“Jaman sekarang orang-orang susah hamil ya…”

Tulisan ini adalah tulisan keempat dari seri #7HariTulisanBuatYangGaSukaAhok sedikit sumbangsih saya untuk berpartisipasi dalam pesta demokrasi Jakarta. Saya percaya semua orang, apalagi anak muda, harus peduli politik. Karena konsekuensinya tidak terelakkan akan dirasakan oleh semua orang. Saya bukan orang dalam, saya tidak dibayar, hanya orang biasa yang menyuarakan pendapat saya. Jikalau kamu masih bingung memilih siapa di Pilkada Jakarta 2017 dan mau membaca tulisan lain di seri ini, klik di sini.

Begitu kata istri saya ketika kita kembali dari konsultasi dengan seorang dokter ahli kesuburan di Penang.

“Iya soalnya tadi itu aku nguping-nguping, semuanya yang duduk bareng kita itu mau bikin bayi tabung lho…”

Kita memang sudah menikah hampir 10 tahun dan belum dikaruniai anak. Beberapa teman kita juga sedang mengalami perjuangan yang sama.

Jadi dengan fakta itu dan percakapan yang terdengar tadi, berarti betul ya jaman sekarang orang susah hamil?

Belum tentu.

“Sayangku…” jawabku lembut (TIPS: jika ingin berargumen dengan pacar/suami/istri, selalu mulai dengan “Sayangku…” untuk melembutkan jalannya diskusi. “Sayang…” juga bisa.)

“Kamu denger percakapan itu di ruangan tunggu sebesar 3×3 meter, persis di depan pintu ruang periksa salah satu dokter jagoan bayi tabung paling kesohor di Penang. Tentulah yang kamu dengar itu semua pasangan yang sedang sulit punya anak dan mempertimbangkan bayi tabung.” (TIPS: Senyum! Senyum juga penting sekali.)

Saya di sini bukan mau menjelekkan istri sendiri, karena hampir semua kita kalau berpikir juga seperti ini. Reasoning fallacies bahasa kerennya, atau kegagalan berpikir.

Dari satu dua fakta kecil di sekitar kita, biasanya yang negatif dan bombastis, kita langsung cepat menyimpulkan, tanpa melihat data yang lebih luas dan argumen yang lebih akurat.

Sekarang saya tanya, kira-kira aja:

Di 20 tahun terakhir, persentase orang yang miskin sekali (extreme poverty, hasil kerja sehari tidak cukup untuk makan sehari) itu:
A. Bertambah, hampir dobel
B. Sama aja
C. Berkurang, tidak sampai setengahnya

Secara refleks, kebanyakan orang menjawab A, padahal jawabannya C. Walaupun banyak tempat buruk di dunia, namun secara keseluruhan dan secara data, kemiskinan di dunia terus berkurang. Semakin banyak orang mendapat air bersih, semakin banyak akses kesehatan, semakin banyak orang yang pemenuhan gizinya lebih baik. (Nonton deh video ini – it will change how you see the world.)

Kenapa kebanyakan kita memilih A?

Karena kita sebagai orang yang tidak berada di extreme poverty, melihat keadaan itu hanya melalui berita. Berita hanya menayangkan yang menarik untuk dijadikan berita. Sehingga pandangan kita tentang dunia, dibentuk oleh berita yang sepotong itu, persis seperti cara berpikir Francy tadi.

Juga kita, sebagai manusia yang maunya enaknya aja, seringkali memilih-milih fakta untuk sesuai dengan pandangan hidup kita. Ngomong, “Tuh kan bener,” itu enak banget rasanya meluncur dari lidah.

Saya paling bete kalau baca berita di sosmed, misalnya tentang video tempo hari, yang tentang anak sekolah dirazia yang marah-marah ke polisi, lalu baca komentarnya:

“Inilah negeri Indonesia.”
“Inilah potret bangsa.”
“Hancur masa depan kita.”
“Kok anak SMA sekarang begini ya kelakuannya?”
Dan komentar-komentar sejenis.

Paaaling bete sama yang, “Inilah negeri Indonesia.”

Duileee tong.

Emang Indonesia gedenya cuma 2×2 meter doang?

Berjuta anak bersekolah, yang dalam perjuangan baiknya masing-masing tidak tersorot kamera. Yang berusaha keras untuk berprestasi untuk beasiswa, yang naik perahu dan berjalan menembus hutan supaya bisa duduk di kelas, yang membagi waktunya untuk membantu orang-tuanya, yang berusaha untuk menjadi sahabat yang baik untuk teman-temannya.

Sayangnya cerita “Seorang Anak Tidak Jadi Main Basket Karena Harus Menemani Ibunya Yang Sakit Di Rumah” kurang pas kalau dijadikan judul berita. Apalagi di daerah-daerah terpencil, di kampung-kampung jauh.

Indonesia isinya banyak tong. Yang baik-baik juga banyak. Banyak banget bahkan. Buanyak-buanyak-buanyaaaaak banget malahan. Kebaikan-kebaikan sehari-hari yang terjadi terus menerus tanpa sorotan kamera dan kehadiran reporter itu banyak. Lihat sekelilingmu. Dengar cerita-cerita baik dari teman-temanmu.

Saya pun pasti tidak luput pernah melakukan fallacy-fallacy ini. Dulu, sama seperti banyak orang, respon otomatis saya kalau lihat berita yang ‘ancur’, pasti mau ngetik, “Inilah Indonesia.” Tapi sekarang, setelah melihat dan sadar bahwa masih banyak sekali hal baik tentang Indonesia, komentar-komentar begitu udah jauh berkurang. Sama-sama janji ya, jangan nulis komentar kayak gitu lagi 🙂

Dengan paling tidak mengambil sampel data yang lebih baik dan adil, menimbang-nimbang jumlah serta skala kejadian-kejadian yang ada, kita bisa jadi lebih bijaksana sebelum berpikir bahwa sebuah kejadian buruk yang bombastis itu adalah gambaran yang akurat.

Tulisan saya ini bukan berarti meniadakan keadaan buruk ya. Ketika semua pertimbangan sudah dilihat, sampel yang diambil benar dan akurat, namun hasilnya memang buruk, ya berarti memang keadaan buruk/memburuk. There are still bad things happening in the world, I can guarantee you that.

Nah apa hubungannya sama Pak Ahok?

Well, sebetulnya tergelitik menulis ini karena pernyataan-pernyataan penutup kedua paslon lawan di debat terakhir semalam.

Katanya, mayoritas rakyat Jakarta mau gubernur baru. Bahwa raportnya pemerintah sekarang semuanya merah. Bahwa sekarang keadaannya parah. Bahwa rakyat hidup dalam ketakutan, dan bahwa warga yang perempuan benci terhadap Pak Ahok.

Tentu saya tidak memungkiri kekurangan-kekurangan pemerintah sekarang, dan juga saya tidak mengecilkan perjuangan-perjuangan keluarga-keluarga yang memang sedang dihimpit keadaan. Semuanya itu adalah keadaan yang akan terus jadi pekerjaan rumah semua pemerintah daerah, di manapun daerahnya dan siapapun gubernurnya.

Tapi dari yang saya tahu, berdasarkan data, angka dan survey yang bersih sebelum dihantam mesin-mesin politik pilkada, dan bukan hanya sepotong-potong pandangan hanya ke mana arah mata kita suka melihat, faktanya adalah mayoritas warga puas dengan kinerja, infrastruktur yang lama mangkrak sedang dikebut dijalankan, sungai dan trotoar dirapihkan, prasarana publik jadi hidup kembali, uang anggaran yang selamat dari korupsi terus bertambah, pelayanan-pelayanan publik semakin profesional, jumlah masyarakat yang dibantu dengan bantuan/fasilitas/akses jadi jauh lebih banyak, dan masih buanyak-buanyak-buanyaaaaak lagi.

Jakarta bukan hanya daerah-daerah yang masih menjadi pekerjaan rumah dan perlu waktu untuk dikerjakan, tapi jika kita mau bijaksana, kita juga harus lihat begitu banyak hal yang sudah berusaha dikerjakan dengan sekeras-kerasnya dan secepat-cepatnya oleh pemerintah daerah yang sekarang.

Saya banyak teman orang balaikota. The legends are true. If you want to see how hard a man can work, just follow Jakarta’s governor around.

….

Saya tahu masih banyak hal yang mungkin salah, belum benar dan belum selesai dikerjakan di kota ini.

Tapi kalaupun saya suatu hari harus berkata, “Inilah Jakarta,” saya akan memilih mengucapkannya dengan nada yang bangga, nada yang penuh dengan rasa syukur dan harapan yang meluap akan kota saya.

 

 

*PENTING: Sertakan link http://gasukaahok.com jika kalian share this post, baik di FB maupun di Twitter – supaya mereka yang mau membaca tuntas bisa mengikuti post-post lain.

Menikmati tulisan ini? Dengan berlangganan, kamu akan dapat notifikasi jika ada tuiisan-tulisan baru.
Name
Email *

5 thoughts on “Ahok Dan Susah Hamil

  1. “If you want to see how hard a man can work, just follow Jakarta’s governor around” :’) Pak Ahok.. you are the trigger.. once you pulled, many person like you will come everywhere. Indonesia will be better everyday.. wohoo

  2. Bung Ed .. anda sangat tepat sasaran
    ini mungkin sering juga dipikirkan teman2 laen
    jelas jelas jakarta bergerak maju, kalo ga mau dibilang cepat, lambat pun ga pa pa deh
    tapi sangat jelas sekali bergerak menuju yg lbh baik.. 1000%
    tapi kok masih ada yg bilang jakarta bergerak mundur ya ??
    makin bingung lagi, yang bilang itu para kandidat gubernur pula .. alamak cilaka 12
    tulisan diatas sebenarnya hampir sama juga artinya jgn deh kita jadi seperti “katak di dalam tempurung”
    berilmu tinggi tapi kok cara pandang hanya sebatas katak di dalam tempurung ck.ck.ck

    p/s : sangat menantikan 3 tulisan anda berikutnya 🙂

  3. 3 tahun saya di kota orang. Saat kembali ke jakarta di tahun 2015 saya terperangah dengan begitu mulus nya pelayanan di kelurahan pasar minggu. Ktp jadi tepat waktu tanpa perlu embel embel calo. Saya begitu merindukan pemimpin seperti pak ahok. Sepertinya bukan pak ahok yg bth jadi gubernur jakarta, tp rakyat jakarta lah yg butuh pak ahok utk menjadi gubernur.

  4. Mas Edward,

    Terimakasih buat pencerahannya hari ini. Mungkin ini renungan yg sangat pas secara pribadi buat saya hari, disaat hati udh bener2 patah hati dan kecewa bahkan hampir menyerah untuk tetap mencintai Indonesia, dan berharap bangsa ini menjadi besar dan maju.

    Kejadian di Istiqlal, bagian sebagian orang biasa, hanya beribadah. Tapi, yg dipertontonkan, sekali lagi menggores hati saya, bahwa Ahok, representatif minoritas, tidak bisa ikut, hanya karena perbedaan agama, yang pada prinsipnya merupakan kebebasan semua warga untuk memilih agama dan kepercayaan.

    Bagi saya, menjelaskan bahwa Ahok tidak melakukan penistaan saja, sepertinya sudah menjadi hal yang mustahil untuk dijelaskan, dipahami, dengan prinsip keadilan sebagai warga negara. Punishment masyarakat yg terlalu berlebihan. Ditambah lagi, kejadian bertanya, atau melakukan pembelaan diri, meskipun itu terhadap ketua MUI, dianggap melecehkan ulama. Hati ini rasanya sakit, seakan keadilan adalah hal yg mustahil untuk diperjuangkan untuk minoritas.

    Ini sangat tidak adil, dan seakan hati berontak, men-generalisasikan, bahwa di seluruh titik di Indonesia, akan berlaku hukum rimba murahan seperti itu.

    Memilih Ahok, yang notabene minoritas, bak melakukan DOSA besar even dalam pertemanan. Dalam pertemanan bahkan persahabatan, semua langsung mengambil garis batas atau tembok yerikho ketika masuk ke ranah agama. Tidak ada lagi canda2 “Hah, lo puasa, alhamdulilah akhirnya lo tobat juga!” dari si Kristen ke rekan Muslim dan ditanggapi lelucon konyol lainnya. Tidak ada lagi canda2, “Lo rambutnya keren banget, ga keliatan kali kalo di jilbab.”, dan ditanggapi nyinyir balik sama temen. Sekarang semua serba mencurigakan kalau berbicara ranah agama. Fiuh.. Muak. Obrolan pun jadi ga lepas. Apalagi kl ngajak valentine party, selesai didakwahin, bukannya dibecandain kaya waktu dulu. Males deh..

    Dengan Mas Edward cerita banyak kebaikan2 di bagian belahan Indonesia lainnya, pelan saya tersentak. Bahwa saya ga boleh menyamakan timeline dgn representatif Indonesia secara keseluruhan. Ada banyaaakkk, buanyakkkk, buaaaanyakkkk, kata2 ini mengingatkan saya untuk tidak lelah. Banyak yg bisa dikerjakan. Engga melulu, mantengin linimasa lantas jd korban yang ga berdaya.

    Pelan di hati terdengar, Bahwa Bangsa Ini sedang Belajar, dan bahwa mencintai bangsa ini juga ga boleh lelah. Hiks.. Hiks..

    Semoga semua pihak bisa menarik pembelajarannya ya.

    Sekali lagi, Mas Edward, terimakasih buat inspirasinya, dan konsistensinya mencintai bangsa ini.

    God bless U and Fam

  5. Sebel juga kalo ada temen yg sekolah di Jepang. Kerjaannya jelek2in Indonesia dan negara2 yg lebih jelek dari Jepang. Pesimis aja bawaannya ama negara sendiri. Gue jg gitu sih kadang. Tp percaya ucapan adalah doa. Ayo bagusin Indonesia dari hal kecil yg kita bisa. Jangan kebanyakan ngomong negatif.
    Susah buat jd kek Pak Ahok yg mentalnya luar biasa. Coba kalo Pak Ahok pesimis trus males ngurusin jakarta. Mundur lagi dehJakarta. Apes2nya kalah nanti di pilgub. Berharap Pakde mau nangkep beliau jd pembantunya. Jd mendagri sekalian, beresin mental asn jadi menpan boleh, menteri pu jg bisa. Emang kita yg butuh Pak Ahok. ☺️

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *