Atau jika diucapkan dalam hati yang baca ini: “Semua salah saya.”

Kamu setuju ga dengan pernyataan di atas?

Ketika karir mentok, dan sepertinya kamu ga pernah naik-naik?

Ketika keuangan kamu sepertinya selalu merana, prihatin terus-terusan?

Ketika pernikahan jadi tawar dan dingin bagai es, atau jadi panas dan terik seperti neraka?

Apalagi untuk hal-hal yang kayaknya merupakan tanggung-jawab sepenuhnya orang yang bersangkutan, dan sama sekali bukan tanggung-jawab kita:

Product launch yang berantakan karena anggota team yang lalai dan ceroboh.

Bisnis yang jadi sulit karena peraturan pemerintah yang baru.

Proyeksi sales yang meleset jauh.

Tentu semua ini bukan salah kamu dong?

Bertahun lalu, saya belajar satu hal yang sangat penting tentang kepemimpinan.

Orang ini berkata, sambil menunjuk batang hidung saya:

“Kalau elu seorang pemimpin, semuanya ini, semuanya: Semuanya adalah salah elu.”

Awalnya kaget karena ga nyangka akan dituduh jelas-jelas begitu.

Lalu kemudian langsung emosi. Wuih. Mendidih.

Tentu saya tidak senang.

Ketika mulut saya terbuka mau membalas dengan marah, dia lanjut katakan,

“Kalau elu bisa berkata dan bener meyakini bahwa semuanya elo yang salah, si kesalahan yang bisa diperbaiki dan dibuat bener itu, sekarang ada di kedua belah tangan elu.

Elu yang megang barang yang ‘rusak’ ini,” katanya sambil membuat gestur seperti memegang sebuah semangka besar.

“Dan karena kesalahan itu ada di tangan elu dan bukan ada di tangan orang lain, you can actually do something about it.”

Hidung saya yang ditunjuk hari itu berubah selamanya.

I never blame anyone for anything anymore.

“Semua salah saya.”

Diucapkan bukan dengan nada ‘iye iyeee semua salah gua’, tapi dengan nada, ‘mustinya gua bisa lakukan sesuatu buat mencegah ini’ dan ‘oke, sekarang keadaannya udah begini, now what can I do?’

Tentu mental di sini bukanlah mental superman yang merasa harus menjadi penyelamat untuk semua orang, atau mental yang gusar karena merasa diri paling pinter dan semua orang lain kerjanya nggak becus. That’s bad leadership and bad life attitude.

Yang saya maksud adalah sikap hati yang berkata:

Saya punya kendali penuh atas perbaikan-perbaikan apa yang bisa terjadi dalam hidup saya.

Ketika kerjaan/keluarga/hubungan/bisnis menghadapi masalah, ketimbang saya duduk dan menunggu orang lain membereskannya entah kapan, saya bisa segera mulai memperbaiki apa yang salah.

Tapi banyak dari kita tidak pernah merasa bahwa kitalah yang salah dan punya andil dalam kemalangan-kemalangan kita.

Di ujung lain dari sikap ‘semua salah saya’ adalah sikap ‘semua salah orang lain’.

Sedap ga tuh:

“Semuanya ini salah orang lain.”

Suka bertemu dengan mereka-mereka yang berpikir seperti ini?

Enak ga kejebak macet terus harus ngobrol semobil sama mereka-mereka ini?

Kalo gua mah mending turun cepet-cepet naik ojek aja dah 😀

Keadaan tidak pernah cukup baik untuk mereka, dan diri mereka yang susah melulu adalah selalu akibat dari kesalahan-kesalahan orang lain.

Mereka tidak pernah mau berbuat apa-apa, karena menurut mereka segala hal buruk yang terjadi selalu ada di luar kendali mereka.

“Bukan salah gua dong? Gua bisa apa?” mantra yang paling sering terdengar dari mereka.

Gemesh aku kalau denger orang ngomong begini. Pingin ‘tak jiwit pipinya.

Padahal.

Kalau kamu bisa berpikir ‘semua salah saya’, ketika karir mentok, mungkin yang disalahin bukan kantor, atau bos, atau iklim pekerjaan. Tapi apakah kamu sudah memberikan kontribusi yang real? Apakah kamu sudah benar memperlihatkan pencapaian kamu ke atasan kamu? Apakah kamu pernah menambahkan nilai dan kemampuan kamu sejak kamu pertama kali masuk kantor ini?

Ketika anggota team kamu sering melakukan kesalahan, mungkin kita perlu ingat-ingat kapan terakhir kali kita menilai kekuatan dan kelemahan dia sehingga kita bisa menempatkan dia di posisi yang tepat. Atau kita tidak pernah buat sistem yang cukup bagus untuk meminimalisasi human error? Atau mungkin selama ini kita tidak pernah dengan benar menegur dan melatih dia karena alasan-alasan seperti malas, sungkan, atau paling parah, karena kita tidak perduli?

Ketika keuangan merana terus, daripada nyalahin slip gaji atau harga-harga yang terus naik, coba tanya diri apakah kamu sudah belajar mengelola uang dengan baik? Memilih pertemanan dengan baik, membuat trik-trik penghematan, atau melatih gaya hidup yang sesuai dengan pemasukan kamu?

Ketika pernikahan terasa seperti neraka, daripada menyalahkan pasangan, mertua, pembantu, anak-anak, bukankah lebih baik introspeksi diri dan menilik apa-apa saja perubahan yang bisa kamu lakukan sendiri tanpa menggantungkan harapan ke orang lain? Cium istrimu lebih sering, habiskan waktu dengan anak-anak lebih banyak, paksa diri memulai perbincangan-perbincangan sulit yang selama ini menjadi ganjalan.

Enak kan rasanya?

Menulis kalimat-kalimat ini saja sudah membawa kepuasan.

Seperti secercah cahaya dalam terowongan yang gelap pekat. Bahwa ada solusi dalam setiap masalah, dan solusi itu bisa langsung saya kerjakan, karena masalahnya ada di tangan saya.

Setiap orang adalah pemimpin, baik pemimpin dalam tim di kantor, pemimpin dalam pergaulan dengan teman-teman, pemimpin dalam keluarga, dan terutama, pemimpin untuk dirinya sendiri.

Dan jika kamu mau jadi seorang pemimpin yang baik, yang terus naik, yang makin hari dipercaya hal-hal yang lebih besar lagi, ingat, semuanya adalah salah kamu.

Selamat ya chyinnn.

———–

*Edward Suhadi adalah creative director Ceritera, sebuah agency+production house di Jakarta.

Menikmati tulisan ini? Dengan berlangganan, kamu akan dapat notifikasi jika ada tulisan-tulisan baru.

2 thoughts on “Semua Salah Kamu

  1. thank ko Edward for this article. Reminds me that every problem has a solution and it is in my hand.
    “Seperti secercah cahaya dalam terowongan yang gelap pekat. Bahwa ada solusi dalam setiap masalah, dan solusi itu bisa langsung saya kerjakan, karena masalahnya ada di tangan saya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *