“Tante-tante gesit amat.”

Tulisan ini adalah tulisan keenam dari seri #7HariTulisanBuatYangGaSukaAhok sedikit sumbangsih saya untuk berpartisipasi dalam pesta demokrasi Jakarta. Saya percaya semua orang, apalagi anak muda, harus peduli politik. Karena konsekuensinya tidak terelakkan akan dirasakan oleh semua orang. Saya bukan orang dalam, saya tidak dibayar, hanya orang biasa yang menyuarakan pendapat saya. Jikalau kamu masih bingung memilih siapa di Pilkada Jakarta 2017 dan mau membaca tulisan lain di seri ini, klik di sini.

Begitu pikir saya melihat ini satu ai (bacanya seperti ada komanya: a, i) – sebutan orang Tionghoa pada umumnya untuk seorang ‘tante’.

Karena istri saya sedang dalam masa pemulihan pasca operasi, jadilah saya tertarik mengambil paket General Check-Up: diperiksa darah, dirontgen, USG, cek jantung, dll.

Dari hari pertama bertanya-tanya informasi, saya sudah kagum melihat dia. Gesit, senyum, ramah. Betul-betul terlihat dia melayani dari hati. Dia memastikan semua tamu dia diurus, tidak bingung, dan mengalami waktu yang menyenangkan selama mereka ada dalam tanggung-jawab dia.

Begitu juga rekan-rekan sejawatnya yang saya lihat (yang berseragam sama, bertugas sama, mengurus tamu-tamu medical check-up ini) – melihat mereka seliweran ke sana kemari, cara mereka bertegur sapa. Saya melihat mereka memang suka melayani.

Kayaknya aneh memang ada orang-orang yang panggilannya melayani. Orang kalau suka dilayani, ya, masuk akal. Tapi orang yang suka melayani?

Melayani kan, ya, cuma melayani. Semua orang pasti bisa seperti si ai tadi: Gesit, memberikan solusi, ramah, sabar, murah senyum.

Maklum dulu saya sering diajar bahwa, “Semua orang pasti bisa melakukan apapun, asal dia mau belajar!” Apalagi soal melayani doang.

Sounds like a good mantra, but I found out that is not all the way true.

Memang semua orang pasti bisa belajar dan melakukan apapun, tapi jika dibandingkan dengan mereka yang punya talenta dan panggilan di area tersebut, kinerja dan hasilnya akan jauh berbeda.

Dulu banget ketika waktu saya memulai bisnis dan mencari karyawan, kriterianya cuma ada dua ‘asal’: asal kenal dan asal mau, hehe…

Selama saya kenal dia, baik dia itu teman saya, atau teman temannya saya, atau anak dari teman orang-tua saya, selama dia mau belajar, pasti saya terima.

Hasilnya memang bisa jalan, dan buat diri saya yang waktu itu, sudah lumayan banget ada yang bantuin dan ada yang bisa kerjakan. Lumayan lah.

Setelah beberapa tahun bisnis saya berjalan, saya baru mendengar sebuah pelajaran: “One main job of a leader: Put the right man for the right job.”

Kedengerannya sederhana ya.

Tapi buat saya, kata-kata ini adalah sebuah pewahyuan dan kalau kita mau jujur, seringkali kita tidak lakukan itu. Asal kenal dan asal mau, prinsip kebanyakan kita.

Bisnis saya sekarang berbeda. Bisa dibilang melesat performanya namun jauh lebih sedikit sakit kepala.

Kenapa? Because I put the right man for the right job.

Untuk penulis-penulis kreatif, saya tidak hanya cari orang yang asal kenal dan asal mau, tapi orang-orang yang penuh ide-ide kreatif, suka showmanship, bisa presentasi, dan suka membaca dan piawai dalam menulis.

Orang-orang yang suka mengatur, tata-cara, sistem kontrol, bisa berpikir runut, punya sikap selalu taat jadwal dan deadline, mereka saya taruh jadi produser.

Orang-orang yang teliti dengan angka, mempunyai cara pikir logis, tidak terlalu banyak bicara, tekun dan menikmati pekerjaan yang berulang-ulang, mereka saya taruh di finance.

Orang-orang yang berkharisma, punya gagasan untuk dibagikan, bisa mengutarakannya dengan baik, dan bisa menginspirasi mereka yang dipimpinnya untuk bersemangat, mereka ini saya taruh di salah satu bagian manajemen.

Dan selanjutnya.

Dulu ketika saya pikir bisnis saya lancar dan lumayan ketika saya dibantu oleh orang-orang yang asal kenal dan asal mau, ternyata jika dibandingkan dengan bisnis saya sekarang yang diisi oleh orang yang tepat pada pekerjaan yang tepat, kelihatan jelas dari performa, kebahagiaan, dan angka-angka di laporan keuangan, bahwa bisnis saya dulu itu terseok-seok.

Asal jalan, sukur-sukur bisa lewati tahun per tahun, dan penuh berkah pertolongan Tuhan supaya ga bangkrut 🙂

Saya masih meyakini bahwa ketiga calon gubernur yang sedang bersaing adalah orang baik. Sikap politik dan manusiawi mereka yang berbeda dengan gambaran ideal kita tentang orang-orang yang bijaksana dan sempurna, itulah yang membuat banyak kita kecewa.

Tapi mereka yang baik dan bisa, mereka yang asal kenal dan asal mau (paslon-paslon lain selain paslon nomor urut 2 diajak dalam lobby-lobby politik dan memutuskan untuk maju, hanya dalam kurun waktu kurang dari sebulan), berbeda dengan mereka yang memang punya keahlian dan panggilan menjadi seorang pengelola sebuah pemerintahan daerah.

Asal kenal dan asal mau, akan berbeda hasilnya dengan mereka yang memang kita lihat berkinerja, mengalir ketika berada di habitatnya.

Mirip si ai-ai gesit tadi.

Tugas gubernur adalah sebuah jabatan administratif.

Posisi operasional yang memastikan rencana-rencana kerja direalisasi.

Punya kemampuan memegang detail-detail kecil, sambil mampu merancang dan melihat rencana-rencana besar.

Bisa mendelegasi, membuat gugus-gugus tugas dengan kepemimpinan yang tepat, dengan matriks pengukuran yang bisa dikejar dan dilihat jelas.

Punya logika untuk membangun sistem-sistem masuk akal yang betul-betul bisa berjalan.

Tegas dan jadi teladan dalam integritas mengelola anggaran pembangunan dan operasional yang luar biasa besar.

Berani menyingkirkan benalu yang mengakar dan sistem-sistem yang usang.

Put the right man for the right job.

PS: Tulisan saya entah kenapa cocok dengan tulisan Rian Ernest, seseorang yang prenah bekerja di bawah Mas Anies dan Pak Ahok.
 

*PENTING: Sertakan link http://gasukaahok.com jika kalian share this post, baik di FB maupun di Twitter – supaya mereka yang mau membaca tuntas bisa mengikuti post-post lain.

Menikmati tulisan ini? Dengan berlangganan, kamu akan dapat notifikasi jika ada tuiisan-tulisan baru.
Name
Email *

6 thoughts on “Ahok dan Tante Gesit

  1. Ini kesempatan org Indonesia tukar kulit dan maju bergerak ke depan, atau sebaliknya, kembali menebalkan kulit dan semakin berat merangkak untuk perubahan.
    Indonesia terkenal sebagai bangsa yg punya reputasi merusak, membuang dan melupakan banyak pemimpin jujur dengan potensi besar sebagai tokoh negara. Mudah-mudahan kali ini ada kemauan untuk berbenah, semuanya bakal dimulai dari kalian, warga Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *