakek kaos usang. Jadilah kaos itu kain pel di rumah. Saya sempet sebel saat menjumpai kaos usang kesayangan sy jd alas kaki di dapur eerrrr.

    Keep writing Ko Edward!!!

  2. Biasanya kaos yg sudah bolong, diam-diam saya tambahin bolongan nya biar lebih besar bolongnya sampai dia sadar kalau sdh tidak pantas dipakai. Tapi kadang suami suka heran lihat bolongnya kok tambah besar, kemarin tidak sebesar ini !!

  3. seriusan deh!! tulisan2 si kokoh bikin gw kangen nulis lagi..
    a hobby that was far long forgotten.. hahaha.

    keep writing, photographing or whatever you’re doing!!
    sebelum diam2 diumpetin waktu dan “aku buang yah?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *