Saya ini kalau ikut tes psikologi, sudah jelas akan dapet hasilnya seperti apa. 

Yang sederhana dan sering kita pakai juga kalau interview pelamar kerja, adalah sistem DISC: Dominant, Influence, Steadiness, dan Compliant.

Dulu saya yang tinggi cuma satu: Influence.

Setelah bertahun kerja dan memimpin perusahaan, Dominant saya merangkak naik dan sekarang mentok di atas. Influence saya? Masih bertengger juga dia di atas sana.

Saya ini orang Influence mentok. “Creative problem solver. Great encourager. Motivates others to achieve. Positive sense of humor. Negotiates conflicts; peace maker.” Udah kayak CV saya aja tuh.

Kita ga usah bicara bagusnya lah ya.

Kalau kita bicara jeleknya, Influence saya yang tinggi ini membuat saya nggak tegaan. Anti-konflik. Maunya kalau bisa semua orang nggak usah pernah merasakan susah dan sengsara. Kalau saya melihat mereka yang dalam team saya gusar dan gelisah, saya nggak tahan untuk tarik kursi dan duduk bertanya, “Kamu kenapa? Apa yang bisa saya bantu?”

Mungkin sekilas terlihat baik dan mengayomi.

Tapi jika kita mau membangun orang dan membangun team, terlalu banyak berlaku seperti ini justru akan merugikan mereka.

Bertahun lalu saya sedang bercerita tentang masalah besar yang sedang dialami oleh seorang team saya kepada salah satu mentor saya.

Masalah ini rumit, multi-dimensi. Saya tahu ini orang lagi mumet kepalanya mikirin ini.

Saya dan si mentor sudah berdiskusi dan sudah tau sebetulnya apa yang harus dilakukan. Kata-kata penguatan apa yang bisa saya ucapkan, pilihan-pilihan yang bisa dia lakukan, dan tuntunan tangan apa yang bisa saya berikan.

“Gua WA dia kali ya?”

Si mentor diam, lalu menggelengkan kepalanya.

“Sometimes, you have to let people fight their own battles.”

Saya seperti tersadar, bahwa kata-kata ini, benar adanya.

Setiap harinya, di dalam kepala kita ini adalah lapangan peperangan.

Peperangan antara pilihan-pilihan, antara perasaan-perasaan, antara nilai-nilai.

Bukan hanya peperangan sesederhana good versus evil. Tapi mungkin 3 pasukan good, 2 pasukan abu-abu, 6 pasukan evil? Atau 1 good, 7 abu-abu, 2 evil? Atau mungkin, 24 abu-abu?

Entahlah, pokoknya carut-marut dan rusuh di dalam sana.

Kedewasaan, kematangan, dan ketangguhan seseorang, lahir dari kemampuannya berperang dengan baik di dalam kepalanya.

Seringkali, apakah kita menang atau kalah, sebetulnya tidak penting.

Karena kalau kita masih manusia normal, tentunya kita dengan sendirinya mau lebih sering menang, tul gak?

Yang paling penting, seperti pepatah yang sering kita dengar, adalah bagaimana cara kita memenangkan peperangan tersebut.

Apakah kita mau kita lebih sering menang karena ada mereka yang selalu menolong kita? Karena kursi yang ditarik-tarik tadi?

Atau kita mau kita lebih sering menang karena kita memang lebih sering beradu pedang, mengangkat perisai, lalu menghunus tombak ke ulu hati si pilihan/pikiran/nilai buruk tadi?

Kalau kamu mau hasil yang cepat dan tidak perlu merasakan pahitnya kekalahan, kamu bisa pilih pilihan pertama.

Tapi hanya pilihan kedua akan membuat kamu tangguh, perkasa dan jago berperang, optimis akan menang, dan siap setiap saat tanpa harus mencari-cari mana itu kursi.

Kamu akan belajar, ketika kamu duduk diam, berpikir keras melawan pikiran-pikiran buruk rupa, prasangka-prasangka berkabut, ego-ego yang menjulang dan jurang-jurang yang dalam, di situlah ternyata kamu bertumbuh.

Ketika kamu menimbang yang terbaik dari 10 pilihan jalan keluar, dan dengan susah-payah memilih solusi yang paling tidak merusak, dan mempersiapkan diri untuk berbicara keras kepada mereka yang harus ditegur, di situlah kamu dibentuk.

Ketika kamu merasa dipermalukan, kamu merasa putus asa, kamu merasa menabrak tembok yang tidak tumbang-tumbang, atau merasa sesak napas karena tekanan, di situlah kamu belajar untuk mengangkat diri kamu sendiri.

Jika kamu mendengar dentingan logam beradu bertubi-tubi di kepala kamu, itulah bunyi yang harusnya kamu cari.

The victory is always nice, but only the endless battles will make you stronger.

Beberapa waktu lalu, sedang banyak gejolak di kantor. Bukan gejolak yang aneh-aneh, tapi gejolak karena pertumbuhan, yang selalu masuk dalam kategori gejolak yang baik. Setiap pertumbuhan pasti akan menimbulkan gesekan dan ketidak-nyamanan.

Bukan hanya para team dan rekan kerja. Saya pun kena. Saya nggak bisa cerita banyak di sini lah ya karena yang baca blog ini banyak, hehehe…

Tapi laksana film-film Lord Of The Rings, dari atas bukit saya melihat pasukan saya sedang berperang di bawah sana. Kelelahan, berpeluh keringat, berlumuran darah. Tang-ting-tang-ting-tang-ting saya dengar bunyi pedang beradu.

Ketika melihat ke depan saya, ternyata saya juga lagi perang. Saya juga ternyata lagi berpeluh dan berlumuran darah. Saya juga lagi mengayunkan pedang dan perisai saya. Tang-ting-tang-ting-tang-ting.

Ingin rasanya saya meletakkan senjata saya dan berkata, “Saya nyerah deh.” Lalu turun bukit dan ikutan membantu mereka.

Tapi saya lalu ingat, peperangan ini bukan tentang saya.

Saya ingin perangnya berhenti bukan karena itu yang terbaik buat mereka, bukan.

Saya ingin perangnya berhenti ternyata karena sayanya yang nggak tahan melihat keringat dan darah.

Ini dua hal yang ga ada hubungannya.

Kemarin saya nonton ulang Remember The Titans, salah satu film favorit saya yang dimainkan oleh salah satu aktor favorit saya juga, Denzel Washington. It’s a powerful film, go watch it.

Ada kutipan yang bagus banget ketika Denzel menegur salah satu pelatih yang terlalu baik kepada anak-anak yang mereka latih.

“The world don’t give a damn about how sensitive these kids are. You’re not doing them a favor by patronizing them. You’re crippling them. You’re cripping them for life.”

(“Dunia tidak peduli tentang betapa sensitifnya anak-anak ini. Kamu tidak menolong mereka dengan menganggap mereka seperti anak kecil. Kamu melumpuhkan mereka. Kamu melumpuhkan seumur hidup mereka.”)

Semoga kita semua yang sedang jadi pemimpin, bisa ingat ini.

Dan semoga semua yang sedang merasa pemimpinnya tidak peduli, mungkin saja, pemimpin kamu sedang membiarkan kamu berperang.

Dia sudah siap akan kemungkinkan kamu kalah, karena mungkin buat dia yang lebih penting dari kemenangan adalah kamu yang semakin kuat, kokoh dan dewasa.

Mungkin dia juga berpikir sama seperti saya.

Sometimes, you have to let people fight their own battles.

Tang ting tang ting tang ting.

Menikmati tulisan ini? Dengan berlangganan, kamu akan dapat notifikasi jika ada tulisan-tulisan baru.

5 thoughts on “Biarkan Mereka Berperang

  1. Setuju banget nih Koh sama artikelnya. Kadang membiarkan anak2 utk membereskan masalahnya sendiri malah lebih baik. Selain mereka bisa belajar tanggung jawab juga kita bisa memikirkan hal yg lebih besar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *