“Kalau mimpi kan, gratis. Gapapa dong?”

Sering kita yakini, dan sering kita ucapkan.

Sambil diakhiri dengan terkekeh renyah biasanya.

Maka jadilah kita manusia yang suka bermimpi. Sering dan terus-terusan dan banyak.

Bermimpi jadi orang kaya, bisa beli semuanya.

Bermimpi punya istri yang sexy dan suami yang dreamy.

Bermimpi punya hidup enak, di mana semuanya hormat sama kita, semuanya mudah dan tersedia.

Seringkali mimpi ini timbul karena melihat hidup orang lain.

Bukan yang jauh-jauh seperti Bill Gates atau Mark Zuckerberg.

Tapi melihat hidup teman, kolega, bos dan bahkan saudara sendiri.

Gapapa dong bermimpi?

Lah kan ga merugikan siapa-siapa?

Hanya terjadi di dalam kepala, di antara dua telinga ini. Tidak berbunyi, tanpa suara, tidak ada yang dengar.

Yang tahu hanya saya dan pikiran saya.

Ga perlu bayar lagi. Gratis.

Boleh-boleh aja dong bermimpi?

Tapi menurut saya.

Bermimpi itu tidak gratis.

Karena dari mimpi yang katanya gratis, timbul iri, ketidak-puasan, dan kemalasan.

Dan iri, ketidak-puasan, dan kemalasan harus dibayar lunas dengan kedamaian hati, rasa bersyukur, dan semangat berjuang.

Tiga hal terakhir ini, mahal.

Bahkan mahal sekali.

“Anjrit dia liburan lagi. Coba gua bisa pergi-pergi seenaknya kayak dia ya… Ke hotel yang bagus, pantai yang keren, makan-minum di cafe-cafe hits,” bermimpi bukan dalam lelapnya tidur tapi dengan mata terbuka sambil melihat social feeds hidup orang lain.

Iri mulai bertunas, dan kamu harus bayar mimpi ini dengan kedamaian hati kamu.

Berkumpul dengan teman-teman lama, melihat dia si menyebalkan yang ternyata dapat suami yang ganteng dan tegap, sigap mengurus anak-anak sambil multitasking conference call untuk bisnisnya.

Cowok gendut nan pemalas di sebelah kamu terlihat jadi makin gendut dan makin pemalas. Tukang ngorok lagi. I bet that Mr Clooney-look-a-like sleeps smelling like lavender.

“Coba kalau dulu gw dapet laki yang model begitu ya. Hidup gw enak, cuma ongkang-ongkang kaki. Gua bisa jalan-jalan ke mall dan belanja, laki gua bisa bantu urus anak… Enak ya kayaknya…” Kali ini bermimpi dengan mata terpejam di dalam mobil ketika perjalanan pulang. Bersama si gendut yang napasnya berisik di sebelah kamu.

Kamu harus bayar mimpi tadi dengan rasa bersyukur.

Karena hilang sudah ingatan-ingatan 10 tahun lamanya si gendut yang setia dan yang selama ini sudah berusaha sekuat tenaga menjadi suami dan ayah yang baik.

(And you’re also forgetting the fact that you’re not exactly Mrs. Amal either.)

Melihat karir dan bisnis teman-teman seangkatan, atau menonton profile gaya hidup successful businessmen yang sudah masuk berita sana-sini, kita mulai bermimpi.

Bermimpi dalam kantor yang busuk dan kamar kosan kita yang sempit, membayangkan hidup yang enak seperti itu rasanya seperti apa.

“Karena gua nggak mungkin lah bisa begitu. Jadi mimpi-mimpi aja. Mimpi kan gratis? Ngayal-ngayal bombay aja, hahaha…” kita tutupi kekecewaan terhadap hidup kita dengan tawa.

Mimpi yang ini, kamu tukarkan dengan semangat juang. Karena buat apa memperjuangkan sesuatu yang tidak mungkin kan? Gua mah akan selalu gini-gini aja. Mendingan mimpi-mimpi aja.

….

Mimpi, buat saya, tidak pernah gratis. Dia selalu mahal.

Karena itu, sama seperti barang mahal lainnya, ketika saya beli dia, saya akan hati-hati.

Milih-milih.

Dalam melihat social feeds saya, ketika lagi bengong sendirian, ketika lagi lihat hidup orang yang enak, saya tidak hambur-hamburkan mimpi saya, walau dia tidak berbunyi dan tidak pakai rupiah.

Saya tidak keluarkan dompet sukacita saya dari kantong celana, dan saya tidak biarkan tunas-tunas beranak-pinak dengan begitu cepatnya.

Karena kalau tidak, bisa runyam hidup saya.

Iri dan dengki itu persis seperti pepatah: “Dikasih hati, minta ampela.”

Selalu berbondong-bondong mereka datang, kalau kita kasih kesempatan melongkokkan kepala sedikit saja.

Setiap hari akan jadi kelam, ga hepi, dan jadi malas mengerjakan apa-apa.

Lagipula, saya hanya manusia 🙂

Jadi, tidak boleh bermimpi?

Bukahkah semua orang sukses itu bermimpi?

Betul sekali.

Man on the moon, hak yang sama untuk warga berkulit hitam, electric car for the masses.

“I have a dream…” kutipan kata-kata dari pidato paling terkenal sepanjang masa.

Semua orang sukses bermimpi.

Tapi ada satu perbedaan besar.

Mimpi yang mereka impikan ada dalam jangkauan dan mereka mengejar mimpi itu.

Ini beda jenis dengan mimpi yang biasa kita lakukan sehari-hari.

Energi yang dihasilkan, juga beda.

Mimpi yang dalam jangkauan, membuat kita bersemangat mengejarnya.

Dan karena bermimpi sambil kaki ini melangkah dan keringat ini menetes, mimpi bukan jadi hanya sesuatu yang dilakukan iseng-iseng di awang-awang, tapi jadi sesuatu yang terang dan menjadi tujuan.

Mimpi jadi sumber tenaga, bukan jadi tempat tumbuhnya iri dan umpatan tanpa suara.

Ketika tantangan selalu berusaha menjegal dan serangan bertubi-tubi menghantam di antara hujan cibiran, mimpi membuat mereka terus maju.

….

Bermimpi tentu boleh. Harus bahkan.

Tapi ingat, mimpi itu tidak pernah gratis.

Karena hidup kita, bahagia tidak kita, positif tidak kita, semangat tidak kita, selalu dikuasai apa yang ada di dalam pikiran kita.

Dan di dalam sana, mimpi itu harganya mahal sekali.

Kalau saya mah, karena barang mahal, yah… mimpi sekali-kali aja. Jarang.

Saya lebih banyak buat rencana, lalu pergi bekerja.


*Edward Suhadi adalah creative director Ceritera, sebuah communication agency + production house di Jakarta. 

Menikmati tulisan ini? Dengan berlangganan, kamu akan dapat notifikasi jika ada tulisan-tulisan baru.

6 thoughts on “Bermimpi Tidak Gratis

  1. bermimpi dilanjutkan dengan do somethig …. at least you try .. kalo bermimpi-nya tiap hari liatin instagram orang lain lama2 malah jadi iri hati dengki dan kecewa

    bener banget Ed, saya sudah mengurangi banget aktivitas ngalor ngidul di dunia instagram ….baru seminggu ternyata berasa banget … ternyata i have a pretty good life …i enjoyed as it is tanpa perlu comparing sama org lain ngapain

    nice sharing as always. THANK YOU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *